Tucker Carlson sebagai politikus yang mengagumi Presiden Vladimir Putin. Foto/X/@deSunShineBand
WASHINGTON - Pemilu paruh waktu tahun 2026 berakhir dengan gelombang besar kemenangan Partai Demokrat yang akan mengubah keseimbangan kekuasaan diWashington, sekaligus berpotensi merombak peta persaingan pemilihan presiden tahun 2028.
Keberhasilan Partai Demokrat di banyak negara bagian yang selama ini menjadi basis Partai Republik (negara bagian "merah") dapat membuka jalan baru untuk meraih 270 suara elektoral dan menyusun ulang strategi untuk memenangkan pemilihan presiden.
Sementara itu, Partai Republik—yang terpukul akibat penolakan pemilih terhadap Presiden Donald Trump—kini dihadapkan pada pilihan: apakah harus membangun kembali koalisi MAGA miliknya atau menempuh arah yang baru.
Belum ada satu pun tokoh dari kedua partai yang secara resmi meluncurkan kampanye pemilihan presiden, meskipun hal itu bisa terjadi lebih cepat dari yang Anda bayangkan.
17 Kandidat Capres AS pada Pemilu 2028, Nomor Terakhir Adalah Pengagum Putin
1. Josh Shapiro
Melansir CNN, tidak ada tokoh yang lebih puas dengan hasil pemilu paruh waktu ini selain Gubernur Pennsylvania tersebut. Ia memenangkan pemilihan kembali dengan selisih lebih dari 20 poin persentase. Di negara bagiannya, Partai Demokrat berhasil merebut empat kursi di DPR. Ia memiliki rekam jejak kemenangan di negara bagian penentu (swing state) yang krusial. Meski selama ini ia menepis pertanyaan mengenai pencalonan presiden, kini ia tidak akan bisa menghindar lagi.
2. Gavin Newsom
California dan Newsom merespons momen pemilu paruh waktu ini dengan melakukan penataan ulang distrik-distrik pemilihan Kongres di negara bagian tersebut—sebuah langkah yang diambil sebagai tanggapan atas penataan ulang distrik di Texas tahun lalu. Langkah ini, yang memerlukan inisiatif pemungutan suara di tingkat negara bagian, turut membantu Partai Demokrat memperkuat mayoritas mereka di DPR.
Dengan demikian, Newsom bisa dibilang berjasa atas perolehan lima kursi tambahan bagi Partai Demokrat di DPR dalam pemilu paruh waktu ini. Newsom memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan seiring dengan akan berakhirnya masa jabatannya sebagai gubernur. Namun, kiprahnya sebagai gubernur belum usai. Pekan ini, Newsom mengumumkan akan meringankan hukuman mati bagi 548 orang yang berada di daftar tunggu eksekusi mati di California—sebuah langkah yang sangat kontras dengan pandangan Trump.
3. Raphael Warnock
Senator Demokrat lainnya dari Georgia ini juga layak diperhitungkan. Jika jalan baru Partai Demokrat untuk meraih mayoritas bergantung pada pemilih kulit hitam di wilayah Selatan, maka sang pendeta ini memiliki argumen yang kuat.
Selama masa kampanye, Warnock bekerja keras untuk memperluas jangkauan Partai Demokrat, sebuah upaya yang membuahkan hasil. Sebelum pemilihan paruh waktu (midterm), Warnock sempat mengatakan kepada Jake Tapper dari CNN bahwa ia akan mencalonkan diri untuk "jabatan tinggi" pada tahun 2028. Ia tidak merinci apakah yang dimaksud adalah mencalonkan diri kembali sebagai senator atau maju sebagai calon presiden.
4. Pete Buttigieg
Jika Partai Demokrat membutuhkan sosok yang mampu menjembatani basis pendukung lama partai dengan wilayah-wilayah baru yang menjadi medan pertempuran politik di Amerika bagian tengah, maka mantan wali kota South Bend yang kini menjabat sebagai Menteri Transportasi ini bisa menjadi kandidat yang tepat. Hal ini ia tunjukkan melalui kegigihannya berkampanye selama pemilihan paruh waktu, di mana ia mengunjungi 38 negara bagian untuk mendukung berbagai kandidat sekaligus membangun dukungan serta hubungan baik.
