Presiden Donald Trump kemungkinan serang Iran habis-habisan jika Partai Republik kalah dalam pemilu sela AS. Foto/The White House
WASHINGTON - Sebuah laporan dari media
Amerika Serikat (AS),
Axios, menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump mungkin lebih cenderung menyetujui operasi militer habis-habisan terhadap Iran jika Partai Republik memperoleh hasil buruk dalam pemilu sela 3 November.
"Jika dia merasa dipermalukan atau kehilangan kekuasaan, dia akan melakukan sesuatu yang berani," ujar seorang pejabat AS kepada
Axios pada hari Sabtu (31/10/2026).
Pejabat itu menambahkan bahwa pesan tersebut juga disampaikan kepada para pejabat Iran, yang diberitahu bahwa saat ini adalah kesempatan terbaik mereka untuk mencapai kesepakatan.
Namun, seorang pejabat Gedung Putih menepis gagasan tersebut. Dia mengatakan kepada media Amerika itu bahwa hasil pemilu tidak akan memengaruhi keputusan Trump terkait Iran.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa para mediator dari Qatar menghabiskan lebih dari 12 jam di Teheran pada hari Jumat—sembari terus berkomunikasi dengan Gedung Putih—guna memulai kembali pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran. Sumber diplomatik menggambarkan adanya "kemajuan positif", dan diskusi berlanjut pada hari Sabtu di Doha.
Menurut seorang pejabat AS, pembicaraan sempat terhenti karena adanya tuntutan yang saling bertentangan. Washington menginginkan konsesi terkait nuklir sebagai syarat untuk kembali ke meja perundingan, sementara Teheran bersikeras agar AS terlebih dahulu mencabut blokade Angkatan Laut, melepas dana yang dibekukan, dan mengizinkan penjualan minyak.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Doha mendesak Iran untuk mengizinkan inspektur PBB memasuki fasilitas nuklir mereka yang telah dibom, sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi secara terbatas.
Lebih lanjut, laporan itu menyoroti adanya perpecahan di dalam lingkaran internal Trump, di mana Menteri Perang Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio bersikap skeptis terhadap kesepakatan apa pun dan justru mendukung upaya untuk semakin melemahkan kepemimpinan Iran. Sebaliknya, Wakil Presiden JD Vance serta utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner mendukung dimulainya kembali perundingan.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terkait Selat Hormuz, sebuah jalur perairan strategis bagi pengiriman energi global.
Pada tanggal 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang kemudian memicu tindakan balasan dari pihak Iran di kawasan tersebut.
Meskipun upaya diplomatik telah dilakukan setelah peristiwa itu—termasuk penandatanganan nota kesepahaman antara Washington dan Teheran pada bulan Juni—ketegangan tetap berlanjut, khususnya terkait pengaturan keamanan dan navigasi di selat tersebut.
(mas)