Gadi Eisenkot, pemimpin partai Yashar. Foto/anadolu
TEL AVIV - Gadi Eisenkot, pemimpin partai Yashar, menyatakan penolakannya untuk bergabung dengan pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, meskipun ada permintaan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Demikian dilaporkan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada hari Senin (2/11/2026).
Lembaga penyiaran tersebut, dengan mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, menyatakan Eisenkot menyampaikan hal itu dalam pertemuan tertutup baru-baru ini.
"Saya tidak akan duduk dalam pemerintahan yang dipimpin Netanyahu," ujarnya, sebagaimana dikutip.
"Jika Trump mengundang saya, saya akan menghormati sang presiden dan hadir, namun saya akan menegaskan ini adalah urusan internal Israel, dan saya akan mencegah segala bentuk campur tangan," tambah Eisenkot, menurut KAN.
Pernyataan ini muncul setelah Netanyahu mengatakan ia terbuka untuk pembicaraan mengenai pemerintahan yang luas, namun bersikeras dirinyalah yang harus memimpinnya.
Ia menolak koalisi yang bergantung pada dua partai Arab utama, yaitu Ra'am dan Joint List (Daftar Bersama).
Blok Netanyahu memenangkan 53 kursi dalam pemilihan parlemen pekan lalu, dibandingkan dengan 48 kursi untuk partai-partai oposisi yang dipimpin kelompok Yahudi, dan 19 kursi untuk partai-partai Arab. Hasil ini membuat tidak ada satu pun kubu yang meraih mayoritas di Knesset yang beranggotakan 120 orang.
Partai Together pimpinan Naftali Bennett, kelompok Demokrat pimpinan Yair Golan, dan partai Yisrael Beytenu pimpinan Avigdor Lieberman telah memutuskan untuk merekomendasikan Eisenkot agar membentuk pemerintahan berikutnya.
Dukungan yang diharapkan dari dua daftar partai Arab dapat meningkatkan jumlah pendukungnya menjadi 67 anggota parlemen.
Akan tetapi, penolakan Lieberman untuk bergabung dengan pemerintahan yang menyertakan partai-partai Arab atau bergantung pada dukungan mereka tetap menjadi hambatan dalam pembentukan koalisi.
Para pemimpin oposisi dijadwalkan bertemu pada hari Selasa guna menyelaraskan posisi mereka, sebelum Presiden Isaac Herzog memulai konsultasi selama dua hari dengan faksi-faksi parlemen pada hari Rabu.
(sya)