5. JB Pritzker
Gubernur Illinois ini memenangkan pemilihan kembali dengan sangat mudah. Lebih dari itu, ia juga menyalurkan kekayaannya melalui investasi strategis dalam berbagai kampanye. Sebagai contoh, ia mengucurkan dana untuk pemilihan gubernur di Texas, saat kandidat dari Partai Demokrat, Gina Hinojosa, sangat membutuhkan dukungan tersebut. Itu adalah langkah yang cerdas.
6. Andy Beshear
Ia adalah gubernur dari Partai Demokrat di negara bagian yang condong ke Partai Republik dan ia pernah memimpin Asosiasi Gubernur Demokrat yang berperan membantu terpilihnya sejumlah kandidat Demokrat baru di Ohio, Iowa, Kansas, dan Texas. Di sisi lain, beberapa anggota Kongres dari Partai Demokrat asal Texas serta para pemimpin kelompok nasional menudingnya kurang berupaya membantu Hinojosa, yang kalah telak dalam hal pendanaan kampanye dibandingkan Gubernur dari Partai Republik, Greg Abbott.
Kentucky menjadi lokasi salah satu kemenangan penting Partai Demokrat dalam perebutan kursi DPR, namun Partai Republik tetap mempertahankan kursi Senat dari negara bagian tersebut. Meski demikian, jika pesan utama yang muncul adalah bahwa kandidat Demokrat moderat mampu meraih kemenangan, maka hal itu menjadi keuntungan bagi Beshear. "Anda tidak bisa melihat segalanya hanya sebagai pertarungan antara kubu merah melawan biru, atau 'kita' melawan 'mereka'," ujarnya kepada Anderson Cooper dari CNN sehari setelah pemilihan umum.
7. Kamala Harris
Mantan wakil presiden ini mungkin tampak seperti sosok dari masa lalu yang lebih menyakitkan bagi Partai Demokrat. Ia kalah dalam pemilihan umum 2024 dan harus mencari cara untuk kembali membangkitkan antusiasme para pemilih dalam pemilihan pendahuluan.
Namun, ia sempat mengambil beberapa langkah cerdas selama pemilihan paruh waktu, seperti melakukan perjalanan ke Mississippi untuk memberikan dukungan kepada Scott Colom, saat peluang kemenangan kandidat tersebut tampak sangat kecil. Ia juga berkampanye di Michigan untuk Abdul El-Sayed, yang sempat kurang mendapat dukungan dari pemilih kulit hitam dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di negara bagian tersebut, meskipun kelompok pemilih ini akhirnya kembali memberikan suara bagi partai tersebut dalam pemilihan umum.
8. Alexandria Ocasio-Cortez
Anggota Kongres dari New York ini memiliki popularitas yang jarang dimiliki oleh tokoh Demokrat lainnya. Ia menjadi magnet utama bagi kelompok progresif dan sempat hadir dalam kampanye kandidat seperti El-Sayed. Di saat yang sama, ia telah melunakkan beberapa pandangannya sebagai seorang sosialis demokrat—sebuah perkembangan penting, mengingat kemenangan kandidat moderat di negara bagian yang cenderung mendukung Partai Republik (red states) adalah faktor utama yang mengantarkan Partai Demokrat meraih mayoritas kursi.
9. Jon Ossoff
Senator Demokrat dari Georgia yang baru saja terpilih kembali ini telah berulang kali menegaskan bahwa ia tidak tertarik untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Namun, sebagai sosok yang merepresentasikan keberhasilan Partai Demokrat di wilayah Selatan, ia tidak akan bisa menghindari spekulasi bahwa—seperti Barack Obama—ia mungkin saja berubah pikiran dan maju dalam pemilihan presiden. Terpilihnya Keisha Lance Bottoms—yang akan menjadi gubernur perempuan kulit hitam pertama di negara ini—berarti jika nantinya terdapat kekosongan kursi Senat di Georgia, posisi tersebut akan diisi oleh seorang anggota Partai Demokrat.
10. Rahm Emanuel
Mantan duta besar, wali kota Chicago, dan kepala staf Gedung Putih di era Barack Obama ini sering muncul di televisi, menyuarakan argumennya untuk platform yang moderat, berfokus pada pendidikan, dan berorientasi pada hasil nyata. Meski mungkin tidak memiliki daya tarik di kalangan pemilih muda atau kemampuan menggalang massa di lapangan seperti kandidat potensial lainnya, ia terus berupaya keras membangun dukungan.
