Perilaku playing victim dapat merusak hubungan sosial dan menimbulkan kezaliman, karena itu, setiap Muslim perlu membiasakan introspeksi diri, berani mengakui kesalahan. Foto ilustrasi/ist
Perilaku
playing victimatau gemar memosisikan diri sebagai korban sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Orang dengan perilaku ini cenderung merasa dirinya selalu dirugikan, tidak pernah bersalah, dan kerap menyalahkan orang lain atas persoalan yang terjadi.
Dalam psikologi, playing victim dikenal sebagai perilaku ketika seseorang menempatkan dirinya seolah-olah menjadi korban dalam berbagai situasi. Sikap tersebut terkadang digunakan untuk menghindari tanggung jawab, memperoleh simpati, atau memengaruhi orang lain demi kepentingan pribadi.
Dalam perspektif Islam, seorang Muslim diajarkan untuk memiliki akhlak terpuji, bersabar, bersyukur, dan bertawakal kepada Allah SWT. Ketika menghadapi persoalan, umat Islam juga diperintahkan melakukan
introspeksiserta tidak mudah menyalahkan orang lain. Islam memang mengajarkan untuk membela diri ketika dizalimi. Namun, berpura-pura menjadi korban demi menutupi kesalahan sendiri bukanlah akhlak yang dibenarkan.
Lantas, apa saja ciri orang yang suka melakukan playing victim menurut perspektif Islam? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut enam di antaranya.
6 Ciri Orang yang Suka Playing Victim
1. Tidak Mau Mengakui Kesalahan Sendiri
Salah satu ciri orang yang suka playing victim adalah enggan mengakui kesalahan. Ketika menghadapi persoalan, mereka lebih mudah menunjuk orang lain sebagai penyebab masalah daripada melakukan introspeksi diri.
Padahal, Islam mengajarkan setiap Muslim untuk berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Kesalahan seharusnya menjadi bahan evaluasi agar seseorang dapat memperbaiki diri.
Allah SWT berfirman:
مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS At-Taghabun: 11).
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang Mukmin hendaknya menerima ketentuan Allah dengan keimanan dan kesabaran. Bukan menjadikan keadaan sebagai alasan untuk terus-menerus menyalahkan orang lain.
2. Mudah Merasa Disakiti dan Tidak Dihargai
Ciri berikutnya adalah mudah merasa menjadi pihak yang disakiti. Bahkan, dalam persoalan sederhana yang belum tentu merupakan bentuk perlakuan buruk, seseorang bisa merasa dirinya sengaja direndahkan atau tidak dihargai.
Perasaan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi prasangka buruk terhadap orang lain. Jika tidak dikendalikan, hal ini berpotensi merusak hubungan persaudaraan dan persahabatan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا
Artinya: "Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi." (HR Muslim).
Hadis ini mengingatkan umat Islam agar menjaga hubungan baik dengan sesama. Seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam prasangka maupun perasaan negatif, melainkan mengedepankan komunikasi, kesabaran, dan sikap saling memahami.
3. Selalu Merasa Tidak Beruntung
Orang yang gemar bermain korban juga kerap merasa kehidupannya selalu tidak beruntung. Mereka menganggap kesempatan selalu berpihak kepada orang lain, sementara dirinya terus-menerus mendapatkan kesulitan.
Padahal, kehidupan setiap manusia memiliki ujian dan cobaan masing-masing. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak hanya melihat kekurangan, tetapi juga menyadari berbagai nikmat yang telah Allah berikan.
Allah SWT berfirman:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ
Artinya: "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS Ibrahim: 34).
Ayat ini menjadi pengingat agar manusia tidak mudah mengingkari nikmat Allah. Menghadapi kesulitan memang tidak selalu mudah, tetapi membiasakan diri bersyukur dapat membantu seseorang melihat kehidupan secara lebih bijaksana.
4. Mencari Simpati untuk Mendapatkan Keuntungan
Ciri lainnya adalah menjadikan posisi sebagai korban untuk memperoleh perhatian dan simpati orang lain. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan sengaja membangun cerita yang hanya menonjolkan penderitaannya, sementara kesalahan yang dilakukannya disembunyikan.
Perilaku manipulatif seperti ini bertentangan dengan ajaran Islam yang sangat menjunjung tinggi kejujuran.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا
Artinya: "Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan pentingnya kejujuran dalam setiap keadaan. Seorang Muslim tidak sepatutnya memutarbalikkan fakta atau memanfaatkan simpati orang lain untuk membenarkan kesalahannya.
5. Gemar Mengeluh dan Tidak Pernah Merasa Puas
Orang yang memiliki kecenderungan playing victim juga sering memandang kehidupannya sebagai sesuatu yang selalu berat. Mereka lebih banyak mengeluhkan keadaan daripada berusaha mencari jalan keluar.
Sikap ini perlu diwaspadai karena dapat membuat seseorang sulit menerima kenyataan dan kurang menghargai nikmat yang dimilikinya.
Allah SWT berfirman:
وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS Ali Imran: 146).
Kesabaran merupakan salah satu akhlak utama dalam Islam. Ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim dianjurkan untuk tetap berikhtiar, berdoa, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.
6. Tidak Mau Berusaha Memperbaiki Keadaan
Ciri terakhir adalah tidak memiliki kemauan untuk memperbaiki keadaan. Seseorang terus-menerus merasa dirinya menjadi korban, tetapi tidak berusaha melakukan perubahan.
Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara doa, ikhtiar, dan tawakal. Seorang Muslim tidak boleh hanya menyerah pada keadaan tanpa melakukan usaha yang sungguh-sungguh.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS Ar-Ra'd: 11).
Ayat ini mengandung pelajaran bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Seseorang perlu berani mengevaluasi sikap, memperbaiki kekurangan, dan mengambil langkah nyata untuk menghadapi persoalan.
Dengan demikian, tidak sepatutnya seseorang terus-menerus menyalahkan keadaan tanpa berusaha mencari solusi.
Kesimpulan
Islam mengajarkan setiap Muslim untuk menghadapi persoalan hidup dengan kesabaran, rasa syukur, kejujuran, dan tanggung jawab. Merasa menjadi korban ketika benar-benar mengalami kezaliman tentu berbeda dengan berpura-pura menjadi korban untuk menghindari kesalahan.
Perilaku playing victim yang digunakan untuk memanipulasi orang lain dapat merusak hubungan sosial dan menimbulkan kezaliman. Karena itu, setiap Muslim perlu membiasakan introspeksi diri, berani mengakui kesalahan, serta tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk menyalahkan orang lain.
Dengan memperkuat keimanan dan memperbaiki akhlak, seseorang diharapkan mampu menghadapi ujian kehidupan secara lebih dewasa, bijaksana, dan penuh tawakal kepada Allah SWT.
(wid)