Trump Terancam Dimakzulkan! Demokrat Rebut Kongres AS, Akankah Presiden AS Dijatuhkan?

img-redaksi Syarifudin
Rabu, 04 November 2026 - 13:31 WIB
Trump Terancam Dimakzulkan! Demokrat Rebut Kongres AS, Akankah Presiden AS Dijatuhkan?
Presiden AS Donald Trump. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan politik baru setelah Partai Demokrat mencatat kemenangan besar dalam pemilu paruh waktu atau midterm elections yang berlangsung pada 3 November 2026. Hasil pemilu ini berpotensi mengubah peta kekuasaan di Washington dan membuka jalan bagi penyelidikan besar-besaran terhadap pemerintahan Trump, termasuk kemungkinan proses pemakzulan atau impeachment.

Kabar paling penting adalah keberhasilan Partai Demokrat merebut kendali Senat dari Partai Republik. Sementara itu, persaingan untuk menguasai House of Representatives atau DPR Amerika Serikat juga menunjukkan keunggulan Demokrat. Reuters melaporkan media-media AS telah memproyeksikan kemenangan Demokrat di kedua kamar Kongres.

Jika hasil tersebut bertahan, Trump akan menghadapi situasi politik yang jauh berbeda. Untuk pertama kalinya dalam masa jabatan keduanya, presiden dari Partai Republik itu berpotensi kehilangan dukungan mayoritas di kedua lembaga legislatif sekaligus.

1. Gelombang Biru Menghantam Partai Republik



Pemilu paruh waktu 2026 menjadi ujian besar bagi kepemimpinan Donald Trump. Dalam pemilu ini, seluruh 435 kursi DPR diperebutkan, sementara 35 dari 100 kursi Senat juga dipilih.

Sebelum pemilu, Partai Republik menguasai kedua kamar Kongres. Di DPR, keunggulan mereka sangat tipis, sedangkan di Senat Partai Republik memiliki mayoritas 53 berbanding 47 kursi, termasuk dua senator independen yang berkoalisi dengan Demokrat.

Namun, hasil pemilu paruh waktu saat ini memperlihatkan perubahan besar.

Demokrat berhasil memenangkan sejumlah pertarungan penting di negara bagian yang sebelumnya menjadi basis kuat Partai Republik. Di Kansas, Sherrod Brown memenangkan persaingan Senat melawan petahana dari Partai Republik. Demokrat juga mencatat kemenangan penting di Texas, Carolina Selatan, Carolina Utara, dan Ohio.

Kemenangan di negara-negara bagian konservatif tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan Demokrat merebut kendali Senat.

Associated Press melaporkan kemenangan Demokrat di Senat merupakan kemunduran besar bagi Trump dan Partai Republik. Sejumlah hasil pemilihan DPR juga menunjukkan perolehan kursi Demokrat yang signifikan, meskipun penghitungan untuk menentukan mayoritas DPR masih berlangsung.

Fenomena ini sering disebut sebagai Blue Wave, yaitu gelombang kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu Amerika Serikat.

2. Mengapa Pemilu Ini Menjadi Pukulan Berat bagi Trump?



Ada beberapa persoalan yang menjadi perhatian pemilih Amerika Serikat.

Pertama adalah meningkatnya biaya hidup. Inflasi, harga kebutuhan sehari-hari, dan mahalnya energi menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat. Harga bahan bakar juga menjadi perhatian setelah konflik dengan Iran meningkatkan ketidakpastian pasokan energi dan ekonomi.

Kedua adalah kebijakan luar negeri Trump, terutama keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik Iran. Kebijakan perang dan konsekuensi ekonominya menjadi salah satu isu yang memengaruhi persepsi pemilih.

Ketiga adalah persoalan pemerintahan dan dugaan korupsi. Sebagian pemilih menyuarakan ketidakpuasan terhadap arah pemerintahan dan penggunaan kekuasaan eksekutif.

