Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. Foto/NDTV
TEHERAN -
Iran telah mengirimkan proposal nuklir kepada Amerika Serikat (AS) di tengah ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan sisa-sisa wilayah Republik Islam tersebut.
Proposal itu dikirim melalui Qatar dan baru akan dibahas setelah Washington memenuhi tujuh syarat yang dituntut Teheran. Pejabat senior Iran, yang dikutip
Reuters, Jumat (6/11/2026), telah mengonfirmasi pengiriman proposal nuklir dengan tujuh syarat tersebut.
Pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa Washington sedang meninjau proposal itu. Namun, dia menolak memberikan perincian lebih lanjut.
Sebelumnya, pejabat tinggi keamanan Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan pada awal pekan ini bahwa Teheran telah menyampaikan tujuh persyaratan kepada Amerika Serikat terkait jalur diplomasi.
"Mengenai masalah diplomasi, kami telah mengumumkan tujuh syarat kepada Amerika. Selama mereka tidak melaksanakan tujuh syarat tersebut, kami tidak akan membuka Selat Hormuz maupun mengadakan perundingan," kata Rezaei.
7 Syarat yang Dituntut Iran
Daftar resmi persyaratan Iran belum dipublikasikan. Namun,
Khaleej Times telah merilis tujuh syarat dari Iran tersebut. Berikut rinciannya.
1. Penghentian seluruh permusuhan secara menyeluruh, termasuk konflik di Lebanon.
2. Pencabutan blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
3. Pencabutan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.
4. Pembebasan aset-aset Republik Islam Iran yang dibekukan.
5. Pengurangan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan.
6. Pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang.
7. Penghentian serangan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran.
Sementara itu, Washington menyatakan bahwa persoalan program nuklir Iran harus menjadi bagian dari setiap perundingan awal.
Ancaman Serangan Trump
Proposal tersebut muncul ketika para mediator meningkatkan upaya untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat.
Upaya diplomatik itu berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa perang dapat kembali berkobar setelah pemilu sela AS
Trump menolak mengesampingkan kemungkinan dimulainya kembali operasi militer setelah pemungutan suara. Sementara itu, Iran telah merencanakan aksi pembalasan yang lebih luas jika perang kembali berlanjut.
Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Konflik juga meluas ke Lebanon, ketika kelompok Hizbullah yang didukung Iran terlibat pertempuran dengan Israel.
Belakangan, konflik semakin menyebar ke Yaman. Dari negara tersebut, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas energi, bandara, dan sejumlah target lainnya di Arab Saudi.
(mas)