11. JD Vance
Wakil presiden tersebut menulis unggahan panjang di media sosial setelah kekalahan telak Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu. Dalam tulisannya, ia menyebut perang Iran sebagai penyebab utama di balik hasil yang sangat buruk bagi partainya malam itu—sebuah hasil yang tercatat sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah partai tersebut.
Artinya, menurut logikanya sendiri, Vance harus mencari cara untuk mengakhiri perang tanpa membuat Trump merasa tersisih, demi membangun kembali koalisi MAGA yang ia sebut sebagai pemilih "Trump/Vance". Tugas ini akan sangat menantang baginya, meskipun ia tetap dipandang sebagai pewaris politik Trump.
12. Ron DeSantis
Florida menjadi benteng bagi Partai Republik yang tidak tertembus oleh gelombang kekalahan tersebut. DeSantis mengatakan kepada Tapper bahwa kekalahan Partai Republik bisa saja menjadi "peristiwa kepunahan" bagi partai tersebut seandainya bukan karena Florida. Meski selisih suaranya tipis, negara bagian ini tetap memilih senator dan gubernur dari Partai Republik; upaya penataan ulang daerah pemilihan (redistricting) di sana, meskipun tidak sepenuhnya berhasil, setidaknya tidak menjadi bumerang. Seperti Newsom, DeSantis akan kehilangan jabatannya pada bulan Januari, namun ambisinya tetap besar.
13. Marco Rubio
Sebagai Menteri Luar Negeri, ia memang sempat hadir dalam beberapa kampanye bersama Trump, meski tidak sering. Akan terasa agak canggung jika diplomat tertinggi negara tersebut terlibat terlalu jauh dalam politik partisan. Ini juga berarti bahwa meskipun Rubio tetap populer di kalangan Partai Republik, ia tidak akan terlalu terdampak oleh kekalahan dalam pemilihan paruh waktu dibandingkan, misalnya, Vance. Seperti yang dikatakan Trump saat tampil di Kansas, Rubio "menjadi terlalu populer"—diikuti dengan candaan tentang memecatnya. Jika ingin mencalonkan diri, Rubio harus meninggalkan pemerintahan, yang kemungkinan besar juga berarti ia harus memisahkan diri dari Vance.
14. Ted Cruz
Jika Rubio dan DeSantis dikaitkan dengan negara bagian yang mampu bertahan dari gelombang kekalahan tersebut, Cruz justru menjadi sosok yang mewakili negara bagian tempat gelombang itu menghantam dengan keras. Dia sangat aktif dalam rangkaian kampanye, namun banyak kandidat yang ia bantu tidak akan menjabat saat ia mungkin mencalonkan diri sebagai presiden, sehingga mereka tidak bisa membalas dukungannya.
15. Pete Hegseth
Muncul spekulasi bahwa menteri pertahanan ini mungkin menghadapi upaya pemakzulan dalam beberapa minggu ke depan, dan beberapa anggota Partai Republik mungkin akan mendukungnya. Jika perang di Iran—yang tidak populer dan dikaitkan dengannya—menjadi alasan utama Partai Republik kehilangan kendali atas DPR dan Senat, tampaknya sulit bagi Hegseth untuk memiliki masa depan politik yang cerah. Melalui pemungutan suara, rakyat Amerika menunjukkan keinginan mereka akan sosok moderat yang mengedepankan kerja sama. Hegseth perlu mengubah citranya secara total agar bisa memenuhi kriteria tersebut.
16. Sarah Huckabee Sanders
Gubernur Arkansas yang juga mantan sekretaris pers Gedung Putih ini terpilih kembali dengan mudah pada hari Selasa. Ia bisa saja mempertimbangkan untuk maju sebagai kandidat, terutama mengingat ayahnya—yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Arkansas dan kini menjadi duta besar Trump untuk Israel—pernah meraih hasil yang baik dalam kaukus Iowa.
17. Tucker Carlson
Jika saat ini Vance secara terbuka membahas mengenai beban politik yang ditimbulkan oleh perang tersebut bagi Trump dan Partai Republik, maka Carlson telah membicarakannya sejak awal. Ia sempat melontarkan gagasan tentang pencalonan presiden dari pihak ketiga—sebuah ide yang mungkin terdengar mustahil, namun jelas dapat memperlebar keretakan yang kian berkembang di dalam koalisi MAGA. Dia dikenal sebagai politikus AS yang mengagumi Presiden Rusia Vladimir Putin.
(ahm)