Serangan ancaman bom melanda Eropa. Foto/X/@Michael34952
LONDON - Penerbangan di seluruh Eropa dialihkan, ditahan di darat, dan dikawal oleh jet tempur sebagai respons terhadap gelombang ancaman bom. Ini merupakan kejadian kedua dalam kurun waktu kurang dari seminggu di mana terjadi serangkaian peringatan palsu berskala besar.
Pada hari Kamis, pesawat-pesawat yang berangkat dari 16 negara—termasuk Irlandia, Inggris, Spanyol, dan Denmark—terkena dampaknya. Penerbangan terpaksa dialihkan ke lokasi lain atau harus menjalani pemeriksaan keamanan tambahan. Ancaman tersebut berlanjut hingga hari Jumat.
Otoritas di beberapa negara telah mengerahkan tim penjinak bom dan jet tempur militer. Sejauh ini, pemeriksaan keamanan menyusul ancaman tersebut tidak menemukan bukti adanya bahan peledak atau benda mencurigakan di dalam pesawat, dan tidak ada penumpang yang dilaporkan mengalami cedera.
Gelombang Ancaman Bom Melanda Eropa, Siapa Dalangnya?
1. 17 Penerbangan Terganggu
Pada hari Jumat, setidaknya 17 penerbangan telah terganggu hingga tengah hari waktu GMT.
Hungaria menyatakan telah mengerahkan jet tempur sebanyak tiga kali untuk mengawal pesawat yang melintasi wilayah udaranya menyusul peringatan bom yang diterima pihak berwenang. Salah satunya melibatkan penerbangan WizzAir dari Brussel menuju Sofia, Bulgaria, serta penerbangan dari Praha menuju Bukares dan Siprus.
Kementerian Transportasi Bulgaria menyampaikan kepada AFP bahwa mereka telah menerima peringatan terkait dua penerbangan yang menuju Sofia. Bandara Praha mengonfirmasi kepada media bahwa sembilan penerbangan terdampak oleh ancaman bom pada Jumat pagi.
Sebuah penerbangan Ryanair mendarat di Lisbon, Portugal, pada pukul 8 pagi setelah pihak berwenang menerima ancaman bom melalui telepon, menurut laporan media Italia. Operasi keamanan segera dilakukan begitu pesawat tersebut mendarat.
Secara terpisah, menara kontrol di Fiumicino, Italia, menerima peringatan mengenai adanya suatu benda di dalam pesawat Wizzair yang terbang dari Paris menuju Roma. Penerbangan Wizzair tersebut dialihkan ke Venesia, tempat polisi kemudian mensterilkan area di sekitar pesawat.
Pada Jumat pagi, kepolisian di Kopenhagen, Denmark, menyatakan bahwa pemeriksaan keamanan di bandara tersebut tidak menemukan "bahaya apa pun bagi penumpang".
Pada hari Kamis, terjadi sejumlah ancaman, antara lain:
Di Polandia, pihak berwenang menerima peringatan mengenai benda yang berpotensi berbahaya di dalam pesawat Polish Airlines yang sedang melaju di landasan pacu Bandara Chopin Warsawa. Penerbangan menuju Paris itu dicegah untuk lepas landas dan para penumpang diminta turun; namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas keamanan, tidak ditemukan benda berbahaya apa pun di dalam pesawat, ungkap juru bicara maskapai kepada media setempat.
Di Warsawa, sebuah penerbangan maskapai LOT tujuan Paris juga dihentikan, dan para penumpang dipindahkan ke pesawat lain.
Sebuah penerbangan LOT dari London Heathrow menuju Bandara Chopin Warsawa terpaksa mendarat di bandara lain di ibu kota Polandia tersebut, yakni Bandara Modlin Warsawa, menyusul adanya ancaman. Tidak ditemukan apa pun di dalam pesawat.
Angkatan Udara Italia mengawal sebuah pesawat Finnair menuju Roma setelah sebuah surel berisi ancaman bom dikirimkan oleh pihak anonim kepada Aeroporti di Roma (ADR) dan perusahaan-perusahaan lain di Fiumicino. Pesawat tersebut mendarat dengan selamat.
Di Bulgaria, sebuah penerbangan Ryanair dari London menuju Sofia dialihkan untuk melakukan pendaratan darurat di Plovdiv—kota terbesar kedua di negara tersebut—menyusul adanya ancaman bom.
Dalam kurun waktu hanya 20 menit, pihak berwenang Spanyol melaporkan telah menerima tiga surel ancaman bom yang menyasar dua penerbangan Air Europa dari Madrid menuju Paris serta empat penerbangan Iberia yang menuju Spanyol dari Roma dan Milan, menurut keterangan Guardia Civil Spanyol.
