Kisah Abu Lubabah, Sahabat Nabi yang Mengikat Diri di Tiang Masjid karena Berkhianat

img-redaksi Widaningsih
Kamis, 05 November 2026 - 17:33 WIB
Kisah Abu Lubabah, Sahabat Nabi yang Mengikat Diri di Tiang Masjid karena Berkhianat
Penyesalan Abu Lubabah begitu mendalam karena berkhianat kepada Nabi SAW, Ia bahkan mengikat dirinya sendiri pada salah satu tiang masjid dan bersumpah tidak akan melepaskan ikatan tersebut sebelum Allah SWT menerima tobatnya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Abu Lubabah merupakan salah satu sahabat RasulullahShallalahu Alaihi Wassalam yang dikenal dekat dengan Nabi. Ia termasuk golongan awal yang memeluk Islam dan dipercaya membantu berbagai urusan kaum muslimin, termasuk mempersiapkan kebutuhan perang serta menjaga keamanan penduduk Madinah.

Namun, di balik kesetiaannya kepada Rasulullah SAW, Abu Lubabah pernah melakukan kesalahan besar. Ia memberikan isyarat kepada kaum Yahudi Bani Quraizhah yang sedang dikepung kaum muslimin. Tindakan itu kemudian membuatnya merasa telah mengkhianatikepercayaan Rasulullah SAW.

Penyesalan Abu Lubabah begitu mendalam. Ia bahkan mengikat dirinya sendiri pada salah satu tiang masjid dan bersumpah tidak akan melepaskan ikatan tersebut sebelum Allah SWT menerima taubatnya.

Kisah ini diabadikan dalam sejumlah literatur sejarah Islam, salah satunya dibahas dalam buku Tokoh-Tokoh yang Diabadikan Al-Qur'an karya 'Abd al-Rahman Umairah. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran tentang beratnya tanggung jawab menjaga amanah dan besarnya arti taubat.

Awal Mula Pengkhianatan Abu Lubabah

Peristiwa itu bermula ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat mengepung perbentengan Bani Quraizhah. Pengepungan berlangsung selama 25 malam setelah kelompok tersebut melanggar perjanjian dengan kaum muslimin dan melakukan tindakan yang mengancam keamanan Madinah.

Dalam situasi tersebut, Bani Quraizhah meminta agar Abu Lubabah dikirim untuk menemui mereka. Permintaan itu disampaikan karena mereka memiliki hubungan persekutuan dengan kabilah Al-Aus, sementara Abu Lubabah juga mempunyai hubungan dengan kelompok tersebut melalui istrinya.

Rasulullah SAW kemudian mengutus Abu Lubabah untuk menemui mereka dan membicarakan persoalan yang sedang terjadi.

Menurut kisah yang dimuat dalam buku Terbang Menjemput Rahmat dengan Sayap Taubat, kedatangan Abu Lubabah disambut dengan tangisan kaum laki-laki, perempuan, dan anak-anak Bani Quraizhah.

Mereka kemudian bertanya kepada Abu Lubabah, apakah sebaiknya mereka menerima keputusan Rasulullah SAW.

Abu Lubabah tidak menjawab secara langsung. Namun, ia memberikan isyarat dengan mengarahkan tangan ke bagian lehernya. Isyarat tersebut dipahami sebagai pertanda bahwa keputusan yang akan mereka terima adalah hukuman mati.

Tindakan itu menjadi kesalahan besar karena Abu Lubabah telah membocorkan sesuatu yang seharusnya tidak disampaikan. Ia juga tidak menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya ketika diminta menjadi utusan Rasulullah SAW.

Menyesal, Abu Lubabah Mengikat Diri di Tiang Masjid

Setelah meninggalkan Bani Quraizhah, Abu Lubabah segera menyadari kesalahannya. Ia merasa telah mengkhianati amanah Rasulullah SAW dan menyesali tindakan yang dilakukannya.

Dalam keadaan penuh penyesalan, ia pergi ke masjid dan mengikat dirinya pada salah satu tiang. Abu Lubabah menyatakan tidak akan melepaskan ikatan tersebut sampai Allah SWT mengampuni dosanya.

Ia bahkan bertekad tidak akan kembali menginjakkan kaki di tempat Bani Quraizhah, lokasi ketika dirinya melakukan kesalahan tersebut.

Meski harus menghadapi panas matahari tanpa makan dan minum, Abu Lubabah tetap bertahan. Ia bertekad untuk terus berada di tempat itu sampai memperoleh ampunan Allah SWT.

Peristiwa tersebut menunjukkan betapa besar penyesalan Abu Lubabah. Ia tidak berusaha mencari pembenaran atas tindakannya, tetapi mengakui kesalahan dan memohon ampun kepada Allah.

Tobat Abu Lubabah Diabadikan dalam Al-Qur'an

Peristiwa pengkhianatan terhadap amanah juga mengingatkan kaum muslimin pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Anfal ayat 27:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ


Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS Al-Anfal: 27)

Ayat tersebut menjadi peringatan agar umat Islam senantiasa menjaga amanah dan tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan kepercayaan yang telah diberikan.

Dalam kisah Abu Lubabah, penyesalan dan permohonan ampun yang dilakukannya akhirnya mendapat kabar gembira. Allah SWT menurunkan ayat yang mengabarkan penerimaan taubat orang-orang yang mengakui dosa mereka.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 102:

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Artinya: "Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS At-Taubah: 102)

Setelah kabar penerimaan tobat itu disampaikan, Rasulullah SAW kemudian melepaskan ikatan Abu Lubabah.

Kisah Abu Lubabah memberikan pelajaran bahwa seorang mukmin tidak luput dari kesalahan. Namun, ketika menyadari kekeliruannya, ia harus berani mengakui dosa, menyesal, dan bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Allah SWT.

Tobat juga mengajarkan bahwa menjaga amanah merupakan tanggung jawab besar. Sebab, kepercayaan yang diberikan, baik oleh sesama manusia maupun dalam menjalankan perintah Allah, tidak boleh dikhianati.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
3 Kali Nabi Ibrahim Berkata Bohong, Ini Kisah di Balik Ucapannya
Kalam
Rabu, 04 November 2026 - 17:47 WIB