Fasilitas bagi warga yang terdaftar—bagian dari inisiatif untuk mendorong partisipasi sukarela masyarakat dalam peperangan—diresmikan melalui upacara di Alun-alun Tajrish, Teheran, Iran, pada 2 November 2026. Foto/Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency
TEHERAN - Seorang komandan militer tinggi Iran pada hari Selasa (3/11/2026) memperingatkan angkatan bersenjata negara tersebut akan merespons setiap ancaman tanpa "batasan geografis". Dia menjabarkan lima syarat untuk mewujudkan keamanan yang langgeng.
Mayor Jenderal Abdollahi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran sekaligus komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, menyatakan aset material maupun non-material milik pihak lawan Iran berada dalam jangkauan kekuatan militernya, menurut lembaga penyiaran negara IRIB.
Ia mengatakan Iran telah muncul sebagai "pusat kekuatan global keempat" melalui kendalinya atas Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi energi—serta kemampuannya dalam menentukan aturan yang mengatur akses ke jalur perairan tersebut.
Abdollahi menjabarkan lima syarat yang dianggap penting oleh Teheran untuk menciptakan keamanan yang berkelanjutan.
Syarat pertama menyerukan penghentian perang di semua lini, khususnya di Lebanon dan Jalur Gaza, sembari menolak negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman militer.
Syarat kedua menuntut pencabutan total sanksi terhadap Iran dan pelepasan aset-aset Iran yang dibekukan.
Syarat ketiga menuntut kompensasi atas kerusakan yang diakibatkan oleh perang. Abdollahi menegaskan Iran memandang dirinya sebagai "kreditur, bukan debitur."
Syarat keempat menuntut pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz serta penggantian kerangka keamanan yang dipimpin oleh AS dengan apa yang ia sebut sebagai "mekanisme Hormuz."
Syarat kelima menyerukan adanya jaminan untuk mencegah serangan militer kembali terjadi, serta pembentukan pengaturan keamanan yang dipimpin negara-negara di kawasan tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang terus berlanjut antara Iran dan AS, menyusul perang yang dilancarkan Washington dan Israel terhadap Teheran pada 28 Februari.
Iran telah berulang kali menuntut diakhirinya blokade angkatan laut AS serta penghapusan sanksi ekonomi sebagai bagian dari upaya mencapai penyelesaian diplomatik.
Pada hari Selasa, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, yang memimpin tim negosiasi Teheran, menyatakan Iran telah memberikan tanggapan yang "tegas dan rasional" kepada Washington, dan kini AS harus memutuskan apakah mereka akan mencegah terjadinya perang lain.
Qalibaf juga memperingatkan setiap tindakan militer AS yang baru akan memicu respons Iran yang "tidak dapat diprediksi" tanpa batasan geografis.
(sya)