Ciri Cinta Dunia : Tamak pada Kedudukan dan Rakus pada Kepemimpinan

img-redaksi Widaningsih
Sabtu, 07 November 2026 - 13:08 WIB
Ciri Cinta Dunia : Tamak pada Kedudukan dan Rakus pada Kepemimpinan
Cinta dunia dapat berupa kecintaan terhadap harta kekayaan, kehormatan, dan kedudukan. Keinginan tersebut menjadi berbahaya ketika disertai ketamakan. foto ilustrasi/ist
A
A
A
Cinta dunia dan lebih mengutamakannya daripada akhirat termasuk penyakit hati yang dapat menyeret seseorang kepada berbagai kesalahan. Bahayanya bukan terletak pada kepemilikan harta atau kenikmatan dunia, melainkan pada ketamakandan keinginan berlebihan untuk mengejarnya.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Fiqh Prioritas, Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah (Robbani Press, 1996) menjelaskan, ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara kepentingan dunia dan akhirat, orang yang dikuasai cinta dunia cenderung mengutamakan kepentingan dunia.

"Jika ada kesempatan untuk meraih kepentingan dunia dan akhirat, maka orang itu lebih mengutamakan kepentingan yang pertama daripada kepentingan yang kedua. Dan inilah yang menyebabkan kehancurannya di dunia dan di akhirat kelak," tulis al-Qardhawi.

Menurutnya, cinta dunia dapat berupa kecintaan terhadap harta kekayaan, kehormatan, dan kedudukan. Keinginan tersebut menjadi berbahaya ketika disertai ketamakan hingga seseorang rela mengorbankan nilai-nilai dan prinsip kehidupannya demi mendapatkan apa yang diinginkan.

Akibatnya, agama dan keimanan bisa terkikis karena manusia lebih mementingkan ambisi duniawi.

Rasulullah SAW bahkan menggambarkan betapa dahsyatnya kerusakan akibat ketamakan terhadap harta dan kedudukan melalui sebuah perumpamaan.

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ


Artinya: "Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan kambing tidak lebih merusak daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya." (HR Ahmad dari Ka'ab bin Malik).

Al-Qardhawi menjelaskan, ketamakan memang merupakan bagian dari sifat manusia. Namun, sifat tersebut harus dikendalikan agar tidak berkembang menjadi kerakusan yang merusak.

Ketika keinginan duniawi tidak lagi memiliki batas, seseorang bisa kehilangan kendali atas hawa nafsunya. Dari situlah muncul kesombongan, ambisi berlebihan, dan berbagai perilaku yang dicela agama.

Allah SWT berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ


Artinya: "Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Al-Qashash: 83).

Tamak terhadap Jabatan dan Kepemimpinan

Tanda lain dari cinta dunia adalah ketamakan terhadap kedudukan, kerakusan untuk memperoleh kepemimpinan, serta keinginan untuk selalu menonjolkan diri. Padahal, ambisi mengejar jabatan dapat menjadi sumber kehancuran apabila tidak dilandasi niat dan tanggung jawab yang benar.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan umatnya agar tidak terjebak dalam ambisi terhadap kepemimpinan. Dalam sebuah hadis disebutkan:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ


Artinya: "Sesungguhnya kalian kelak akan berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kepemimpinan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Maka, sebaik-baik penyusu adalah ia, tetapi seburuk-buruk penyapih adalah ia." (HR Bukhari dan an-Nasa'i dari Abu Hurairah RA).

Al-Qardhawi menjelaskan, Rasulullah SAW mengumpamakan kepemimpinan seperti seorang ibu yang menyusui karena jabatan dapat mendatangkan manfaat dan kenikmatan bagi orang yang memegangnya.

Namun, ketika masa jabatan berakhir, baik karena meninggal dunia maupun dicopot dari kedudukannya, kenikmatan tersebut akan hilang. Sementara itu, tanggung jawab dan konsekuensi atas kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Karena itu, orang yang berakal tidak semestinya terlalu berambisi mengejar kenikmatan dunia yang hanya sementara, terlebih jika ambisi tersebut justru mendatangkan kerugian di akhirat.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Tamak, Penyebab Kerusakan Moral dan Petaka Kehidupan Masyarakat
Kalam
Sabtu, 07 November 2026 - 05:15 WIB
Bughat Boleh Diperangi, tetapi Ada 3 Syarat yang Harus Dipenuhi
Kalam
Jum'at, 06 November 2026 - 19:40 WIB