Bahaya Tamak terhadap Dunia, Bisa Menjadi Fitnah yang Membinasakan Manusia

img-redaksi Widaningsih
Sabtu, 07 November 2026 - 15:04 WIB
Bahaya Tamak terhadap Dunia, Bisa Menjadi Fitnah yang Membinasakan Manusia
gemerlap harta, kekayaan, dan berbagai kenikmatan duniawi dapat menjadi fitnah yang melalaikan manusia dari tujuan hidup sesungguhnya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Islam mengingatkan umatnya agar tidak terjebak dalam kecintaan berlebihan terhadap dunia. Sikap tamakdan terlalu mengutamakan kehidupan dunia dibandingkan akhirat merupakan penyakit hati yang harus diwaspadai. Sebab, gemerlap harta, kekayaan, dan berbagai kenikmatan duniawi dapat menjadi fitnahyang melalaikan manusia dari tujuan hidup sesungguhnya.

Al-Qur'an telah memberikan peringatan bahwa orang yang hanya mengejar kehidupan dunia tanpa memperhatikan akhirat terancam mendapatkan kerugian besar. Allah SWT berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا ۝ وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا


Artinya: "Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami tentukan baginya neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik." (QS Al-Isra': 18-19).

Dunia dan Segala Isinya Bisa Melalaikan

Dalam kitab Majalisus Shalihin karya Syaikh Aidh Al-Qarni, disebutkan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa dunia dan segala isinya merupakan sesuatu yang tercela, kecuali hal-hal yang mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Di antaranya adalah berzikir kepada Allah, melakukan ketaatan, serta menuntut ilmu.

Rasulullah SAW juga menggambarkan betapa rendahnya nilai dunia di sisi Allah. Seandainya dunia memiliki nilai sebesar sayap nyamuk, niscaya orang kafir tidak akan diberi kesempatan menikmati seteguk air pun darinya.

Salah satu bahaya terbesar dari kecintaan terhadap dunia adalah munculnya rasa tidak pernah puas. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar pula keinginan untuk menambah kekayaan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Seandainya manusia memiliki satu lembah harta, sungguh dia akan berambisi memiliki lembah yang kedua. Dan seandainya dia memiliki dua lembah harta, sungguh dia akan berambisi memiliki lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut manusia selain tanah (kematian)." (HR Ahmad dan Ath-Thabrani).

Hadis tersebut menggambarkan tabiat manusia yang mudah terjebak dalam ketamakan. Harta yang semula dicari untuk memenuhi kebutuhan hidup justru bisa berubah menjadi sumber keserakahan apabila tidak disertai rasa syukur dan pengendalian diri.

Allah SWT juga menegaskan bahwa harta dan anak merupakan ujian bagi manusia.

Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


Artinya: "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS At-Taghabun: 15).

Terlalu Mencintai Dunia yang Berbahaya

Tertarik terhadap kekayaan dan kenikmatan dunia merupakan sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya atau menikmati kehidupan dunia, selama semuanya diperoleh melalui jalan yang halal dan tidak melanggar ketentuan syariat.

Persoalan muncul ketika seseorang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat. Bahkan, demi mengejar kekayaan, seseorang rela mengorbankan prinsip agama, mengabaikan kewajiban, dan melakukan berbagai tindakan yang dilarang Allah SWT.

Rasulullah SAW sangat mengkhawatirkan kondisi umatnya ketika kekayaan dunia terbentang luas di hadapan mereka. Kekhawatiran tersebut pernah disampaikan Rasulullah ketika Abu Ubaidah bin Al-Jarrah RA datang dari Bahrain membawa harta jizyah dalam jumlah besar untuk kaum Muslimin.

Kabar kedatangan harta tersebut membuat banyak sahabat menghadiri salat Subuh bersama Rasulullah SAW. Setelah salat, beliau melihat para sahabat yang menanti kabar tersebut, kemudian tersenyum dan bersabda bahwa Abu Ubaidah telah datang membawa harta dari Bahrain. Para sahabat pun membenarkannya.

Rasulullah SAW kemudian memberikan peringatan yang sangat penting:

"Terimalah kabar gembira itu dan berharaplah terhadap apa yang akan menyenangkan kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi, yang aku khawatirkan adalah ketika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya, lalu dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka." (HR Bukhari).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kekayaan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Namun, manusia perlu berhati-hati agar kelimpahan harta tidak membuatnya terlena, saling bersaing secara tidak sehat, hingga melupakan Allah SWT.

Tamak terhadap Dunia Bisa Membinasakan di Akhirat

Para ulama menjelaskan bahwa Allah menjadikan harta sebagai ujian untuk memperlihatkan siapa di antara hamba-Nya yang tetap taat dan siapa yang justru mengikuti hawa nafsu karena tergoda kenikmatan dunia.

Orang yang mampu melewati ujian tersebut dengan keimanan dan ketakwaan akan mendapatkan balasan kebaikan di akhirat. Sebaliknya, mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama hingga mengabaikan akhirat terancam mendapatkan azab.

Allah SWT berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ۝ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


Artinya: "Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat, kecuali neraka. Lenyaplah apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS Hud: 15-16).

Terlalu mengutamakan dunia juga dapat membutakan mata hati. Seseorang bisa kehilangan rasa kepedulian terhadap sesama, mudah iri, berbuat zalim, bahkan menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan.

Tidak sedikit kejahatan seperti korupsi, penipuan, perampokan, hingga pembunuhan yang berawal dari keserakahan manusia terhadap harta dan kekuasaan.

Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan. Seorang Muslim harus senantiasa mengutamakan bekal akhirat melalui amal saleh dan ketaatan kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ


Artinya: "Ya Allah, tidak ada kehidupan (yang hakiki) selain kehidupan akhirat." (Muttafaq 'Alaih).

Hadis ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan dan setinggi apa pun kedudukan yang diraih, semuanya akan ditinggalkan.

Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk mencari harta secara halal, bersyukur atas rezeki yang diperoleh, serta tidak membiarkan kecintaan terhadap dunia mengalahkan kepentingan akhirat. Sebab, kehidupan yang kekal dan sesungguhnya adalah kehidupan di akhirat.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Tamak, Penyebab Kerusakan Moral dan Petaka Kehidupan Masyarakat
Kalam
Sabtu, 07 November 2026 - 05:15 WIB
Bughat Boleh Diperangi, tetapi Ada 3 Syarat yang Harus Dipenuhi
Kalam
Jum'at, 06 November 2026 - 19:40 WIB