Nathalia Gadelha Filgueiras jadi kopilot pesawat Learjet yang jatuh dan meledak di Florida Selatan, AS. Dia termasuk 9 orang yang tewas dalam tragedi ini. Foto/O Heraldo/ABC News
WASHINGTON - Nathalia Gadelha Filgueiras menjadi kopilot pesawat kecil jenis
Learjet yang jatuh dan meledak di Florida Selatan, Amerika Serikat (AS). Pesawat tersebut sedang dalam perjalanan dari Austin, Texas, menuju Bahama pada hari Minggu.
Total sembilan orang tewas dalam tragedi ini, yang berlokasi kurang 11 km dari Mar-a-Lago—kediaman resor Presiden AS Donald Trump.
Dalam rekaman komunikasi dengan pengatur lalu lintas udara sebelum kecelakaan nahas itu, kopilot berusia 20 tahun tersebut terdengar memohon pertolongan sambil berteriak, "Mayday, mayday!"
Dalam komunikasi radio pengatur lalu lintas udara yang direkam
LiveATC.net, beberapa saat sebelum kecelakaan, Filgueiras melaporkan bahwa es mulai menumpuk di badan pesawat jet tersebut. Saat itu, suhu udara di luar pesawat mencapai minus 47 derajat Celsius. Dia juga melaporkan turbulensi sedang yang membuat pesawat terlempar naik hingga 700 kaki.
Beberapa saat kemudian, dia berteriak, "Mayday, mayday!" dan mengatakan, "Kami sedang turun dengan kecepatan 10.000 kaki per menit!"
"Kami mengalami kondisi overspeed, turun dengan kecepatan 20.000 kaki per menit...Kami akan menabrak tanah," teriaknya.
Data penerbangan yang kemudian ditampilkan ADS-B Exchange menunjukkan bahwa pesawat Learjet 60 tersebut anjlok hingga 27.000 kaki hanya dalam waktu satu menit sebelum jatuh.
Sosok Kopilot Berusia 20 Tahun
Menurut laporan media lokal, Filgueiras memperoleh lisensi pilot pada 2023 ketika masih berusia 17 tahun dan duduk di kelas akhir West Boca Raton Community High School.
Penerbang muda yang keluarganya berasal dari Brasil tetapi tinggal di Florida itu sebelumnya sempat menjadi sorotan media lokal setelah memperoleh lisensi pilot pribadi, bahkan sebelum memiliki surat izin mengemudi (SIM).
Menurut ibunya, Filgueiras telah bekerja sebagai pilot komersial selama sembilan bulan.
"Dia anak yang sangat baik—bertanggung jawab, pekerja keras... Dia adalah kopilot dan tidak bisa mengambil keputusan apa pun," kata ibu Filgueiras, Camila Gadelha Corteleti, kepada
CNN Brasil, Selasa (3/11/2026).
Lisensi pilot Filgueiras menunjukkan bahwa dia memiliki kualifikasi untuk menerbangkan jet tersebut, tetapi tidak memiliki kewenangan untuk bertindak sebagai pilot yang memegang kendali penerbangan.
Ayah tirinya, Thiago Corteleti (44), mengatakan kepada
The New York Post bahwa Filgueiras memiliki pengalaman terbang selama 1.300 jam. Menurut dia, perempuan berusia 20 tahun itu sempat mengirim pesan teks kepada kekasihnya, Justin, hanya 10 menit sebelum pesawat jatuh.
"Dia hanya mengatakan, 'Saya mengalami turbulensi, ada es di pesawat'," kata Corteleti.
Belajar Menerbangkan Pesawat sejak Remaja
Dalam wawancara sebelumnya dengan
CBS12, Filgueiras, yang saat itu duduk di kelas akhir West Boca Raton High School, menjelaskan bahwa dirinya mulai mengikuti pelajaran menerbangkan pesawat pada 2020. Dia juga mendapat bimbingan dari ayahnya, yang mulai belajar menerbangkan pesawat untuk hobi pada 2018.
"Saya suka menjadi berbeda dari orang lain. Jadi, menurut saya, ini keren karena kesempatan seperti ini sebenarnya tidak terlalu umum," kata Filgueiras.
"Saya memang tidak melakukannya [mengemudi mobil], dan akhirnya seperti inilah jadinya. Namun, menurut saya, ini keren. Ada orang yang menganggap aneh bahwa saya bisa menerbangkan pesawat, tetapi tidak bisa mengemudikan mobil. Maksud saya, sebenarnya saya bisa, tetapi banyak orang menganggapnya lucu. Saya juga menganggapnya lucu. Sekarang saya sangat ingin mendapatkan SIM," imbuh dia.
Menurut laporan media lokal, Palm Beach County School District membiayai lisensi pilot Filgueiras sebagai bagian dari program akademi penerbangan khusus di sekolah menengahnya. Dalam program tersebut, para siswa berlatih menerbangkan pesawat menggunakan simulator dan drone.
Korban Lain dalam Kecelakaan Pesawat
Kecelakaan tersebut juga menewaskan Adam Robinson, istrinya, Helen Sharp, serta kedua anak mereka, Emma yang berusia 4 tahun dan Charlie yang berusia 2 tahun. Hal itu disampaikan dalam pernyataan keluarga tujuh penumpang pesawat tersebut.
Anita Maria Cetina, yang membantu merawat anak-anak pasangan itu, juga meninggal dunia.
Dua korban lainnya diidentifikasi sebagai Rachael Reed dan Charmi Fehr. Sementara itu, identitas pilot lainnya belum segera diungkapkan.
"Hati kami juga bersama keluarga para pilot yang turut berduka bersama kami," kata keluarga tujuh korban tersebut.
Robinson baru-baru ini mengatakan kepada podcast ProfitLed bahwa dirinya dan keluarga tinggal di Aspen, Colorado. Dia merupakan salah satu pendiri Robly, platform pemasaran melalui email, serta pendiri Retention.com, perusahaan yang menggunakan teknologi untuk menghubungkan pengunjung situs e-commerce dengan alamat email mereka.
"Saya merasa seperti sedang menjalani kehidupan impian," kata Robinson (45).
"Saya sangat menyukai kenyataan bahwa saya bisa melihat anak-anak pada pagi dan malam hari, tidak perlu terlalu sering bepergian untuk bekerja, serta bisa tinggal di tempat yang selama ini menjadi impian saya," ujarnya.
"Istri saya juga sangat bahagia karena dia bisa menjadi seniman penuh waktu," imbuh dia.
Robinson dikenal di Austin, Texas, tempat perusahaan Retention.com berkantor pusat. Ini merupakan kali kedua sepanjang tahun ini Austin kehilangan seorang pengusaha teknologi dalam kecelakaan pesawat. Sebelumnya, pada Juni, Joshua Baer meninggal dunia. Dia memimpin sebuah perusahaan modal ventura yang mendukung perusahaan rintisan di bidang teknologi.
"Adam merupakan bagian dari jaringan kewirausahaan Austin," kata Thom Singer, CEO Austin Technology Council, organisasi yang mempromosikan industri teknologi lokal.
(mas)