Ambisi JD Vance Jadi Capres pada 2028 Kian Kandas, Ini 3 Alasannya

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Senin, 09 November 2026 - 03:30 WIB
Ambisi JD Vance Jadi Capres pada 2028 Kian Kandas, Ini 3 Alasannya
Ambisi JD Vance jadi capres pada 2028 kian suram. Foto/X
A
A
A
WASHINGTON - Kekalahan telak Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu telah mempersulit ambisi politik Wakil Presiden JD Vance. Hal ini membuat para donatur berpengaruh dan sejumlah sekutunya mempertanyakan apakah ia sebaiknya mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028/

The Wall Street Journal memuat laporan tersebut pada hari Sabtu, dengan mengutip enam orang yang dekat dengan Vance yang menyatakan bahwa ia belum memutuskan apakah akan maju dalam pemilihan. Kepada rekan-rekannya, baik sebelum maupun sesudah pemilu, Vance mengaku masih belum menentukan sikap.

Beberapa sekutu bahkan berpendapat bahwa tidak ada kandidat dari Partai Republik yang secara realistis dapat memenangkan kursi kepresidenan dalam dua tahun ke depan.

Ambisi JD Vance Jadi Capres Partai Republik pada 2028 Kian Kandas, Ini 3 Alasannya

1. Ditinggal para Donor Besar

Kekalahan pada hari Selasa menyebabkan Partai Demokrat merebut tujuh kursi Senat yang sebelumnya dikuasai Partai Republik—termasuk kursi yang pernah diduduki Vance di Ohio—serta memenangkan kembali jabatan gubernur di negara bagian yang secara tradisional merupakan basis Partai Republik, seperti Georgia dan Texas. Hasil ini memicu pertanyaan mengenai kekuatan elektoral koalisi Trump.

Menurut surat kabar tersebut, dalam waktu 24 jam setelah pemilu, seorang penggalang dana senior di New York mulai menerima telepon dari para donatur kaya Partai Republik yang menyatakan bahwa mereka tidak dapat mendukung Vance pada 2028. Beberapa di antaranya justru melirik Gubernur Florida Ron DeSantis dan kandidat potensial lainnya. Mereka khawatir bahwa sosok yang muncul dari dalam pemerintahan akan terlalu erat dikaitkan dengan Trump, serta secara politik melemah akibat kekalahan dalam pemilihan paruh waktu ini.

2. Kekalahan Perang Iran

Vance berupaya menjelaskan kekalahan Partai Republik dengan menunjuk pada perang melawan Iran.

Dalam sebuah esai panjang di media sosial minggu ini, ia menyalahkan agresi tersebut sebagai penyebab buruknya performa partai, seraya berargumen bahwa Partai Republik perlu meninjau kembali hubungan mereka dengan rezim Israel.

Kekhawatirannya mengenai konsekuensi perang tersebut bahkan telah muncul sebelum agresi itu sendiri terjadi. Pada bulan Januari, saat Trump mempertimbangkan serangan militer besar-besaran, Vance secara pribadi mendesaknya untuk terus menempuh jalur diplomasi. Vance juga menugaskan survei melalui Rasmussen Reports, sebuah perusahaan jajak pendapat asal Amerika, untuk mengukur sikap publik terhadap kemungkinan terjadinya perang.

Survei tersebut menunjukkan bahwa 44 persen responden mendukung perang, sementara 43 persen menentangnya. Selain itu, 62 persen responden menyatakan bahwa jumlah korban jiwa dari pihak Amerika yang dianggap dapat diterima adalah kurang dari 100 orang, dan 65 persen berpendapat bahwa Trump seharusnya mendapatkan persetujuan dari Kongres sebelum memerintahkan serangan.

Trump mengakui bahwa perang tersebut berkontribusi pada kekalahan Partai Republik, namun ia tetap membela keputusannya dengan mengatakan, "Saya melakukan hal yang benar. Saya akan melakukannya lagi."

3. Ekonomi AS yang Merosot

Bahkan DeSantis pun mengkritik dampak ekonomi dari agresi tersebut. Ia menyatakan, "Harga bensin menjadi lebih mahal. Hal ini merugikan masyarakat, khususnya kelas pekerja... Itu adalah fakta." Pernyataan ini merujuk pada konsekuensi dari tindakan Iran yang menutup Selat Hormuz—sebuah jalur perairan strategis—sebagai bentuk pembalasan, yang kemudian memicu guncangan di pasar global.

Selain itu, perang tersebut mendorong Republik Islam Iran untuk melancarkan setidaknya 100 gelombang serangan balasan yang destruktif. Serangan ini menyasar infrastruktur militer penting Amerika di kawasan tersebut, termasuk pangkalan udara terbesar AS di Qatar serta pusat logistik regional AS di Bahrain.

Sementara itu, Vance dikabarkan telah mempertimbangkan kemungkinan DeSantis menjadi penantangnya dalam pemilihan pendahuluan (primary) Partai Republik. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai perlunya menjaga jarak dari perang tersebut beserta dampak ekonominya.

Beberapa orang kepercayaan Vance menyarankan agar ia kembali ke Ohio untuk mencalonkan diri kembali sebagai senator—posisi yang pernah ia jabat—atau maju sebagai gubernur. Menurut pihak-pihak yang dekat dengannya, Vance menolak kedua usulan tersebut.

Meskipun demikian, Vance tetap memiliki elektabilitas yang kuat dalam menghadapi potensi penantang dari Partai Republik, serta mendapat dukungan dari tokoh-tokoh berpengaruh di partai tersebut, termasuk Donald Trump Jr. Sebagai ketua bidang keuangan di Komite Nasional Partai Republik (Republican National Committee), ia juga terus menjalin komunikasi rutin dengan para donatur utama.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Ambisi JD Vance Jadi Capres pada 2028 Kian Kandas, Ini 3 Alasannya
International
Senin, 09 November 2026 - 03:30 WIB
Trump Makin Melemah, Iran Memanfaatkan Momentum untuk Akhiri Perang
International
Minggu, 08 November 2026 - 20:20 WIB
Partai-partai Arab Akan Jadi Bagian Penting dalam Pemerintahan Israel
International
Minggu, 08 November 2026 - 19:25 WIB
2 Rudal Houthi Menarget Menara Aramco di Riyadh
International
Minggu, 08 November 2026 - 18:08 WIB
Meski Perundingan Segera Digelar, Putin Terus Melumpuhkan Ekonomi Ukraina
International
Minggu, 08 November 2026 - 17:30 WIB