Dalam sebuah riwayat hadis, diceritakan bagaimana Nabi Ibrahim harus berbohong menghadapi ancaman seorang raja yang terpikat oleh kecantikan istrinya Sarah yang berniat berbuat jahat kepadanya. Foto ilustrasi/ist
Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam dan istrinya, Sarah, menyimpan pelajaran berharga tentang keimanan, perlindungan Allah, serta kecerdikan menghadapi penguasa zalim. Dalam sebuah riwayat hadis, diceritakan bagaimana keduanya menghadapi ancaman seorang raja yang terpikat oleh kecantikan Sarah dan berniat berbuat jahat kepadanya.
Kisah ini juga berkaitan dengan tiga perkataan Nabi Ibrahim yang disebut sebagai
kebohongandalam hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Namun, ketiganya memiliki konteks dan penjelasan tersendiri, bukan kebohongan yang dilakukan untuk kepentingan pribadi atau menzalimi orang lain.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Muhammad bin Mahbub, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari Muhammad, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Dalam riwayat tersebut, Abu Hurairah menyampaikan bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah berdusta kecuali tiga kali.
Dua di antaranya berkaitan dengan perkara Allah, yakni perkataan Nabi Ibrahim, "Sesungguhnya aku sakit," sebagaimana disebutkan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 89, dan perkataannya ketika kaumnya bertanya tentang berhala yang dihancurkan.
Allah SWT mengabadikan perkataan tersebut dalam Surah Al-Anbiya ayat 63:
"Dia (Ibrahim) menjawab, 'Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara'." (QS Al-Anbiya: 63).
Adapun perkataan ketiga terjadi ketika Nabi Ibrahim bersama istrinya, Sarah, menghadapi seorang raja yang zalim.
Raja Zalim Terpikat Kecantikan Sarah
Dalam riwayat Abu Hurairah, suatu ketika Nabi Ibrahim bepergian bersama Sarah. Di tengah perjalanan, keduanya memasuki wilayah kekuasaan seorang raja lalim.
Seseorang kemudian melaporkan kepada sang raja bahwa ada seorang lelaki datang bersama perempuan yang sangat cantik. Mendengar laporan tersebut, raja itu tertarik dan segera memanggil Nabi Ibrahim untuk menanyakan siapa perempuan yang bersamanya.
Raja bertanya mengenai identitas Sarah. Nabi Ibrahim kemudian menjawab, "Dia adalah saudariku."
Setelah itu, Nabi Ibrahim menemui Sarah dan menjelaskan keadaan yang sedang mereka hadapi.
"Wahai Sarah, di muka bumi ini tidak ada seorang mukmin pun selain aku dan kamu. Raja itu bertanya kepadaku tentang dirimu, lalu aku mengatakan bahwa engkau adalah saudariku. Karena itu, janganlah engkau mendustakanku," kata Nabi Ibrahim kepada Sarah.
Jawaban tersebut merupakan siasat Nabi Ibrahim untuk melindungi Sarah dari kejahatan sang raja. Dalam konteks riwayat ini, kata saudari merujuk pada ikatan persaudaraan dalam keimanan.
Sarah Berdoa, Tipu Daya Raja Berbalik Menimpa Dirinya
Raja kemudian mengirim utusan untuk membawa Sarah ke hadapannya. Ketika Sarah sudah berada di hadapan raja, penguasa tersebut berusaha menyentuhnya dengan tangannya.
Namun, Allah memberikan perlindungan kepada Sarah. Raja itu justru tertimpa petaka hingga tidak mampu melanjutkan niat buruknya.
Dalam keadaan tersebut, sang raja meminta Sarah berdoa kepada Allah agar dirinya disembuhkan. Ia berjanji tidak akan menyakiti Sarah. Sarah pun berdoa kepada Allah. Atas izin-Nya, raja tersebut kembali terbebas dari petaka yang menimpanya.
Akan tetapi, setelah sembuh, raja itu kembali mencoba menyentuh Sarah. Kali ini, petaka yang menimpanya bahkan lebih berat daripada sebelumnya.
Raja kembali memohon agar Sarah berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya. Ia berjanji tidak akan mengganggu Sarah lagi.
Sarah kemudian berdoa, dan Allah kembali menyelamatkan sang raja dari petaka tersebut.
Peristiwa itu membuat raja menyadari bahwa perempuan yang dihadapinya bukanlah orang biasa. Ia lalu memanggil salah seorang pembantunya dan berkata bahwa perempuan tersebut bukan manusia biasa, melainkan setan.
Raja kemudian memerintahkan agar Sarah diberi seorang pelayan bernama Hajar.
Sarah Kembali kepada Nabi Ibrahim Membawa Kabar Gembira. Setelah peristiwa tersebut, Sarah pulang menemui Nabi Ibrahim. Saat itu, Nabi Ibrahim sedang melaksanakan salat.
Nabi Ibrahim kemudian memberikan isyarat dengan tangannya untuk menanyakan keadaan Sarah.
Sarah menjawab bahwa Allah telah membalikkan tipu daya orang kafir atau orang keji itu sehingga justru menimpa dirinya sendiri. Ia juga menceritakan bahwa sang raja telah memberikan Hajar sebagai pelayan.
Dalam riwayat tersebut, Abu Hurairah kemudian menyebut Hajar sebagai ibu dari keturunan mereka.
Ibnu Katsir dalam kitab Qashash Al-Anbiya menjelaskan bahwa riwayat tersebut diriwayatkan Imam Bukhari melalui sanad di atas secara mauquf, yakni disandarkan kepada sahabat Abu Hurairah.
Hikmah Kisah Nabi Ibrahim dan Sarah
Kisah Nabi Ibrahim dan Sarah memberikan sejumlah pelajaran penting bagi umat Islam. Pertama, pertolongan Allah dapat datang kepada hamba-Nya yang beriman dalam keadaan paling sulit sekalipun.
Kedua, seorang Muslim hendaknya tetap berikhtiar dan menggunakan cara yang bijaksana ketika menghadapi ancaman atau kezaliman. Nabi Ibrahim menunjukkan kecerdikan dalam melindungi Sarah dari niat buruk sang penguasa.
Ketiga, kisah Sarah mengajarkan pentingnya doa dan keyakinan kepada Allah. Dalam situasi terancam, Sarah tidak menyerah kepada kekuasaan manusia, tetapi memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa kekuasaan dan kekuatan manusia tidak akan mampu mengalahkan kehendak Allah. Seorang penguasa yang zalim sekalipun tidak berdaya ketika Allah memberikan pertolongan kepada hamba-Nya.
Wallahu A'lam
(wid)