Presiden AS Donald Trump klaim banyak kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Foto/X
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington telah mencapai "banyak kemajuan" dengan Iran dan Teheran menginginkan kesepakatan. Ia juga mengeklaim pasukan Amerika baru-baru ini menghancurkan sistem pertahanan udara Iran.
Saat berbicara kepada para wartawan pada hari Jumat, Trump mengatakan, "Kami sedang berurusan dengan mereka sekarang. Mereka ingin membuat kesepakatan."
"Kami telah mencapai banyak kemajuan dengan Iran," tambahnya, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.
Trump juga menolak menyebut konfrontasi tersebut sebagai perang, seraya mengatakan AS telah menerapkan apa yang ia sebut sebagai "blokade terbesar dalam sejarah militer" terhadap Teheran.
"Kami tidak sedang berperang," ujarnya, seraya membandingkan situasi tersebut dengan perang antara Rusia dan Ukraina, serta mengeklaim tidak ada personel AS yang tewas dalam tujuh bulan terakhir.
Namun, Trump mengakui pasukan AS telah melakukan apa yang ia gambarkan sebagai serangan kecil terhadap peralatan militer Iran.
"Mereka membangun perangkat anti-pesawat, dan kami melumpuhkannya dalam waktu sekitar 15 menit, mungkin lima menit," katanya, tanpa merinci kapan atau di mana serangan itu terjadi.
Trump juga mengeklaim angkatan laut Iran telah dihancurkan dan negara tersebut sedang mengalami inflasi sebesar 300 persen.
Program Rewards for Justice (Imbalan untuk Keadilan) milik Departemen Luar Negeri AS menawarkan imbalan hingga USD20 juta serta kemungkinan relokasi bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai program nuklir Iran, termasuk fasilitas, peralatan, dan personel yang terlibat di dalamnya.
"Pada tahun 2025, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) melaporkan Iran memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen—tahapan teknis yang sangat dekat dengan tingkat 90 persen yang diperlukan untuk membuat senjata nuklir," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Pernyataan itu menambahkan Iran adalah "satu-satunya negara non-pemilik senjata nuklir yang memproduksi uranium dengan tingkat pengayaan setinggi itu," dengan para ahli memperkirakan jumlah tersebut "bisa cukup untuk membuat beberapa senjata nuklir" jika diperkaya lebih lanjut.
Pernyataan tersebut juga menyoroti kurangnya kepatuhan rezim Iran terhadap kewajiban pengawasan IAEA telah menyebabkan badan tersebut kehilangan "kesinambungan pengetahuan" mengenai produksi dan inventaris komponen-komponen kunci Iran, termasuk sentrifugal.
(sya)