Citra satelit komersial ungkap jet tempur siluman Su-57 Rusia hancur di Pangkalan Udara Akhtubinsk. Pesawat ini diduga meledak saat mesin dinyalakan. Foto/Newsweek/Wikipedia
MOSKOW - Citra satelit komersial mengungkap kerusakan parah pada
jet tempur siluman Su-57 milik Rusia di Pangkalan Udara Akhtubinsk, wilayah Astrakhan. Pesawat tempur kebanggaan pemerintah Presiden Vladimir Putin tersebut diduga meledak ketika mesin dinyalakan pada 29 Oktober 2026 lalu.
Badan Intelijen Militer Ukraina (HUR) mengeklaim insiden tersebut menyebabkan salah satu jet tempur paling canggih Rusia itu mengalami kerusakan serius. Nilai satu unit Su-57 diperkirakan mencapai USD150 juta atau sekitar Rp2,72 triliun.
Klaim HUR diperkuat oleh citra satelit komersial yang memperlihatkan perubahan kondisi di area parkir pesawat Pangkalan Udara Akhtubinsk. Dalam gambar yang diambil pada 28 Oktober, terlihat dua unit Su-57 dan sebuah jet tempur model lama berada di area tersebut.
Namun, citra satelit yang diambil dua hari kemudian memperlihatkan area parkir yang sama sudah kosong. Sebuah Su-57 dengan kerusakan parah terlihat berada di area tanah yang hangus akibat kebakaran.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa yang terjadi terhadap Su-57 kedua yang sebelumnya terlihat di pangkalan udara tersebut.
Media Amerika Serikat,
Newsweek, yang memublikasikan analisis citra satelit itu pada Rabu (4/11/2028), menyebutkan bahwa kerusakan tersebut terjadi setelah dugaan ledakan di pangkalan udara Rusia.
HUR sebelumnya mengungkapkan bahwa insiden berlangsung ketika mesin Su-57 sedang dinyalakan pada 29 Oktober.
"Pada 29 Oktober 2026, di wilayah pangkalan udara militer Rusia Akhtubinsk, pesawat tempur multiperan terbaru milik negara agresor, Su-57, meledak. Insiden tersebut terjadi saat mesin dinyalakan. Harga pesawat tempur ini diperkirakan mencapai sekitar USD150 juta," demikian pernyataan HUR.
Kementerian Pertahanan Rusia belum memberikan komentar mengenai klaim tersebut.
HUR menduga insiden yang menimpa Su-57 berkaitan dengan memburuknya kualitas bahan bakar penerbangan Rusia. Kondisi tersebut disebut-sebut berkaitan dengan serangan drone jarak jauh Ukraina terhadap sejumlah kilang minyak Rusia.
Badan intelijen Ukraina itu menjelaskan bahwa Su-57 menggunakan mesin turbofan AL-41F1, yang juga dikenal dengan sebutan Product 117.
Menurut HUR, mesin jenis tersebut dapat mengalami kegagalan fatal apabila menggunakan bahan bakar dengan kualitas yang tidak memadai.
"Su-57 dilengkapi mesin turbofan penerbangan dua aliran AL-41F1 (Product 117). Salah satu penyebab mesin jenis ini dapat meledak atau mengalami kerusakan fatal adalah penggunaan bahan bakar dengan kualitas yang tidak memadai," ungkap HUR.
Namun, Ukraina belum memberikan bukti teknis yang memastikan bahan bakar berkualitas buruk menjadi penyebab ledakan tersebut.
Pada Agustus 2026, HUR sebelumnya menyatakan Rusia semakin bergantung pada impor bahan bakar penerbangan setelah serangan drone Ukraina mengganggu produksi bahan bakar jet di dalam negeri.
Ukraina juga mengungkap upaya Rusia mengimpor bahan bakar melalui jalur laut, termasuk dari Kilang Vadinar di India yang dioperasikan Nayara Energy.
Perusahaan minyak Rusia, Rosneft, memiliki 49,13 persen saham Nayara Energy. Sementara itu, Kesani Enterprises dan sejumlah investor terkait, termasuk perusahaan investasi Rusia United Capital Partners, menguasai 49,13 persen saham lainnya.
Uni Eropa bahkan menyebut fasilitas pengolahan minyak Vadinar sebagai kilang Rosneft terbesar di India.
Ketergantungan terhadap impor bahan bakar tersebut menjadi sorotan karena Rusia harus menghadapi serangan drone Ukraina yang terus menyasar fasilitas pengolahan minyaknya.
