Perintahkan 191 Pengikut Puasa sampai Mati agar Bertemu Yesus, Pendeta Ini Divonis Penjara 200 Tahun

img-redaksi Muhaimin
Minggu, 08 November 2026 - 07:22 WIB
Perintahkan 191 Pengikut Puasa sampai Mati agar Bertemu Yesus, Pendeta Ini Divonis Penjara 200 Tahun
Paul Mackenzie, pendeta pemimpin sekte kiamat di Kenya yang perintahkan ratusan pengikutnya puasa sampai mati agar bertemu Yesus. Foto/Anadolu
A
A
A
NAIROBI - Pengadilan di Kenya menjatuhkan hukuman penjara selama 200 tahun kepada Paul Mackenzie, seorang pendeta pemimpin sekte kiamat, atas tuduhan membunuh 191 orang pengikutnya. Seluruh korban, kecuali satu orang, merupakan anak-anak.

Bersama 28 orang lainnya, Mackenzie dinyatakan bersalah atas pembunuhan tersebut karena memerintahkan para pengikut sektenya membuat anak-anak mereka puasa sampai mati agar mereka bisa bertemu Yesus.

Dalam sidang pada Jumat, Hakim Diana Mochache mengatakan Mackenzie memikul tanggung jawab pidana utama karena memerintahkan para pengikutnya berpuasa hingga meninggal dunia. Kasus ini menjadi salah satu tragedi aktivitas sekte paling mematikan di dunia.

"Hukuman ini tepat dan adil untuk mengirimkan pesan yang tidak mungkin disalahartikan bahwa kekejaman semacam ini layak mendapatkan hukuman maksimal yang diizinkan oleh undang-undang," kata hakim tersebut, sebagaimana dikutip BBC, Minggu (8/11/2026).

Pendeta yang mengaku memiliki otoritas keagamaan itu ditangkap pada 2023 setelah lebih dari 400 jenazah ditemukan di kuburan dangkal di Hutan Shakahola, dekat pesisir Kenya. Penyelidikan besar-besaran atas kasus tersebut mengguncang Kenya dan menarik perhatian internasional.

Pengadilan menjatuhkan hukuman 100 tahun penjara kepada Mackenzie atas tindak pidana pembunuhan dan tambahan 100 tahun untuk pelanggaran yang berkaitan dengan praktik membuat orang kelaparan. Kategori hukuman tersebut dijalankan secara berturut-turut sehingga total masa hukumannya mencapai 200 tahun penjara.

Mackenzie juga menghadapi dakwaan terpisah terkait pembunuhan tidak disengaja dan terorisme. Namun, dia tetap membantah seluruh tuduhan tersebut.

Jaksa Tuntut Hukuman Mati



Jaksa penuntut sebelumnya meminta pengadilan menjatuhkan hukuman mati. Mereka berpendapat skala dan kondisi pembunuhan tersebut layak diganjar hukuman paling berat.

Namun, Hakim Mochache menolak menjatuhkan hukuman mati, meskipun menyatakan bahwa kasus tersebut memenuhi ambang batas untuk mempertimbangkan penerapan hukuman tersebut.

"Meski demikian, pengadilan menolak permintaan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada para terdakwa," katanya. Dia menambahkan bahwa hukuman mati akan menghilangkan segala kemungkinan rehabilitasi dan perubahan perilaku para pelaku.

Kenya terakhir kali melaksanakan hukuman mati pada 1987.

Mackenzie diadili bersama 28 kaki tangannya, termasuk para penjaga yang bertugas memastikan perintah puasa dijalankan serta penggali kubur yang membantu menyembunyikan jenazah para korban di kuburan massal.

Mereka menerima hukuman penjara yang bervariasi, dengan masa hukuman maksimal mencapai 160 tahun.

Hakim Mochache menggambarkan pembunuhan tersebut sebagai tindakan yang "dingin dan diperhitungkan". Dia mengatakan para pelaku tidak menunjukkan penyesalan, bahkan menyatakan kesediaan mereka untuk berpuasa sampai mati.

Sebelum sidang dimulai pada Jumat pagi, Francis Wanje, yang kehilangan delapan anggota keluarganya, termasuk dua cucu, di Hutan Shakahola, mengatakan kepada program Newsday BBC bahwa dirinya berharap pengadilan menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan Mackenzie.

"Saya berharap dia mendapatkan hukuman yang sebanding dengan perbuatannya di hutan itu," kata Wanje.

Mackenzie dan para terdakwa lainnya sebelumnya meminta keringanan hukuman kepada pengadilan.

