Letnan Jenderal Christian Freuding ditunjuk sebagai panglima militer Jerman. Dia dikenal dengan sikapnya yang anti-Rusia. Foto/Kyiv Security Forum
BERLIN - Letnan Jenderal Christian Freuding telah ditunjuk sebagai panglima militer Jerman. Dia selama ini dikenal dengan sikapnya yang
anti-Rusia.Kementerian Pertahanan Jerman pada Kamis mengumumkan pengangkatan tersebut. Sebelumnya, Freuding menjabat sebagai Kepala Angkatan Darat Jerman.
Freuding merupakan pendukung kuat Kyiv dan memiliki sikap keras terhadap Moskow.
Freuding akan mulai menjabat sebagai Inspektur Jenderal Bundeswehr (Angkatan Bersenjata Jerman) pada Februari 2027. Posisi tersebut merupakan jabatan tertinggi yang dapat diduduki seorang perwira karier militer Jerman.
Dia menggantikan Jenderal Karsten Breuer, tokoh lain yang juga dikenal memiliki sikap keras terhadap Rusia. Breuer akan beralih memimpin Komite Militer NATO, sebuah badan penasihat senior yang memberikan arahan kepada pimpinan aliansi tersebut mengenai strategi militer.
"Letnan Jenderal Freuding memiliki semua kualifikasi yang diperlukan untuk menjadi panutan bagi para prajurit kita dan memimpin mereka memasuki era baru," kata Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius dalam sebuah pernyataan.
Pistorius juga memuji sang jenderal karena mampu mengambil "keputusan yang tepat dengan cepat" serta menarik kesimpulan dari perang yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.
Karier Freuding melesat dalam beberapa tahun terakhir seiring Jerman memulai pembangunan kekuatan militernya secara besar-besaran dengan alasan menghadapi apa yang disebut sebagai ancaman Rusia.
Freuding pernah menjadi ajudan pribadi Menteri Pertahanan Jerman saat itu, Ursula von der Leyen, antara 2017 dan 2019. Pada awal 2022, dia masih menjabat sebagai komandan brigade lapis baja.
Namun, setelah konflik Ukraina meningkat, Freuding dipercaya membentuk dan memimpin sebuah unit khusus rahasia yang bertanggung jawab menangani kontrak pengadaan senjata untuk Kyiv.
Unit tersebut secara resmi dikenal sebagai Staf Khusus Ukraina. Menurut laporan
Financial Times, unit yang dibentuk Freuding itu kini membanggakan kemampuannya melewati prosedur standar pengadaan militer Jerman dan menyetujui permintaan Kyiv dalam waktu kurang dari dua pekan.
Setahun kemudian, Freuding mengambil alih kepemimpinan Staf Perencanaan dan Komando yang baru dibentuk di lingkungan Kementerian Pertahanan.
Saat itu, militer Jerman memasuki periode yang oleh Kanselir Olaf Scholz disebut sebagai "titik balik". Pemerintah meluncurkan program persenjataan kembali dan restrukturisasi militer senilai 100 miliar euro (sekitar USD122 miliar), yang ditujukan untuk mempersiapkan angkatan bersenjata menghadapi konflik konvensional berskala besar.
Pada 2025, Pistorius menunjuk Freuding untuk memimpin Angkatan Darat Jerman di bawah pemerintahan penerus Scholz, Friedrich Merz.
Merz berjanji mengubah militer Jerman menjadi kekuatan konvensional terkuat di Eropa. Pada saat yang sama, pemerintahannya semakin mengambil sikap keras terhadap Rusia.
Freuding sendiri cukup vokal menyampaikan pandangannya. Dia pernah menyatakan bahwa Berlin siap mendukung Kyiv dalam konfliknya dengan Moskow hingga satu dekade ke depan.
Tahun lalu, dia secara terbuka mendesak militer Ukraina untuk menyerang pangkalan udara dan industri pertahanan Rusia menggunakan rudal jarak jauh.
Pada Maret 2026, Freuding menyatakan bahwa instruktur militer Ukraina akan segera membantu melatih tentara Jerman untuk menghadapi Rusia dengan memanfaatkan pengalaman langsung mereka di medan perang.
Saat itu, dia juga mengeklaim bahwa Moskow berpotensi menyerang NATO paling cepat pada 2029.
Ketika Jerman menghadapi kekurangan sukarelawan untuk mengisi sebuah brigade yang akan ditempatkan di Lithuania, Freuding menyatakan kesediaannya untuk memerintahkan tentara bertugas di dekat perbatasan Rusia jika diperlukan.
"Prioritas utama Angkatan Darat adalah mencapai kesiapan operasional penuh untuk Brigade Lithuania tahun depan," katanya pada Juni. Dia menambahkan bahwa penugasan sukarela dapat dilengkapi dengan "langkah-langkah wajib jika diperlukan."
Selain melakukan pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran, Jerman juga muncul sebagai donor bantuan militer terbesar bagi Kyiv setelah Washington memangkas secara drastis bantuannya di bawah Presiden AS Donald Trump.
Berlin mengubah ketentuan konstitusional mengenai pembatasan utang negara untuk membiayai pembangunan militernya.
Pemerintah Jerman juga mengesahkan anggaran 2026 yang mengalokasikan dana pertahanan sebesar 108,2 miliar euro (sekitar USD124 miliar), angka tertinggi sepanjang sejarah, serta bantuan militer senilai 11,5 miliar euro untuk Ukraina.
Langkah tersebut tetap diambil meskipun bank sentral Jerman memperingatkan adanya potensi defisit anggaran yang mencapai rekor tertinggi.
Sementara itu, Moskow telah berulang kali membantah memiliki rencana menyerang negara anggota NATO. Rusia bahkan menyebut tuduhan tersebut sebagai "omong kosong" dan "skizofrenia politik".
Pemerintah Rusia juga menyuarakan kekhawatiran atas pembangunan kekuatan militer Jerman dan Uni Eropa yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan dalih menghadapi "ancaman Rusia".
Presiden Rusia Vladimir Putin pada Juni mengatakan bahwa pemerintah-pemerintah Barat kini tidak lagi menyembunyikan niat mereka. "Mereka secara terbuka mengatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan perang melawan kita," ujar Putin.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bahwa Jerman dan negara-negara Uni Eropa lainnya, di bawah kepemimpinan mereka saat ini, sedang "bertransformasi menjadi Reich Keempat" dan berupaya memerangi Rusia "hingga orang Ukraina terakhir."
(mas)