Presiden Indonesia Prabowo Subianto saat anugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipurna kepada Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pada Oktober 2026. Foto/setneg.go.id
JAKARTA - Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Kepolisian Negara
Republik Indonesia (Polri) telah menetapkan tiga jenderal senior polisi sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal dan penghapusan data elektronik yang menargetkan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut tindakan itu berpotensi mengarah pada makar.
Dalam catatan sejarah dunia, ada sejumlah kasus upaya makar yang lebih mengerikan dari apa yang terjadi di Indonesia ini. Kesamaannya adalah anak buah berupaya makar pada presiden sendiri.
Kembali ke kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo. Tiga jenderal polisi yang jadi tersangka dan telah ditahan adalah Jenderal Listyo Sigit Prabowo, mantan Kapolri yang juga menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP); Irjen Ahrie Sonta, Kepala Divisi Hukum Polri; dan Irjen Eko Hadi Santoso, Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat 1 Sespim Lemdiklat Polri.
Menurut penyidik Bareskrim, dugaan penyadapan berlangsung pada 2025–2026 dan mencakup penghapusan jejak elektronik. Motifnya belum diumumkan.
Berkaca dari kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo, yang berpotensi mengarah pada makar, empat kejadian di dunia ini menorehkan sejarah upaya makar yang ekstrem.
4 Kasus Anak Buah Makar pada Presiden yang Hebohkan Dunia
1. Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev
Pada 19 Agustus 1991, sekelompok pejabat tinggi Uni Soviet membentuk Komite Negara untuk Keadaan Darurat (GKChP). Tokoh-tokohnya mencakup: Wakil Presiden Gennady Yanayev, Ketua KGB, Vladimir Kryuchkov, Menteri Pertahanan Dmitry Yazov, Perdana Menteri Valentin Pavlov, Menteri Dalam Negeri Boris Pugo, dan Wakil Ketua Pertama Dewan Pertahanan Oleg Baklanov.
Mereka mengumumkan bahwa Presiden Mikhail Gorbachev tidak dapat menjalankan tugas karena alasan kesehatan. Yanayev kemudian mengambil alih fungsi presiden. Dokumen resmi yang diterbitkan kelompok tersebut memperlihatkan pengumuman pengalihan kekuasaan dan pembentukan GKChP.
Namun, pengumuman itu merupakan dalih. Gorbachev sebenarnya ditahan di kediamannya di Foros, Crimea, dan tidak dapat menjalankan kewenangannya. Analisis CIA Amerika Serikat yang disusun beberapa bulan sebelum kudeta bahkan telah mengidentifikasi Yanayev, Kryuchkov, dan Yazov sebagai tokoh yang mungkin berupaya menyingkirkan Gorbachev.
Kudeta berlangsung pada 19–21 Agustus 1991 dan akhirnya gagal. Perlawanan politik yang dipimpin Boris Yeltsin serta perpecahan di tubuh aparat keamanan ikut menggagalkannya.
Meski upaya makar ini gagal, namun Uni Soviet pada akhirnya bubar. Negara-negara pecahannya memerdekakan diri. Uni Soviet menjadi negara yang sekarang bernama Rusia.
2. Presiden Prancis Charles de Gaulle
Pada 21 April 1961, empat jenderal Prancis—Maurice Challe, Raoul Salan, André Zeller, dan Edmond Jouhaud—memimpin pemberontakan militer di Aljazair.
Mereka menentang kebijakan Presiden Charles de Gaulle yang membuka jalan bagi penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan Aljazair. Para jenderal tersebut ingin mempertahankan Aljazair sebagai bagian dari Prancis.
Yayasan Charles de Gaulle mencatat bahwa pemberontakan itu melibatkan empat jenderal tersebut dan gagal karena sebagian besar militer tetap setia kepada De Gaulle. Pemberontakan berakhir pada 25 April 1961.
Arsip Kementerian Pertahanan Prancis juga menyimpan dokumentasi mengenai pemberontakan 21–25 April 1961, termasuk laporan militer dan dokumen mengenai sanksi terhadap personel yang terlibat.
3. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Pada 15–16 Juli 2016, sejumlah unsur militer Turki yang bergerak di luar rantai komando resmi melancarkan percobaan kudeta terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Binali Yildirim.
Laporan Congressional Research Service (CRS) Amerika Serikat menyebut para pelaku berusaha mengambil alih kekuasaan, menahan sejumlah komandan militer tertinggi, serta mengumumkan melalui televisi pemerintah bahwa mereka telah mengambil alih pemerintahan.
Namun, mereka gagal menangkap Erdogan dan sejumlah pemimpin penting lainnya. Pasukan yang loyal kepada pemerintah serta warga sipil berhasil menggagalkan upaya tersebut.
Gedung parlemen Turki di Ankara juga mengalami kerusakan akibat serangan udara dari pihak pemberontak.
CRS dalam satu laporan menyebut sedikitnya 104 pemberontak dan 161 orang lainnya tewas. Laporan CRS yang lain menggunakan angka sekitar 270 korban tewas dari kedua pihak.
4. Presiden Korea Selatan Park Chung-hee
Pada 26 Oktober 1979, Presiden Korea Selatan Park Chung-hee dibunuh oleh Kim Jae-gyu, Direktur Badan Intelijen Pusat Korea (KCIA), lembaga intelijen negara tersebut.
Kim menembak Park dalam sebuah jamuan di kompleks KCIA di Seoul. Dai juga membunuh Cha Ji-cheol, kepala pengawal kepresidenan sekaligus salah satu orang dekat Park.
Peristiwa tersebut dikonfirmasi dalam laporan pemerintah Korea Selatan yang diberitakan
The Washington Post pada 29 Oktober 1979. Laporan itu menyebut Kim mengorganisasi pembunuhan tersebut dengan melibatkan sejumlah stafnya.
Namun, persoalan motifnya jauh lebih rumit. Kim menyatakan bahwa tindakannya dimaksudkan untuk mengakhiri kediktatoran Park dan memulihkan demokrasi.
Sebaliknya, penyelidikan militer saat itu menggambarkannya sebagai tindakan yang didorong persaingan pribadi dan ambisi kekuasaan.
Kajian akademis yang diterbitkan International Journal of Asian Studies oleh Cambridge University Press menyimpulkan bahwa motif Kim masih diperdebatkan. Kajian tersebut juga mencatat tidak adanya rencana pengambilalihan pemerintahan yang serius dan matang setelah pembunuhan itu.
(mas)