Demo menentang tingginya biaya hidup di Prancis kembali berujung pada kerusuhan, Sabtu (31/10/2026). Foto/Screengrab video/X@LucAuffret
PARIS - Demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di
Prancis kembali berujung pada kerusuhan, Sabtu petang. Massa membakar para petugas polisi dengan bom Molotov.
Menurut keterangan polisi, lima petugas terluka. Tiga di antaranya terkena serangan bom Molotov, menurut keterangan kepolisian.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyebut serangan massa tersebut sebagai "upaya pembunuhan".
Video dari lokasi kejadian memperlihatkan sebuah bom Molotov dilemparkan ke arah barisan petugas polisi yang berdiri dengan membawa tameng antihuru-hara. Salah seorang polisi tersambar api dan tubuhnya dengan cepat dilalap kobaran api sebelum seorang rekannya menggunakan alat pemadam kebakaran untuk memadamkannya.
Dalam insiden terpisah, sebuah benda pembakar dilemparkan ke arah sekelompok petugas ketika terjadi ketegangan di tengah jalan. Serangan itu sempat membuat kaki seorang polisi terbakar.
Polisi kemudian menembakkan rentetan gas air mata dan granat kejut ketika para demonstran melemparkan botol serta berbagai benda lainnya.
"Rasa terbakar itu langsung terasa, sangat hebat, dan semakin kuat seiring berjalannya waktu," kata seorang anggota gendarmerie atau polisi militer Prancis yang terluka akibat serangan benda pembakar kepada
BFMTV. Petugas polisi tersebut tidak disebutkan namanya.
"Saya tidak bisa melihatnya karena kita tidak mungkin mengawasi segala arah sekaligus, sementara hujan lemparan benda-benda terus berlangsung tanpa henti," ujarnya.
Setelah menyaksikan rekaman insiden tersebut, anggota gendarmerie itu mengatakan, "Hal itu membuat saya sadar bahwa kita mungkin baru saja berhasil menghindari sebuah bencana besar."
Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 320.000 orang menggelar aksi demonstrasi di seluruh negeri pada Sabtu, termasuk 70.000 orang di Paris.
Sementara itu, penyelenggara aksi memperkirakan jumlah peserta mencapai 500.000 orang secara nasional, termasuk 200.000 orang di ibu kota.
Polisi Prancis menyatakan telah menangkap 565 orang demonstran.
Paris Berlakukan Jam Malam
Otoritas Paris memberlakukan jam malam sebagian pada malam hari, mulai pukul 23.00 hingga 06.00 waktu setempat, di kawasan sekitar Place de la République, Place du Châtelet, dan Les Halles. Kebijakan tersebut berlaku pada Sabtu dan Minggu (1/11/2026) malam.
Meski banyak demonstrasi awalnya berlangsung damai, polisi menyatakan bahwa "kelompok-kelompok radikal" memicu kerusuhan di sejumlah kota.
Nunez mengatakan terdapat seruan agar massa berkumpul pada pukul 20.00 untuk memanfaatkan malam Halloween, mengenakan topeng, kemudian melakukan penjarahan, perusakan, atau menyerang gedung-gedung publik.
Media Prancis juga melaporkan sejumlah insiden dugaan kekerasan berlebihan oleh polisi. Surat kabar
Le Monde menggambarkan adanya petugas yang memukul demonstran di Paris yang tampaknya tidak melakukan ancaman. Sementara itu, dua pemuda dilaporkan terluka saat ditangkap di Grenoble.
Gelombang protes tersebut bermula pada September, ketika para pelajar sekolah menengah menggelar demonstrasi untuk menuntut perbaikan fasilitas pendidikan, penambahan jumlah guru, serta peningkatan anggaran pendidikan.
Secara terpisah, serikat pekerja dan aktivis Gerakan Rompi Kuning (Yellow Vest) juga menggalang aksi menentang kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar.
Kedua gerakan tersebut kemudian menyatu pada 17 Oktober. Para pelajar, pekerja, dan kelompok demonstran lainnya bergabung dalam aksi nasional.
Sejak saat itu, tuntutan demonstrasi semakin meluas, mencakup desakan untuk melindungi kebebasan sipil dan mengakhiri kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian.
(mas)