Ponsel para pejabat, politikus dan aktivis menjadi target penyadapan di berbagai negara. Foto/anadolu
WASHINGTON - Dunia intelijen menyimpan banyak operasi rahasia yang sulit dipercaya. Di balik hubungan diplomatik, kerja sama militer, hingga persahabatan antarnegara, ternyata berlangsung aktivitas pengumpulan informasi yang melibatkan penyadapan komunikasi para pemimpin dunia.
Penyadapan bukan sekadar upaya mendengarkan percakapan telepon. Dalam perkembangannya, operasi intelijen mampu menembus jaringan komunikasi pemerintah, membongkar pesan militer rahasia, bahkan memanfaatkan perangkat teknologi yang digunakan oleh negara lain.
Sejumlah operasi tersebut baru terungkap puluhan tahun setelah dilakukan. Ada pula yang memicu ketegangan diplomatik karena negara sahabat ternyata menjadi sasaran pengawasan.
Berikut 10 operasi penyadapan intelijen paling menghebohkan dalam sejarah dunia.
1. Operation Rubicon, CIA Menyadap Komunikasi Lebih dari 100 Negara
Operation Rubicon menjadi salah satu operasi intelijen paling kontroversial yang pernah terungkap. Operasi rahasia ini melibatkan CIA Amerika Serikat dan badan intelijen Jerman Barat, BND.
Keduanya secara diam-diam menguasai perusahaan Swiss Crypto AG, produsen perangkat enkripsi yang digunakan berbagai pemerintahan untuk mengamankan komunikasi rahasia.
Melalui perangkat yang telah dimanipulasi, CIA dan BND dapat membaca pesan yang dikirimkan oleh negara-negara pengguna produk tersebut.
Operasi ini berlangsung selama puluhan tahun dan baru terungkap secara luas pada 2020 melalui investigasi media internasional. Skandal tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi keamanan komunikasi justru dapat menjadi pintu masuk bagi operasi spionase.
2. Skandal NSA, Amerika Serikat Mengawasi Komunikasi Dunia
Pada 2013, dunia dikejutkan oleh pengungkapan dokumen rahasia milik National Security Agency (NSA) Amerika Serikat oleh Edward Snowden.
Mantan kontraktor intelijen tersebut membocorkan dokumen yang memperlihatkan luasnya program pengawasan komunikasi elektronik Amerika Serikat.
Dokumen itu mengungkap berbagai metode pengumpulan informasi, mulai dari data komunikasi telepon hingga aktivitas digital.
Pengungkapan tersebut memicu perdebatan global mengenai batas antara kepentingan keamanan nasional dan hak privasi masyarakat.
3. Telepon Angela Merkel Disadap Amerika Serikat
Hubungan Amerika Serikat dan Jerman sempat mengalami ketegangan setelah terungkap bahwa telepon seluler Kanselir Jerman Angela Merkel menjadi sasaran pengawasan intelijen Amerika.
Informasi tersebut mencuat pada 2013 setelah sejumlah dokumen rahasia NSA dibocorkan Edward Snowden.
Merkel dilaporkan sangat kecewa dengan dugaan penyadapan tersebut. Dia bahkan menyampaikan pernyataan bahwa memata-matai teman tidak dapat diterima.
Kasus ini menjadi perhatian dunia karena Jerman merupakan salah satu sekutu terdekat Amerika Serikat di Eropa.
4. Australia Menyadap Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono
Indonesia juga pernah menjadi sasaran operasi penyadapan intelijen asing yang memicu ketegangan diplomatik.
Pada November 2013, dokumen yang dibocorkan Edward Snowden mengungkap dugaan penyadapan oleh intelijen Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sejumlah pejabat Indonesia lainnya juga disebut menjadi sasaran pengawasan, termasuk Ibu Negara saat itu, Ani Yudhoyono.
Penyadapan tersebut dilaporkan berkaitan dengan aktivitas intelijen Australia pada periode 2007-2009.
Terungkapnya kasus ini membuat pemerintah Indonesia menyampaikan protes keras dan mengambil sejumlah langkah diplomatik terhadap Australia.
5. Operation Gold, CIA Menggali Terowongan untuk Menyadap Soviet
Pada masa Perang Dingin, CIA Amerika Serikat dan badan intelijen Inggris MI6 menjalankan operasi rahasia yang dikenal sebagai Operation Gold.
Operasi ini dilakukan dengan membangun terowongan bawah tanah di Berlin untuk mengakses kabel komunikasi militer Soviet.
Tujuannya adalah memperoleh informasi mengenai komunikasi rahasia militer Uni Soviet dan sekutunya.
Operasi yang dimulai pada 1950-an tersebut sempat menghasilkan informasi intelijen penting. Namun, belakangan diketahui bahwa pihak Soviet telah mengetahui keberadaan terowongan itu.
