Pangkalan Udara Udaylah di Kuwait atau dikenal sebagai Camp Buehring hancur akibat serangan rudal dan drone Iran. Pangkalan ini dioperasikan pasukan Amerika Serikat. Foto/Islamic World News
DOHA - Serangan rudal dan drone
Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah selama perang beberapa bulan ini telah menyebabkan kerugian USD15 miliar atau lebih dari Rp271 triliun (kurs Rp18.127/USD). Data kerugian terbaru ini merupakan penghitungan
The Wall Street Journal (
WSJ) yang mengutip sejumlah sumber serta analisis citra satelit miliknya.
Kerusakan besar tersebut semakin menambah beban biaya perang Pentagon yang terus membengkak. Biaya perang AS sejauh ini telah mencapai hampir USD50 miliar (lebih dari Rp906 triliun).
Analisis surat kabar tersebut, yang diterbitkan hari Jumat (30/10/2026), mengidentifikasi total 274 bangunan yang mengalami kerusakan di 24 instalasi militer yang memiliki kehadiran pasukan AS. Sedikitnya 119 bangunan di 13 instalasi mengalami kerusakan hanya dalam dua pekan pertama perang. Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain menjadi salah satu fasilitas yang mengalami kerusakan paling parah.
Teheran melancarkan gelombang serangan balasan menyusul serangan AS-Israel yang tidak diprovokasi dan memicu konflik pada 28 Februari.
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya dan mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada
WSJ bahwa Pentagon memperkirakan kerusakan pangkalan militer akibat serangan Iran mencapai sedikitnya USD5 miliar ataulebih dariRp90,6 triliun. Sumber lain
WSJ menyebutkan nilai kerusakan tersebut berpotensi mencapai USD15 miliar atau lebih dari Rp271 triliun.
Banyak instalasi militer tersebut digunakan bersama oleh Washington dan sekutu-sekutu regionalnya. Artinya, negara-negara sekutu berpotensi ikut menanggung sebagian biaya kerusakan. Laporan
WSJ juga menyebut Pentagon mungkin memutuskan untuk tidak memulihkan sejumlah infrastruktur yang rusak.
Secara khusus, Washington dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk menarik sebagian pasukannya dari instalasi militer di Kuwait dan Arab Saudi agar personel AS berada di luar jangkauan serangan.
Sebelumnya, Teheran telah menuntut penarikan penuh pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah sebagai salah satu prasyarat terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.
Sementara itu, Iran dengan cepat memulihkan fasilitas rudalnya dan mengambil kembali persediaan senjata yang sebelumnya terkubur. Laporan
WSJ mencatat bahwa pembangunan kembali kekuatan militer Iran berlangsung ketika Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan serangan lanjutan, meskipun persediaan rudal pencegat milik Amerika mengalami kekurangan.
Namun, Menteri Perang AS Pete Hegseth meremehkan potensi militer Teheran. Pada Agustus lalu, dia mengatakan, "Mereka masih memiliki sejumlah kemampuan, tetapi sama sekali tidak mendekati kekuatan yang mereka miliki sebelumnya."
Sementara itu, Senator Partai Demokrat Chris Murphy, anggota Komite Hubungan Luar Negeri dan Subkomite Alokasi Anggaran Pertahanan Senat AS, menuduh pemerintahan Trump berusaha "menutupi biaya perang yang sebenarnya".
Tuduhan tersebut disampaikan setelah Murphy ditolak mengakses Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
WSJ mengidentifikasi sedikitnya 12 bangunan yang mengalami kerusakan di pangkalan tersebut.
Pentagon mengatakan larangan akses itu diberlakukan karena adanya pembatasan perjalanan di kawasan tersebut.
Berdasarkan perkiraan terbaru Pentagon yang disampaikan kepada Kongres, perang Iran telah menghabiskan USD47,1 miliar atau lebih dari Rp853 triliun hingga 16 Oktober. Angka tersebut belum termasuk kerusakan pangkalan militer.
Rinciannya mencakup sekitar USD29 miliar atau lebih dari Rp525 triliun untuk mengganti amunisi yang telah digunakan, USD11,9 miliar atau lebih dari Rp215 triliun untuk biaya operasional, serta USD6,1 miliar atau lebih dari Rp110 triliun akibat kehilangan peralatan militer.
Adapun terkait jumlah korban, militer AS kini mengakui terdapat 23 personel yang tewas dalam operasi terkait perang Iran. Sebanyak 11 di antaranya tewas akibat serangan musuh, sementara 865 personel lainnya mengalami luka-luka.
(mas)