Iran klaim rakyat AS memilih tidak untuk perang. Foto/X/@GichuhoMungai
TEHERAN - Kepala negosiator Iran dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan pada hari Rabu bahwa para pemilih Amerika telah menolak perang dengan Iran, menyusul kemenangan Partai Demokrat yang memberikan kekalahan telak bagi Partai Republik—partai Presiden Donald Trump—dalam pemilihan paruh waktu.
"Demi hati nurani atau karena biaya hidup, rakyat Amerika mengatakan TIDAK UNTUK PERANG, dan kami mendukung pesan ini," tulis Ghalibaf, yang juga menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran, melalui platform X, dilansir Al Jazeera.
Ia juga memperingatkan Washington agar tidak mengabaikan apa yang ia gambarkan sebagai penentangan publik Amerika terhadap konflik tersebut.
"Jika pemerintah AS mengkhianati kehendak rakyatnya demi melayani pihak asing yang mendanai mereka atau pihak-pihak yang melakukan pemerasan, mereka akan menyadari bahwa kata ‘TIDAK' dari kami akan berujung pada mimpi buruk," tambah Ghalibaf.
Pernyataan ini muncul setelah Partai Demokrat berhasil menguasai Senat dan meraih perolehan kursi yang signifikan di DPR, yang menjadi pukulan telak bagi agenda domestik Trump di sisa dua tahun masa jabatannya.
Pemilihan ini secara luas dipandang sebagai referendum terhadap masa jabatan kedua Trump, dengan kekhawatiran mengenai biaya hidup, kenaikan harga bahan bakar, serta perang berkepanjangan dengan Iran yang membebani para kandidat dari Partai Republik.
Konflik tersebut, yang bermula dari serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, telah mengganggu pasar energi global dan memicu kenaikan harga bahan bakar, sebagian akibat pembatasan pelayaran melalui Selat Hormuz—jalur vital bagi pasokan minyak dunia.
Pada Selasa malam, Trump mengakui bahwa perang tersebut turut berkontribusi pada kekalahan partainya dalam pemilihan, meskipun ia tetap membela keputusannya untuk melancarkan kampanye militer tersebut. "Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah Iran, namun di saat yang sama, masyarakat memahami pentingnya langkah yang telah saya ambil terkait Iran," ujar Trump kepada Fox News dalam sebuah wawancara telepon.
Presiden juga melontarkan pujian yang jarang ia berikan kepada lawan-lawan politiknya dari Partai Demokrat, dengan mengatakan bahwa mereka telah melakukan "pekerjaan yang baik" dan "berjuang dengan gigih."
Komentar Ghalibaf muncul di tengah upaya diplomatik baru untuk mengakhiri konflik, di mana Qatar menjadi penengah dalam negosiasi tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Kedua belah pihak masih belum mencapai kesepakatan mengenai ketentuan perjanjian potensial, termasuk pengaturan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade AS terhadap ekspor minyak Iran.
Sebelumnya, Trump mengakui bahwa perang dengan Iran turut berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu. Meski demikian, ia tetap membela cara penanganannya terhadap konflik tersebut dan melontarkan pujian yang jarang ia berikan kepada lawan-lawan politiknya dari Partai Demokrat.
"Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah Iran, namun di saat yang sama, masyarakat memahami pentingnya langkah yang telah saya ambil terkait Iran," kata Trump dalam wawancara telepon dengan Fox News pada Selasa malam.
Pernyataan tersebut disampaikan di saat Partai Demokrat berhasil menguasai Senat dan tampak akan kembali memenangkan kendali atas DPR, sebuah pukulan telak bagi agenda politik Trump untuk sisa dua tahun masa jabatannya.
Pemilihan umum ini secara luas dipandang sebagai referendum terhadap kepemimpinan Trump, di mana perang melawan Iran yang telah berlangsung selama delapan bulan, meningkatnya biaya hidup, serta ketidakpastian ekonomi menjadi beban bagi para kandidat dari Partai Republik.
Konflik yang bermula dari serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari ini telah sangat mengganggu pasar energi global, terutama pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—sebuah jalur perairan vital yang sebelum perang dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan tersebut telah memicu kenaikan harga energi dan menambah tekanan ekonomi bagi rumah tangga di Amerika, menjadikan perang ini sebagai isu yang kontroversial menjelang pemilihan umum.
Sebelumnya, Trump telah membela keputusannya untuk melancarkan kampanye militer, dengan alasan bahwa langkah tersebut diperlukan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
Pada bulan September, ia menyatakan tidak menyesali keputusannya untuk berperang melawan Iran—meskipun ada kekhawatiran mengenai dampak potensialnya terhadap prospek elektoral Partai Republik—dan menegaskan bahwa ia akan mengambil keputusan yang sama jika dihadapkan pada situasi serupa.
Pernyataan terbaru sang presiden juga muncul di tengah upaya diplomatik baru untuk mengakhiri konflik, di mana Washington dan Teheran terlibat dalam negosiasi tidak langsung melalui mediator regional.
Terlepas dari upaya-upaya tersebut, ketegangan tetap tinggi menyusul laporan mengenai serangan terbatas AS terhadap target-target Iran di dekat Selat Hormuz awal pekan ini.
(ahm)