Tamak, Penyebab Kerusakan Moral dan Petaka Kehidupan Masyarakat

img-redaksi Widaningsih
Sabtu, 07 November 2026 - 05:15 WIB
Tamak, Penyebab Kerusakan Moral dan Petaka Kehidupan Masyarakat
Sifat tamak atau serakah menjadi salah satu penyakit hati yang dapat memicu berbagai persoalan dalam kehidupan manusia. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Sifat tamak atau serakah menjadi salah satu penyakit hati yang dapat memicu berbagai persoalan dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang dikuasai nafsu untuk terus menumpuk harta dan mengejar kekuasaan, kepentingan orang lain kerap diabaikan. Bahkan, segala cara bisa ditempuh tanpa lagi mempertimbangkan halal dan haram.

Sifat tamak tidak hanya merusak kehidupan pribadi, tetapi juga dapat memicu berbagai kerusakan sosial. Korupsi, perampokan, penipuan, hingga tindakan merampas hak orang lain merupakan sejumlah perilaku yang berakar dari ketamakan.

Mutohharun Jinan, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, menjelaskan bahwa salah satu sumber persoalan dan petaka yang menghantui kehidupan masyarakat maupun bangsa adalah sifat tamak, hasrat berkuasa, serta nafsu memiliki sesuatu secara berlebihan.

Secara sederhana, tamak merupakan sikap rakus terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan tanpa memperhitungkan batas halal dan haram. Sifat ini dapat melahirkan dengki, hasad, permusuhan, serta berbagai perbuatan keji dan mungkar lainnya.

Serakah atau tamak juga menggambarkan keinginan seseorang untuk memperoleh sebanyak mungkin keuntungan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Ironisnya, orang yang tamak biasanya selalu mengharapkan pemberian orang lain, tetapi justru enggan berbagi dan cenderung bersikap kikir.

Orang yang dikuasai ketamakan tidak pernah merasa cukup dengan harta yang dimilikinya. Ia sulit bersyukur kepada Allah SWT karena selalu merasa kekayaannya masih kurang.

Dalam Islam, sifat rakus ini dikenal dengan istilah al-hirshu atau ath-thama'u, yakni sikap tidak pernah merasa cukup sehingga terus berusaha menambah apa yang dimiliki tanpa memedulikan hak-hak orang lain.

Rasulullah Mengingatkan Bahaya Ketamakan

Bahaya sifat tamak telah diperingatkan Rasulullah SAW melalui sebuah hadis yang menggambarkan betapa besarnya ambisi manusia terhadap harta. Beliau bersabda:

"Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya selain tanah (kematian). Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menggambarkan bahwa manusia yang dikuasai nafsu serakah tidak akan pernah puas dengan kekayaan yang dimilikinya. Ketika mendapatkan satu kekayaan, ia akan menginginkan kekayaan lainnya, begitu seterusnya.

Ketamakan memang menjadi salah satu tabiat manusia yang sangat mencintai harta benda. Ketika memiliki kekayaan, seseorang sering kali takut kehilangan sebagian hartanya, tetapi pada saat yang sama terus berambisi untuk menambahnya.

Ibnu Taimiyah juga pernah mengingatkan tentang bahaya ketamakan terhadap harta dan kedudukan. Menurutnya, kerakusan seseorang terhadap kedua hal tersebut dapat merusak agamanya. Bahkan, kerusakannya lebih dahsyat daripada dua serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan kambing.

Sementara itu, Mahatma Gandhi pernah menyampaikan ungkapan terkenal mengenai kerakusan manusia. Bumi mampu mencukupi kebutuhan seluruh manusia, tetapi tidak akan pernah mampu memenuhi kerakusan satu orang manusia.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa ketamakan dapat membuat seseorang lupa beribadah kepada Allah SWT. Demi memenuhi ambisi duniawi, ia bisa berubah menjadi kikir, memeras, bahkan merampas hak orang lain.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Tamak, Penyebab Kerusakan Moral dan Petaka Kehidupan Masyarakat
Kalam
Sabtu, 07 November 2026 - 05:15 WIB
Bughat Boleh Diperangi, tetapi Ada 3 Syarat yang Harus Dipenuhi
Kalam
Jum'at, 06 November 2026 - 19:40 WIB
Apa Hukum Kudeta dalam Islam? Ini Penjelasan Fikih tentang Bughat
Kalam
Jum'at, 06 November 2026 - 05:15 WIB
Hati-hati, Ini 5 Ancaman Allah SWT bagi Orang yang Suka Berkhianat
Kalam
Kamis, 05 November 2026 - 13:15 WIB