Manusia tetap wajib berikhtiar, tetapi tidak boleh melampaui batas dalam mengejar rezeki, setiap orang hendaknya menyadari bahwa rezeki telah ditetapkan Allah SWT sehingga tidak perlu mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. Foto ilustrasi/ist
Pada dasarnya, Islam tidak melarang umatnya mencari
kekayaanmaupun mengejar kedudukan. Harta justru dapat menjadi sarana untuk membantu sesama, mengentaskan kemiskinan, dan meringankan beban orang-orang yang membutuhkan.
Begitu pula kekuasaan. Jika berada di tangan orang yang amanah, kekuasaan dapat digunakan untuk menciptakan aturan yang adil serta melindungi masyarakat kecil yang tertindas secara hukum.
Namun, harta dan
kekuasaanharus diperoleh melalui cara yang benar dan halal. Keduanya juga harus dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, bukan sekadar memenuhi ambisi pribadi. Orang yang tamak justru akan terus menumpuk kekayaan tanpa memedulikan nasib orang-orang di sekitarnya.
Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam mencari nafkah. Dalam sebuah nasihat disebutkan:
"Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan berbaik-baiklah dalam mencari rezeki. Sesungguhnya seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali apa yang telah ditakdirkan baginya."
Pesan tersebut mengajarkan bahwa manusia tetap wajib berikhtiar, tetapi tidak boleh melampaui batas dalam mengejar rezeki. Setiap orang hendaknya menyadari bahwa rezeki telah ditetapkan Allah SWT sehingga tidak perlu mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.
Cara Menghindari Sifat Tamak dalam Kehidupan
Ketamakan terhadap harta dapat membuat manusia berperilaku buas seperti serigala yang terus mengejar mangsanya. Bahkan, seseorang bisa menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan, sekalipun harus merugikan orang lain.
Untuk menghindari penyakit hati tersebut, dirangkum dari berbagai sumber ada beberapa langkah yang dapat dilakukan seorang Muslim.
1. Memohon pertolongan Allah SWT
Senantiasa berdoa agar dijauhkan dari sifat tamak, rakus, dan serakah. Manusia membutuhkan pertolongan Allah agar mampu mengendalikan hawa nafsunya.
2. Membiasakan hidup sederhana
Memenuhi kebutuhan hidup sesuai kemampuan dan tidak memaksakan diri mengejar kemewahan. Sikap sederhana membantu seseorang mengendalikan keinginan yang berlebihan.
3. Tidak mencemaskan masa depan secara berlebihan
Kekhawatiran terhadap kehidupan mendatang terkadang membuat seseorang terus menimbun harta. Padahal, manusia harus tetap berikhtiar sekaligus bertawakal kepada Allah SWT.
4. Membiasakan sifat qana'ah
Qana'ah berarti merasa cukup dan puas terhadap rezeki yang telah dianugerahkan Allah SWT. Sifat ini bukan berarti berhenti berusaha, melainkan tidak membiarkan ambisi kekayaan menguasai hati.
5. Meneladani orang-orang saleh
Mengambil pelajaran dari kehidupan orang-orang mulia yang mampu menjauhi keserakahan dan lebih mengutamakan kepentingan akhirat.
6. Membiasakan sifat wara'
Wara' merupakan sikap berhati-hati dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam mencari dan menggunakan harta. Seorang Muslim hendaknya memastikan rezeki yang diperoleh tidak berasal dari perkara yang haram atau merugikan orang lain.
7. Menumbuhkan empati dan rasa syukur
Membiasakan diri peduli terhadap kehidupan masyarakat kecil serta menyadari bahwa setiap nikmat merupakan karunia Allah SWT yang harus disyukuri.
Allah SWT bahkan menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: "Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat'." (QS Ibrahim: 7).
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa rasa syukur merupakan salah satu kunci keberkahan hidup. Sebaliknya, ketamakan hanya akan membuat manusia terus merasa kekurangan meskipun telah memiliki banyak harta.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya menempatkan harta dan kekuasaan sebagai sarana berbuat kebaikan, bukan tujuan hidup yang membuatnya lupa kepada Allah SWT dan mengabaikan hak sesama manusia.
(wid)