Pengungsi Palestina terkepung banjir di Kota Gaza. Foto/Gaza Municipality
JALUR GAZA - Pertahanan Sipil Gaza pada hari Kamis (5/11/2026) memperingatkan hujan lebat dan angin kencang yang akan datang dapat membahayakan warga Palestina yang mengungsi dan tinggal di tenda-tenda serta tempat penampungan sementara. Selain itu, bangunan-bangunan yang rusak akibat pemboman Israel juga menghadapi risiko runtuh sebagian.
Kondisi cuaca ini diperkirakan akan melanda Gaza pada hari Jumat, memberikan tekanan tambahan bagi keluarga-keluarga yang sudah hidup tanpa perlindungan memadai setelah kehancuran luas di berbagai kawasan permukiman.
Direktorat Pertahanan Sipil mendesak penduduk untuk mengambil langkah-langkah pencegahan, serta menyerukan kepada organisasi kemanusiaan dan komunitas untuk segera menyediakan tempat berlindung yang aman dan memperkuat perlindungan terhadap cuaca ekstrem.
Peringatan ini muncul di tengah terus berlanjutnya pembatasan oleh Israel yang menghambat masuknya material dan peralatan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025.
Risiko Banjir
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan pada 15 Oktober bahwa sekitar 950.000 warga Palestina yang mengungsi tinggal di lokasi yang terpapar risiko banjir tingkat sedang hingga tinggi.
Menurut data yang dikutip Anadolu, lebih dari 400.000 di antaranya menghadapi risiko banjir yang tinggi.
OCHA juga melaporkan sekitar 44.000 warga Palestina tinggal di lebih dari 2.300 bangunan yang secara struktural tidak aman, sementara 294.250 keluarga membutuhkan bantuan tempat berlindung menjelang musim hujan.
Angka-angka tersebut menggambarkan berbagai aspek dari darurat tempat berlindung dan tidak boleh dijumlahkan sebagai total populasi yang terpisah.
Hujan lebat berpotensi membanjiri tenda-tenda, terutama di daerah dataran rendah, sementara angin kencang dapat merobek penutup plastik dan material tempat penampungan darurat lainnya.
Sistem drainase yang rusak serta kurangnya peralatan tanggap darurat semakin membatasi perlindungan terhadap banjir.
Bangunan Tidak Aman
Pertahanan Sipil secara khusus memperingatkan keluarga-keluarga agar tidak tinggal di bangunan yang mengalami kerusakan struktural atau mendirikan tenda di dekatnya, mengingat adanya bahaya bangunan runtuh sebagian saat terjadi hujan lebat dan angin kencang.
Pihak berwenang mendesak penduduk untuk pindah ke lokasi yang lebih aman. Bagi keluarga yang tetap tinggal di tenda, direktorat menyarankan untuk mengamankan penutup plastik dan pasak tenda dengan kuat, membuat tanggul tanah di sekeliling tempat berlindung, serta menggali saluran untuk mengalirkan air hujan.
Selain itu, disarankan pula untuk meletakkan barang-barang di tempat yang lebih tinggi dari permukaan tanah guna meminimalkan kerugian jika air masuk ke dalam tempat berlindung.
Langkah-langkah pencegahan tersebut diambil di tengah kekurangan alternatif yang aman bagi warga Palestina yang mengungsi akibat genosida Israel.
Warga sebagian besar tinggal di tenda-tenda yang rusak, pusat-pusat penampungan yang penuh sesak, atau rumah-rumah yang rusak.
(sya)