Mantan anggota unit juru bicara militer Israel, Ayelet Kroizer. Foto/X/@Ayelet_Kroizer
TEL AVIV - Seorang mantan anggota unit juru bicara militer Israel mengatakan pada hari Senin (2/11/2026) bahwa militer memanipulasi kebenaran mengenai operasi-operasinya di Gaza dan wilayah Tepi Barat yang diduduki. Ia juga menjelaskan perannya sendiri dalam membentuk informasi yang dirilis kepada media, lapor Anadolu.
Ayelet Kroizer mengatakan warga Palestina yang tidak bersalah dilabeli sebagai "teroris", dan pernyataan militer dirancang sedemikian rupa untuk memperkuat dukungan publik serta mengamankan legitimasi internasional bagi operasi militer tersebut.
Pernyataan ini ia sampaikan melalui unggahan di platform X, saat mengumumkan penunjukan dirinya sebagai juru bicara untuk Breaking the Silence—organisasi Israel yang menerbitkan kesaksian mantan tentara mengenai penyalahgunaan wewenang militer di wilayah Palestina yang diduduki.
"Selama masa tugas saya, saya memanipulasi detail yang dirilis kepada media. Saya melihat bagaimana kata ‘teroris' disematkan bahkan kepada warga Palestina yang tidak bersalah, dan bagaimana pernyataan-pernyataan disusun agar sesuai dengan audiens target serta tujuan yang telah ditetapkan," tulisnya.
Kroizer menuturkan pekerjaannya tidak hanya membuatnya memahami kondisi di Tepi Barat dan Gaza, tetapi juga bagaimana militer memilih cara untuk menyajikannya kepada publik.
Ia menggambarkan kendali luas yang dimiliki unit juru bicara militer terhadap pemahaman publik mengenai berbagai peristiwa. Menurutnya, unit tersebut memperlakukan kebenaran layaknya agensi hubungan masyarakat (public relations), alih-alih sebagai institusi yang bertanggung jawab kepada publik.
Ia menjelaskan, saat berkomunikasi dengan masyarakat Israel, tujuan unit tersebut adalah memperkuat kepercayaan publik terhadap militer, seraya menambahkan, "Hak publik untuk mengetahui hanyalah prioritas sekunder, bahkan mungkin lebih rendah dari itu."
Sementara bagi audiens internasional, tujuannya adalah untuk memperkuat dan memperluas legitimasi operasi militer.
"Dalam hal ini pun, kebenaranlah yang menjadi korbannya," tulisnya.
Kroizer juga menceritakan bagaimana pernyataan mengenai jatuhnya banyak korban jiwa selalu diikuti dengan ungkapan penyesalan yang bersifat rutin.
"Saya belajar cara melaporkan puluhan kematian dalam satu serangan, lalu secara otomatis menambahkan pernyataan bahwa kami menyesali kerugian apa pun yang menimpa pihak-pihak yang tidak terlibat. Begitulah rutinitas tugas saya," ujarnya.
"Saya tidak pernah bisa tinggal diam menghadapi ketidakadilan, namun di sini saya justru diminta untuk melakukan kegiatan humas demi mendukung ketidakadilan tersebut."
Kroizer mengungkapkan ia tumbuh besar dalam komunitas ultra-Ortodoks dan memutuskan melepaskan hak pengecualian wajib militer tiga tahun lalu guna bergabung dengan militer selama masa perang. "Saya mendaftar untuk ikut serta dalam apa yang saat itu saya yakini sebagai upaya membela negara," tulisnya.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan setelah menyelesaikan masa tugasnya, ia justru akan bergabung dengan Breaking the Silence, alih-alih bepergian atau memulai studinya.
Organisasi tersebut menyambut baik penunjukannya melalui unggahan di X, dengan menyatakan kini saatnya untuk mengungkapkan kebenaran mengenai pendudukan tersebut kepada publik.
Kroizer mengakhiri unggahannya dengan mendesak pihak lain yang pernah bertugas selama perang untuk ikut bersuara.
"Jadi, saya tidak akan tinggal diam. Jika Anda pernah bertugas selama perang, janganlah Anda juga tinggal diam," ujar dia.
Sejak Oktober 2023, perang Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang lainnya, menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza. Perang ini juga telah menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil di Gaza.
(sya)