Sebelum dinyatakan bersalah pada 19 Oktober, mereka semua mengaku tidak bersalah dan berulang kali bersikeras bahwa tidak ada seorang pun yang dipaksa untuk meninggal dunia.

Pengikut Percaya Mackenzie sebagai Juru Bicara Yesus



Lebih dari 400 jenazah telah digali dari Hutan Shakahola. Saat membacakan putusan sepanjang delapan jam bulan lalu, Hakim Mochache mengatakan para pengikut Mackenzie percaya bahwa pemimpin sekte tersebut merupakan "juru bicara Yesus".

Orang-orang yang menentang ajaran Mackenzie dipukuli hingga tewas.

Salah satu terdakwa lainnya mengaku bahwa Mackenzie pernah mengatakan kepada para pengikutnya bahwa siapa pun yang "menolak perintah untuk berpuasa harus dipaksa masuk surga melalui tendangan dan pukulan".

Pemakaman di dalam hutan yang menjadi markas sekte tersebut disebut sebagai "pernikahan". Sementara itu, kata hakim, orang-orang yang meninggal dunia dianggap telah "merayakan pernikahan dengan Yesus".

Hakim menyimpulkan bahwa kematian para korban merupakan hasil dari sebuah sistem terorganisasi yang melibatkan ajaran agama dan perintah-perintah yang memaksa para pengikut menjalani praktik puasa mematikan.

Hasil pemeriksaan pascakematian menunjukkan sebagian besar korban meninggal akibat kelaparan. Sementara itu, korban lainnya tewas karena kehabisan napas, dicekik, atau mengalami luka di bagian kepala.

Penyebab kematian sejumlah korban tidak dapat dipastikan karena jenazah mereka telah membusuk. Beberapa korban lainnya meninggal tidak lama setelah diselamatkan karena kondisi tubuh mereka sudah sangat kurus akibat kelaparan.

Tragedi kematian di Shakahola menyoroti lemahnya pengawasan terhadap aktivitas keagamaan yang menyimpang dan bagaimana praktik semacam itu dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa terdeteksi.

Besarnya kasus tersebut mendorong Presiden William Ruto membentuk komisi penyelidikan. Namun, pembentukan komisi itu kemudian dinyatakan inkonstitusional.

Penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya (KNCHR), lembaga yang didanai negara, mengungkapkan bahwa aparat pemerintahan daerah dan penegak hukum berulang kali menutup mata terhadap aktivitas sekte tersebut.

"Kami saat itu berharap polisi segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan anggota-anggota lainnya di sana. Namun, hal itu tidak terjadi," kata Wanje, yang melaporkan kasus tersebut kepada polisi pada Maret 2023.

Wanje mengatakan seorang kerabatnya yang bekerja di kepolisian bersama mantan anggota sekte berhasil menyelamatkan cucunya saat itu. Anak tersebut kemudian menceritakan kepada polisi apa yang telah terjadi dan menunjukkan lokasi makam saudara-saudaranya.

"Seharusnya itu menjadi hari terakhirnya... mereka akan membunuh cucu saya," ujarnya.

Sebelumnya, pemimpin sekte tersebut pernah ditangkap, tetapi kemudian dibebaskan karena kurangnya bukti.

Mendirikan Gereja pada 2003



Mackenzie mendirikan Good News International Ministries pada 2003.

Selama 16 tahun berikutnya, gereja tersebut semakin populer dan menarik ribuan pengikut melalui sejumlah cabangnya yang tersebar di Kenya.

Gereja itu juga mengelola stasiun televisi bernama Times TV yang menyiarkan khotbah-khotbah Mackenzie dari gerejanya di Malindi.

Dalam khotbah-khotbahnya tentang akhir zaman, Mackenzie menyebarkan berbagai teori konspirasi. Dia menggambarkan pendidikan sebagai sesuatu yang "jahat", layanan kesehatan sebagai hal yang "bertentangan dengan doktrin", dan kartu identitas digital sebagai "tanda setan".

Gereja utamanya ditutup pada 2019. Setelah itu, Mackenzie pindah ke Hutan Shakahola dan mengajak para pengikut setianya untuk menyusul.

Meski berakhirnya proses hukum kasus pembunuhan tersebut dapat memberikan rasa keadilan bagi para korban dan keluarga mereka, vonis bersalah itu baru mencakup 191 korban. Padahal, lebih dari 400 jenazah telah digali dari hutan tersebut.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Presiden Mesir Tolak Intervensi Asing dalam Krisis Tigray Ethiopia
International
Minggu, 04 Oktober 2026 - 21:35 WIB