Jajak pendapat yang dikutip Associated Press menunjukkan sekitar tiga perempat pemilih tidak puas dengan arah perjalanan negara. Persoalan ekonomi, perang, dan kepercayaan terhadap pemerintah menjadi faktor penting dalam pemilu kali ini.

Dengan demikian, hasil pemilu bukan sekadar kemenangan kandidat Demokrat. Hasil tersebut juga menjadi ukuran bagaimana masyarakat menilai kepemimpinan Trump menjelang dua tahun terakhir masa jabatannya.

3. Apakah Demokrat Bisa Memakzulkan Donald Trump?



Inilah pertanyaan yang kini menjadi perhatian dunia.

Secara konstitusional, jawabannya adalah bisa. Amerika Serikat memiliki mekanisme impeachment yang memberikan kewenangan kepada Kongres untuk memproses pemakzulan presiden.

Prosesnya berlangsung dalam dua tahap.

Pertama, House of Representatives atau DPR mengajukan dan menyetujui pasal-pasal pemakzulan. Persetujuan hanya membutuhkan suara mayoritas sederhana.

Jika Demokrat menguasai DPR, mereka memiliki kewenangan untuk memulai penyelidikan dan mengajukan proses impeachment terhadap Trump.

Kedua, perkara tersebut dibawa ke Senat untuk menjalani persidangan. Dalam persidangan pemakzulan presiden, Ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat bertindak sebagai pemimpin sidang.

Untuk menyatakan presiden bersalah dan memberhentikannya dari jabatan, dibutuhkan dukungan dua pertiga senator yang hadir.

Artinya, kemenangan Demokrat di Senat belum otomatis membuat Trump kehilangan jabatan.

Bahkan jika Demokrat menguasai seluruh Senat, mereka tetap membutuhkan dukungan sejumlah senator Partai Republik untuk mencapai ambang dua pertiga suara.

4. Trump Pernah Dua Kali Dimakzulkan



Donald Trump bukan orang baru dalam sejarah impeachment Amerika Serikat.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump pernah dua kali dimakzulkan oleh DPR yang saat itu dikuasai Demokrat.

Pemakzulan pertama berlangsung pada Desember 2019, berkaitan dengan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi Kongres dalam perkara yang melibatkan Ukraina.

Pemakzulan kedua terjadi pada Januari 2021 setelah peristiwa penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari. Trump dituduh menghasut pemberontakan.

Namun, dalam kedua persidangan tersebut, Senat tidak mencapai dukungan dua pertiga untuk menyatakan Trump bersalah. Akibatnya, Trump tetap menjabat sebagai presiden hingga masa jabatan pertamanya berakhir.

Pengalaman ini memperlihatkan proses impeachment tidak mudah, bahkan ketika DPR sudah menyetujui pemakzulan.

Kini, kemungkinan proses ketiga menjadi pembicaraan politik yang kembali mengemuka setelah perubahan kekuasaan di Kongres.

5. Apa yang Bisa Dilakukan Demokrat Jika Menguasai Kedua Kamar Kongres?



Jika Demokrat berhasil menguasai DPR dan Senat, mereka memiliki sejumlah instrumen untuk membatasi kekuasaan Trump.

Pertama, DPR dapat menggelar penyelidikan terhadap berbagai kebijakan pemerintahan, termasuk penggunaan anggaran, kebijakan perdagangan, hubungan luar negeri, dan tindakan pejabat pemerintah.

Kedua, komite-komite Kongres dapat memanggil pejabat pemerintahan untuk memberikan kesaksian dan meminta dokumen melalui kewenangan penyelidikan.

Ketiga, Senat dapat memperlambat atau menolak sejumlah calon pejabat dan hakim federal yang diajukan Trump. Hal ini penting karena pengangkatan hakim Mahkamah Agung dan sejumlah pejabat tinggi membutuhkan persetujuan Senat.