Kondisi ini juga terjadi di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Kyiv agar menghentikan serangan yang bertujuan membatasi kemampuan Moskow membiayai perang.
Su-57 Rusia Pesaing Jet Tempur Siluman F-35 dan F-22 AS
Sukhoi Su-57 merupakan jet tempur generasi kelima Rusia yang dikembangkan untuk menyaingi pesawat tempur siluman Amerika Serikat, khususnya F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.
Moskow mengunggulkan Su-57 sebagai pesawat tempur paling canggih dan sulit dideteksi yang dimiliki Angkatan Dirgantara Rusia.
Namun, sejumlah pakar penerbangan Barat masih meragukan kemampuan teknologi siluman Su-57. Mereka mempertanyakan apakah pesawat tersebut benar-benar memiliki karakteristik rendah keterdeteksian yang memadai untuk disejajarkan dengan jet tempur generasi kelima Barat.
Sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022, Moskow beberapa kali menggunakan Su-57 untuk melancarkan serangan jarak jauh.
Meski demikian, Rusia dilaporkan sangat berhati-hati dalam mengoperasikan pesawat tersebut. Moskow cenderung menghindarkan Su-57 dari jangkauan sistem pertahanan udara Ukraina karena tidak ingin kehilangan pesawat yang masing-masing bernilai sekitar USD150 juta.
Menurut lembaga kajian pertahanan Inggris, International Institute for Strategic Studies (IISS), Rusia diperkirakan memiliki sekitar 21 unit Su-57 yang beroperasi pada awal 2026.
Jumlah tersebut relatif terbatas untuk sebuah negara yang mengembangkan jet tempur generasi kelima sebagai salah satu tulang punggung kekuatan udara masa depannya.
Produksi tambahan Su-57 juga menghadapi hambatan akibat tekanan perang berkepanjangan melawan Ukraina.
Jika klaim terbaru HUR terbukti, kerusakan di Akhtubinsk akan menjadi pukulan tambahan bagi armada Su-57 Rusia yang jumlahnya masih terbatas.
Pangkalan Udara Akhtubinsk bukan pertama kalinya menjadi sasaran serangan Ukraina.
Pada 8 Juni 2024, drone Ukraina menyerang fasilitas militer tersebut. HUR saat itu mengklaim satu unit Su-57 mengalami kerusakan signifikan, sedangkan satu pesawat lainnya mengalami kerusakan lebih ringan.
Badan intelijen Ukraina merilis citra satelit sebelum dan sesudah serangan. Gambar tersebut memperlihatkan kawah ledakan dan bekas kebakaran di dekat Su-57 yang sedang diparkir.
HUR menyebut serangan itu sebagai serangan pertama yang diketahui menargetkan Su-57.
Juru Bicara HUR Andriy Yusov mengatakan satu pesawat mengalami kerusakan berat, sedangkan pesawat lainnya kemungkinan masih dapat diperbaiki.
"Kami sekarang dapat mengatakan bahwa satu Su-57 mengalami kerusakan signifikan, sedangkan satu pesawat lainnya mengalami kerusakan lebih ringan dan kemungkinan masih dapat diperbaiki," katanya.
Serangan tersebut juga diakui oleh saluran Telegram
Fighterbomber yang memiliki hubungan erat dengan Angkatan Dirgantara Rusia.
"Ya, kemarin pangkalan udara di Akhtubinsk diserang oleh pesawat nirawak (UAV). Tiga drone berhasil mencapai sasaran. Su-57 mengalami kerusakan akibat serpihan ledakan. Saat ini sedang ditentukan apakah pesawat tersebut masih bisa diperbaiki. Jika tidak, ini akan menjadi kehilangan Su-57 pertama dalam sejarah," demikian pernyataan
Fighterbomber kala itu.
Pada 2026, Ukraina kembali mengEklaim berhasil menyerang sejumlah jet tempur Rusia di Pangkalan Udara Shagol, wilayah Chelyabinsk.
Menurut pejabat Ukraina, serangan drone tersebut menyasar beberapa unit Su-57 dan Su-34. Komandan Pasukan Sistem Nirawak Ukraina, Robert Brovdi, menyebut penghancuran pesawat-pesawat tersebut penting untuk mengurangi kemampuan serangan udara Rusia.
Su-34 merupakan salah satu platform serangan utama Rusia yang mampu membawa berbagai jenis bom dan rudal berpemandu. Pesawat tersebut dapat menyerang infrastruktur penting, fasilitas militer, hingga sasaran sipil dari jarak sekitar 1.000 kilometer.
(mas)