6. Project Venona, Membongkar Komunikasi Rahasia Mata-Mata Soviet
Project Venona merupakan program intelijen Amerika Serikat untuk mencegat dan memecahkan pesan-pesan rahasia Soviet.
Program yang dimulai pada 1943 tersebut berupaya membaca komunikasi diplomatik dan intelijen Uni Soviet.
Hasil pemecahan kode membantu aparat Amerika mengidentifikasi jaringan spionase Soviet, termasuk aktivitas yang berkaitan dengan pencurian informasi mengenai pengembangan senjata atom.
Sebagian hasil terjemahan Venona baru dibuka kepada publik pada 1990-an. Pengungkapan ini memberikan gambaran penting mengenai persaingan intelijen antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
7. Zimmermann Telegram, Pesan Rahasia Jerman yang Mengubah Perang Dunia I
Salah satu operasi penyadapan paling berpengaruh dalam sejarah terjadi selama Perang Dunia I.
Pada 1917, intelijen Inggris berhasil mencegat dan memecahkan telegram rahasia Menteri Luar Negeri Jerman Arthur Zimmermann.
Pesan tersebut berisi tawaran aliansi kepada Meksiko untuk berperang melawan Amerika Serikat apabila Washington ikut campur dalam konflik Eropa.
Ketika isi telegram itu dipublikasikan, kemarahan masyarakat Amerika terhadap Jerman semakin meningkat.
Peristiwa ini menjadi salah satu faktor yang mendorong Amerika Serikat masuk ke Perang Dunia I.
8. Pemecahan Kode Enigma, Sekutu Membaca Rahasia Militer Nazi
Selama Perang Dunia II, Jerman Nazi mengandalkan mesin Enigma untuk mengenkripsi komunikasi militernya.
Mesin tersebut dianggap sangat sulit ditembus karena memiliki kombinasi pengaturan yang sangat kompleks.
Namun, para ahli kriptografi Sekutu, termasuk Alan Turing dan tim di Bletchley Park, Inggris, berhasil mengembangkan metode untuk membaca sebagian komunikasi yang dienkripsi menggunakan Enigma.
Keberhasilan tersebut memberikan keuntungan intelijen bagi Sekutu, terutama dalam memahami rencana dan pergerakan militer Jerman.
Operasi pemecahan kode Enigma kemudian dikenang sebagai salah satu pencapaian penting dalam sejarah kriptografi dan intelijen modern.
9. Pegasus, Spyware yang Bisa Menembus Ponsel Target
Perkembangan teknologi digital membawa dunia intelijen memasuki era baru. Salah satu yang paling kontroversial adalah Pegasus, perangkat lunak mata-mata buatan perusahaan Israel, NSO Group.
Spyware ini dirancang untuk menyusup ke perangkat ponsel dan memungkinkan pengumpulan berbagai informasi, termasuk pesan, foto, serta data komunikasi.
Pada 2021, proyek investigasi Pegasus Project yang melibatkan sejumlah organisasi media internasional mengungkap daftar nomor telepon yang diduga menjadi target atau sasaran potensial pengawasan menggunakan teknologi tersebut.
Sejumlah jurnalis, aktivis, dan tokoh publik disebut dalam laporan investigasi. Namun, perlu dibedakan bahwa kemunculan sebuah nomor dalam daftar tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa ponselnya berhasil diretas.
Kasus Pegasus memperlihatkan bagaimana perangkat yang sehari-hari digunakan masyarakat dapat menjadi sasaran operasi pengawasan digital.
10. Five Eyes, Aliansi Intelijen yang Mengawasi Komunikasi Global
Five Eyes merupakan aliansi intelijen yang melibatkan lima negara, yakni Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.
Kerja sama ini berakar dari perjanjian intelijen sinyal pada masa Perang Dunia II dan berkembang selama Perang Dingin.
Kelima negara berbagi informasi intelijen, termasuk hasil pengumpulan komunikasi elektronik dan sinyal dari berbagai belahan dunia.
Keberadaan Five Eyes menjadi sorotan setelah dokumen Snowden mengungkap skala pengawasan komunikasi yang dilakukan sejumlah badan intelijen anggotanya.
Aliansi tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perdebatan internasional mengenai keamanan siber, pengawasan digital, dan perlindungan privasi.
Penyadapan, Senjata Rahasia dalam Persaingan Antarnegara
Berbagai kasus tersebut menunjukkan bahwa kekuatan intelijen tidak hanya ditentukan oleh jumlah personel atau kecanggihan persenjataan.
Kemampuan memperoleh informasi rahasia sering kali menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan, strategi militer, hingga hubungan diplomatik suatu negara.
Dari terowongan bawah tanah di Berlin hingga spyware yang mampu menembus ponsel, metode penyadapan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi.
Namun, satu hal tetap sama: dalam dunia intelijen, informasi merupakan salah satu aset paling berharga. Bahkan, negara yang terlihat bersahabat sekalipun tidak selalu luput dari pengawasan.
(sya)