Keempat, Demokrat dapat menggunakan kekuatan legislatif untuk menekan kebijakan Trump, khususnya dalam persoalan anggaran, tarif perdagangan, imigrasi, dan kebijakan perang.

Namun, Trump masih memiliki hak veto terhadap undang-undang yang disetujui Kongres. Karena itu, penguasaan kedua kamar tidak berarti Demokrat dapat dengan mudah membatalkan seluruh kebijakan presiden.

6. Apakah Trump Benar-Benar Bisa Kehilangan Jabatan?



Ada perbedaan besar antara dimakzulkan dan diberhentikan dari jabatan.

Impeachment oleh DPR berarti presiden secara resmi didakwa. Namun, pemberhentian baru terjadi jika Senat menyatakan presiden bersalah dengan dukungan dua pertiga senator yang hadir.

Karena itu, sekalipun Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres, jalan untuk menjatuhkan Trump tetap tidak mudah.

Jika dukungan senator Partai Republik tidak cukup, Trump masih bisa bertahan meskipun proses pemakzulan telah berlangsung.

Di sisi lain, ancaman impeachment sendiri sudah dapat menimbulkan tekanan politik yang besar. Pemerintahan akan menghadapi penyelidikan, persidangan politik, perdebatan publik, dan kemungkinan terbongkarnya berbagai persoalan internal.

Situasi ini juga berpotensi memengaruhi stabilitas pemerintahan dan hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara lain.

7. Dua Tahun Terakhir Trump Bisa Menjadi Periode yang Sulit



Jika hasil pemilu mengukuhkan kemenangan Demokrat di DPR dan Senat, dua tahun terakhir pemerintahan Trump kemungkinan akan diwarnai pertarungan politik yang lebih intens di Washington.

Demokrat akan memiliki kesempatan untuk menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintahan. Sebaliknya, Trump harus berhadapan dengan Kongres yang tidak lagi sepenuhnya sejalan dengan agenda politiknya.

Pertarungan mengenai anggaran, kebijakan imigrasi, perdagangan internasional, energi, dan hubungan luar negeri berpotensi semakin tajam.

Namun, Demokrat juga menghadapi tantangan tersendiri. Setelah memperoleh kekuasaan legislatif, mereka tidak hanya dituntut mengkritik Trump, tetapi juga harus menunjukkan kemampuan menyelesaikan persoalan ekonomi dan sosial yang menjadi perhatian pemilih.

Pada akhirnya, pemilu paruh waktu 2026 menjadi titik balik penting dalam politik Amerika Serikat.

Trump belum tentu kehilangan jabatan. Tetapi perubahan kekuasaan di Kongres dapat membuat ruang geraknya semakin terbatas dan membuka peluang penyelidikan serta proses pemakzulan baru.

Pertanyaannya sekarang bukan hanya apakah Demokrat mampu menguasai Kongres, melainkan apakah mereka memiliki cukup dukungan politik dan bukti hukum untuk membawa Trump menghadapi proses impeachment ketiga dalam sejarah kepresidenannya.

Satu hal yang jelas: pertarungan politik di Washington memasuki babak baru, dan dua tahun terakhir masa jabatan Donald Trump berpotensi menjadi salah satu periode paling penuh tekanan dalam sejarah pemerintahannya.

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
7 Politikus Muslim AS Ini Menang Pemilu Sela AS, Salah Satunya Mualaf
International
Rabu, 04 November 2026 - 20:25 WIB
Trump: Saya Bisa Jadi PM Israel
International
Rabu, 04 November 2026 - 19:35 WIB
Politikus Muslim Abdul el-Sayed Klaim Menang Pemilihan Senat di Michigan
International
Rabu, 04 November 2026 - 16:20 WIB
Demokrat Kuasai DPR dan Senat, Trump Terancam Dimakzulkan
International
Rabu, 04 November 2026 - 14:25 WIB