Seorang sahabat Nabi SAW Saad bin Hisyam berniat hidup membujang atau tidak menikah seumur hidup, keputusan tersebut diambil karena ia ingin sepenuhnya mengabdikan diri untuk beribadah dan berjihad di jalan Allah SWT namun ditegur dan dinasihati Aisyah, I
Ada kisah menarik pada zaman Rasulullah SAW tentang seorang sahabat yang berniat
hidup membujangatau tidak menikah seumur hidup. Keputusan tersebut diambil karena ia ingin sepenuhnya mengabdikan diri untuk beribadah dan berjihad di jalan Allah SWT.
Namun, niat itu justru mendapat teguran dari
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Melalui sebuah hadis, Aisyah mengingatkan bahwa kehidupan Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik bagi umat Islam, termasuk dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Kisah hikmah ini diriwayatkan dari Sa'ad bin Hisyam dan dikutip dalam kitab Mas'uliyyatun Nisaa' Fil Amri bil Ma'ruf wan Nahyi ‘Anil Munkar karya Dr. Fadhl Ilahi Dhahir.
Dikisahkan, suatu ketika Sa'ad bin Hisyam berkeinginan untuk berjihad di jalan Allah. Pikirannya hanya tertuju pada kehidupan akhirat dan kenikmatan surga. Ia pun bertekad meninggalkan segala sesuatu yang dianggap sebagai urusan duniawi dan dapat menghalanginya dari beribadah kepada Allah.
Sebagai bagian dari tekad tersebut, ia menceraikan istrinya. Sa'ad kemudian datang ke Madinah dengan maksud menjual rumah miliknya. Uang hasil penjualan itu rencananya akan digunakan untuk membeli kuda dan perlengkapan perang.
Sebelum melaksanakan niatnya, Sa'ad mendatangi Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia menceritakan rencananya untuk meninggalkan kehidupan berumah tangga dan memilih hidup membujang.
Namun, Aisyah justru melarangnya melakukan hal tersebut.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Al-Hasan, dari Sa'ad bin Hisyam, bahwa ia pernah berkata kepada Aisyah:
"Wahai Ummul Mukminin, sesungguhnya aku ingin hidup membujang."
Aisyah kemudian menjawab dengan mengingatkan Sa'ad tentang keteladanan Rasulullah SAW.
أَلَيْسَ لَكَ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
"Tidakkah engkau memiliki teladan yang baik pada diri Rasulullah?"
Aisyah lalu mengingatkan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21).
Aisyah juga menegaskan bahwa Rasulullah SAW sendiri menikah dan dikaruniai keturunan. Karena itu, keinginan Sa'ad untuk meninggalkan pernikahan dengan alasan ingin lebih fokus beribadah tidak sejalan dengan keteladanan Nabi. (Riwayat ini tercantum dalam HR Ahmad).
Pelajaran dari Kisah Sa'ad bin Hisyam
Kisah tersebut memberikan sejumlah pelajaran penting bagi umat Islam.
Pertama, seorang Muslim hendaknya menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Apabila seseorang memiliki tekad melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan Nabi, ia perlu mengoreksi dan membatalkan niat tersebut.
Kedua, menasihati sesama Muslim sebaiknya dilakukan dengan landasan yang kuat, yakni Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Hal inilah yang dicontohkan Aisyah ketika mengingatkan Sa'ad bin Hisyam tentang pentingnya mengikuti kehidupan Nabi.
Ketiga, keutamaan suatu amalan tidak semata-mata diukur dari beratnya usaha atau banyaknya ibadah yang dilakukan. Hal terpenting adalah apakah amalan tersebut sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW atau tidak.
Sebab, amalan yang dilakukan dengan susah payah sekalipun tidak akan menjadi lebih utama apabila menyelisihi petunjuk syariat.
Kisah ini mengingatkan bahwa mendekatkan diri kepada Allah SWT bukan berarti harus meninggalkan seluruh urusan dunia. Kehidupan rumah tangga, pernikahan, dan tanggung jawab keluarga juga dapat menjadi jalan ibadah apabila dijalankan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
(wid)