JEC Soroti Pentingnya Kesehatan Mata untuk Tingkatkan Performa Pesepak Bola

img-redaksi Susanto
Kamis, 05 November 2026 - 05:07 WIB
JEC Soroti Pentingnya Kesehatan Mata untuk Tingkatkan Performa Pesepak Bola
Foto bersama pembicara dalam acara bertajuk Vision of A Champion yang diselenggarakan JEC Eye Hospitals and Clinics. Kegiatan ini mengangkat pentingnya kesehatan mata dalam mendukung performa dan prestasi atlet sepak bola. Foto: SINDOnews/HO/IStimewa
A
A
A
JAKARTA - Kesehatan mata menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang performa pesepak bola. Kemampuan membaca pergerakan lawan, mengamati posisi rekan setim, hingga menentukan arah operan sangat bergantung pada ketajaman penglihatan dan koordinasi mata dengan gerakan tubuh.

Pentingnya fungsi penglihatan dalam sepak bola menjadi perhatian JEC Eye Hospitals and Clinics melalui seminar bertajuk Vision of A Champion: Ketajaman Visual sebagai Kunci Performa sang Garuda. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Istiantoro, RS Mata JEC @ Kedoya, Jakarta, pada 28 Oktober 2026 tersebut melibatkan pelatih, pesepak bola, pengurus sekolah sepak bola (SSB), serta praktisi kesehatan. Seminar juga disiarkan secara daring.

Diskusi menghadirkan Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), PhD, dokter spesialis mata sekaligus Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics; Indra Sjafri, tokoh sepak bola nasional; serta dr. Tommy Desky, dokter sekaligus analis sepak bola. Diskusi dipandu dr. Agung Santoso, AIFO-K.

Melalui forum tersebut, para pembicara membahas hubungan antara fungsi penglihatan, koordinasi gerak, dan kemampuan pemain dalam membaca permainan. Selain diskusi dan sesi tanya jawab, penyelenggara juga menyediakan pemeriksaan mata bagi peserta.

Prof. Tjahjono menjelaskan, penglihatan yang optimal membantu pemain mengamati situasi pertandingan dan menentukan respons secara tepat. Sebaliknya, gangguan penglihatan dapat memengaruhi kemampuan pemain dalam mengenali pergerakan bola maupun perubahan kondisi di lapangan.

"Dua mata pemain itu harus berfungsi optimal dan sangat jelas, untuk bisa dengan maksimal mengamati, lalu memperhitungkan ketepatan respons kepada bola yang hendak ia eksekusi selanjutnya. Fakta menunjukkan bahwa kalau kondisi mata pemain ada kelainan, maka kemampuan menangkap kejernihan fokus dan kejelasan dari bola yang bergerak atau kondisi lapangan serta perubahan cuaca juga akan mudah menurun. Sebagai trusted eye care leader, JEC Eye Hospitals and Clinics ingin mendorong perhatian yang lebih menyeluruh terhadap fungsi penglihatan, sehingga gangguan penglihatan dapat dikenali sejak dini dan setiap pemain memperoleh pemeriksaan serta penanganan yang sesuai, mulai dari masa pembinaan hingga jenjang profesional," ujar Prof. Tjahjono.

Dominansi Mata dan Koordinasi Gerak Pemain

Salah satu materi yang dibahas dalam seminar tersebut adalah crossed laterality atau dominansi silang. Kondisi ini terjadi ketika mata dominan seseorang berada pada sisi berlawanan dengan tangan atau kaki dominannya. Sebagai contoh, seorang pemain memiliki mata kiri dominan, tetapi lebih banyak menggunakan kaki kanan.

Menurut Prof. Tjahjono, pemahaman mengenai dominansi mata, tangan, dan kaki dapat membantu mengenali karakteristik koordinasi penglihatan dan gerakan setiap pemain.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Physiology pada 2018 terhadap 72 pemain elite Stade Rennais di Prancis dan sembilan pemain amatir menemukan dominansi silang pada 53 persen pemain elite dan 33 persen pemain amatir. Temuan tersebut menjadi salah satu referensi untuk memahami variasi profil dominansi pada pesepak bola.

Penelitian itu juga membahas hubungan antara arah rangsangan visual, respons pemain, dan dominansi kaki ketika melakukan gerakan berputar. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program latihan yang sesuai dengan karakteristik individu.

"Memahami crossed laterality membantu kita mengenali hubungan antara dominansi mata dan koordinasi gerak setiap pemain. Informasi ini membantu melengkapi penilaian tentang cara pemain merespons rangsangan dari arah berbeda dan melakukan perubahan arah tubuh. Bagi pelatih, hasil pemetaan dapat menjadi masukan untuk menyusun latihan sesuai kebutuhan individu, misalnya mengikuti bola sambil berputar, melatih respons dari kedua sisi, serta memperkuat keseimbangan dan kaki penopang. Perhatian juga perlu diberikan pada sisi yang respons atau gerakannya masih lebih lemah, kemudian dievaluasi bagaimana perkembangannya dalam permainan. Dengan demikian, pembinaan dapat mengembangkan koordinasi penglihatan dan gerak secara lebih terarah sesuai karakteristik serta kebutuhan posisi pemain," jelas Prof. Tjahjono.

Selain dominansi mata, pemeriksaan fungsi penglihatan juga perlu mencakup ketajaman melihat objek diam atau static visual acuity, kemampuan mengenali objek bergerak atau dynamic visual acuity, serta kestabilan pandangan ketika kepala dan tubuh bergerak.

Prof. Tjahjono menjelaskan, kemampuan tersebut dibutuhkan pemain ketika mengikuti pergerakan bola, memperkirakan jarak, dan mengamati situasi di sekelilingnya. Salah satu mekanisme yang mendukung fungsi tersebut adalah vestibulo-ocular reflex, yakni refleks yang membantu mata mempertahankan kestabilan pandangan ketika kepala bergerak.