Sebuah penerbangan dari Cork, Irlandia, mengalami penundaan selama 90 menit setelah pihak bandara menerima sebuah ancaman, ungkap operator bandara tersebut. Sebuah penerbangan Ryanair dari Pescara, Italia, menuju Charleroi, Belgia, mengalami insiden ancaman bom palsu, lapor kantor berita negara Ansa. Media lokal di Belgia melaporkan bahwa protokol keamanan diaktifkan setelah ditemukan tulisan kata "bom" di salah satu toilet pesawat.
2. Ada Prosedur yang Harus Diikuti
Menurut Joji Waites, direktur keselamatan penerbangan, kebijakan, dan regulasi di BALPA (Asosiasi Pilot Maskapai Penerbangan Inggris), ketika sebuah maskapai menerima informasi mengenai ancaman terhadap pesawat, laporan tersebut akan diteruskan kepada tim penilai.
"Tim penilai ini menggunakan prosedur standar untuk mengevaluasi ancaman tersebut dan menentukan kategorinya: merah (kredibel), kuning (sebagian kredibel), atau hijau (tidak kredibel). Kategori kuning dianggap tidak tepat jika pesawat sedang dalam penerbangan," ujar Waites.
Seorang pejabat bandara menjelaskan bahwa setelah ancaman diterima, pesawat akan diarahkan ke area yang jauh dari bangunan bandara. Penumpang kemudian diturunkan dan diperiksa, sementara polisi perbatasan bersama anjing pelacak melakukan pemeriksaan terhadap pesawat tersebut.
3. Serangan Berturut-turut ke Eropa
Insiden-insiden ini menyusul serangkaian ancaman bom palsu yang terjadi awal pekan ini. Pada hari Senin, sebuah penerbangan dari Inggris menuju Bulgaria dialihkan setelah menerima ancaman yang ternyata tidak terbukti kebenarannya. Pada hari Selasa, tujuh pesawat di berbagai wilayah Eropa diperiksa atau dialihkan rutenya akibat peringatan ancaman bom palsu yang sengaja disebarkan.
Selain itu, pekan ini juga terjadi serangan siber terhadap sejumlah supermarket di beberapa kota di Eropa, di mana peretas mengubah suhu pada sistem pendingin—sebuah tindakan yang diduga bertujuan untuk merusak bahan makanan.
Seberapa tidak lazimkah kejadian ini? Philip Baum, seorang profesor tamu bidang keamanan penerbangan di Coventry University, mengatakan bahwa skala dan sifat terkoordinasi dari insiden-insiden terbaru ini tergolong tidak biasa.
"Memang ada maskapai penerbangan tertentu yang menerima ancaman bom setiap hari, namun sebagian besar ancaman tersebut dapat segera dievaluasi dan dinyatakan tidak spesifik, sehingga pesawat tidak perlu dialihkan," ujar Baum.
Menurutnya, hal yang membedakan insiden-insiden terkini adalah otoritas di beberapa negara Eropa menganggap ancaman tersebut cukup kredibel, hingga mengharuskan pesawat untuk mendarat dan menjalani pemeriksaan keamanan. Baum mencatat bahwa setiap gangguan penerbangan dapat merugikan maskapai hingga 250.000 dolar AS.
Pemerintah Inggris menyebut gangguan terbaru ini sebagai "ancaman hoaks yang berniat jahat". Bandara Heathrow di London, bandara tersibuk untuk lalu lintas penumpang di Eropa, juga turut menjadi sasaran. Meskipun memiliki salah satu sistem keamanan penerbangan paling tangguh di dunia, negara-negara terkait tetap harus menanggapi ancaman ini dengan serius dan mencari cara untuk mencegah pihak mana pun menimbulkan gangguan lebih lanjut terhadap perjalanan udara di seluruh Eropa.
4. Rusia Disebut sebagai Dalangnya
Komisaris Transportasi Eropa menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan siapa yang berada di balik serangan-serangan ini, atau apakah insiden-insiden tersebut saling berkaitan.
Sejauh ini, pemerintah negara-negara Eropa belum menuding pihak mana pun. Namun, negara-negara yang mendukung Ukraina tetap waspada terhadap kemungkinan adanya "serangan hibrida". Jerman secara langsung menunjuk Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden penyusupan pesawat nirawak (drone) baru-baru ini di Bandara Leipzig-Halle. Moskow telah membantah tuduhan tersebut.
Para pejabat Uni Eropa menyadari kemungkinan bahwa Rusia dapat meningkatkan kampanye hibridanya. Pada bulan September, Badan Intelijen Pertahanan Denmark telah memperingatkan bahwa hal ini mungkin terjadi sebagai upaya untuk menekan pihak-pihak lawan di Barat maupun NATO.
Kendati demikian, Moskow membantah terlibat dalam ancaman terhadap penerbangan di Eropa, dan hingga saat ini tidak ditemukan bukti yang menunjukkan keterlibatan Rusia, Iran, ataupun kelompok proksi yang berafiliasi dengan mereka.
(ahm)