"Ketika bertanding, pemain harus mengikuti bola sambil berlari, mengalihkan fokus dari dekat ke jauh, serta memperkirakan jarak dan arah datangnya bola. Di sini, kerja sama kedua mata untuk melihat kedalaman, kemampuan mengenali objek di sisi pandangan, dan kepekaan terhadap kontras ikut berperan. Pandangan juga perlu tetap stabil ketika kepala dan tubuh bergerak. Hal ini didukung vestibulo-ocular reflex, yaitu refleks yang membantu mata mengimbangi gerakan kepala saat berlari atau berputar. Karena itu, ketajaman melihat objek diam perlu dinilai bersama kemampuan melihat objek bergerak dan koordinasi mata dengan tubuh, agar tenaga medis serta pelatih memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang kebutuhan pemain," lanjutnya.

Penglihatan Membantu Pemain Membaca Permainan

Dalam pertandingan, kemampuan penglihatan juga berkaitan erat dengan tracking atau mengikuti pergerakan bola dan scanning, yakni mengamati situasi di sekitar sebelum mengambil keputusan.

dr. Tommy Desky mengatakan, pemain perlu mengumpulkan informasi visual sebelum menerima bola, mulai dari posisi rekan setim, pergerakan lawan, hingga ruang kosong yang bisa dimanfaatkan. Informasi tersebut kemudian diolah untuk menentukan tindakan, seperti mengoper, menggiring bola, atau mencari posisi.

"Pemain perlu mengumpulkan informasi sebelum bola datang: posisi rekan, pergerakan lawan, dan ruang yang dapat dimanfaatkan. Penglihatan yang baik membantu pemain menangkap informasi tersebut dengan jelas untuk kemudian diolah menjadi keputusan. Dalam tekanan tinggi, waktu untuk memutuskan sangat singkat. Karena itu, scanning perlu dilakukan pada saat yang tepat dan disertai pemahaman terhadap apa yang dilihat, sehingga pemain dapat menentukan pilihan untuk mengoper, menggiring, atau bergerak. Kebiasaan ini dapat dibangun melalui latihan sederhana di SSB menggunakan cone, angka, atau penanda, dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan pemain. Pengamatan langsung, rekaman, atau data dapat membantu mengenali keputusan yang sudah tepat dan aspek yang masih perlu dilatih," jelas dr. Tommy.

Indra Sjafri juga menilai kemampuan membaca permainan perlu dibangun sejak pemain mengikuti pembinaan di SSB maupun akademi sepak bola. Menurut pelatih yang mengantarkan tim nasional Indonesia meraih medali emas SEA Games 2023 tersebut, kemampuan penglihatan mendukung pemain dalam memahami situasi pertandingan dan menjalankan instruksi taktik.

"Kemampuan merespons dengan tepat berawal dari penglihatan yang baik. Dengan scanning, pemain lebih mudah membaca permainan dan menerapkan taktik yang diberikan pelatih. Karena itu, pembinaan di SSB dan klub perlu membangun kebiasaan membaca permainan sejak dini. Perhatian ini perlu berjalan bersama pengembangan kemampuan teknik, fisik, dan mental pemain," kata Indra.

Dia mengapresiasi inisiatif JEC Eye Hospitals and Clinics yang membuka ruang diskusi antara praktisi kesehatan dan insan sepak bola. Menurutnya, pengembangan pemain membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu, termasuk aspek kesehatan.

"Saya berterima kasih kepada JEC Eye Hospitals and Clinics dan Prof. Tjahjono yang membuka ruang diskusi tentang kontribusi penglihatan bagi pengembangan pemain. Sepak bola membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu, dan pelatih perlu terbuka untuk belajar dari tenaga medis. Harapannya, pemeriksaan dan informasi kesehatan pemain semakin diperhatikan sejak di klub atau akademi, sehingga pembinaan memiliki dasar yang lebih lengkap. Pertemuan seperti ini membantu kami melihat bagaimana pengetahuan medis dapat diterjemahkan menjadi perhatian dan dukungan yang relevan di lapangan," imbuhnya.

Prof. Tjahjono menambahkan, pemeriksaan mata sejak dini diperlukan untuk mendeteksi berbagai gangguan penglihatan, mulai dari kelainan refraksi hingga masalah koordinasi kedua mata. Hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar bagi tenaga medis untuk menentukan penanganan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pemain.

Pada pemain usia anak, peran orang tua dan pelatih juga diperlukan untuk mengenali kemungkinan gangguan penglihatan. Sebab, anak belum tentu mampu menyampaikan keluhan yang dialaminya secara jelas.

"Pemeriksaan membantu kita memahami apakah ada kelainan refraksi, gangguan kerja sama kedua mata, atau kondisi lain yang perlu ditangani. Hasilnya menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan koreksi dan pemeriksaan lanjutan, sementara keterampilan membaca permainan terus dikembangkan melalui latihan. Pada anak, perhatian ini perlu dimulai sejak dini karena mereka belum tentu mampu menjelaskan keluhannya. Orang tua dan pelatih dapat membantu dengan memperhatikan kesulitan melihat dan memastikan tindak lanjut pemeriksaan. Sesuai usia, kondisi mata, dan kebutuhan masing-masing pemain, pilihan koreksi dapat mencakup kacamata olahraga, lensa kontak, atau bedah refraktif yang memerlukan penilaian kelayakan tersendiri secara lebih komprehensif," tutup Prof. Tjahjono.
(sto)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Hasil Lengkap Liga Champions: Liverpool Tumbang, Como Menang 9-1
Sports
Kamis, 05 November 2026 - 06:34 WIB