Jerman dan Prancis Bersiap Hadapi Aksi Protes di Akhir Pekan Halloween

img-redaksi Syarifudin
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:35 WIB
Jerman dan Prancis Bersiap Hadapi Aksi Protes di Akhir Pekan Halloween
Petugas memadamkan kebakaran saat kerusuhan di Prancis. Foto/anadolu
A
A
A
PARIS - Jerman dan Prancis tengah bersiap menghadapi potensi aksi protes selama akhir pekan, yang mungkin bertepatan dengan perayaan Halloween. Di Jerman, sekitar 150.000 orang telah mendaftar untuk turun ke jalan di sekitar 30 kota—termasuk Berlin, Frankfurt, dan Cologne—guna melancarkan aksi protes pada hari Sabtu.

Pihak kepolisian berencana mengerahkan ribuan personel tambahan di seluruh negeri. Beberapa toko perhiasan mewah dan gerai pakaian telah menutup jendela mereka dengan papan kayu sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan penjarahan atau kekerasan.

Aksi protes di Jerman ini dipimpin kelompok yang menamakan diri "GenZ regelt!", yang berarti "Gen Z yang akan menanganinya!".

Keluhan yang disuarakan gerakan protes di Jerman ini mencakup tingginya biaya hidup, kondisi sekolah yang kurang terawat, pemangkasan anggaran pemerintah, serta kebijakan para politisi yang dianggap tidak mempertimbangkan nasib generasi muda.

Dalam beberapa pekan terakhir, gelombang aksi protes yang sebagian besar digerakkan kaum muda telah melanda Eropa.

Banyak di antaranya menyuarakan keluhan serupa: kenaikan harga, fasilitas pendidikan yang memburuk, serta minimnya prospek masa depan—pandangan yang dirasakan banyak pengunjuk rasa.

Prancis Kembali Bersiap

Banyak dari keluhan tersebut serupa dengan tuntutan dalam aksi protes kaum muda yang telah mengguncang berbagai kota di Prancis selama tiga akhir pekan berturut-turut.

Pada hari Jumat, sejumlah toko dan tempat usaha di Paris serta kota-kota lain mulai menutup jendela mereka dengan papan kayu.

Kepolisian Prancis bersiap menghadapi potensi protes dan kekerasan di akhir pekan ini dengan mengerahkan 70.000 personel di seluruh negeri. Lebih dari 40 stasiun metro di Paris akan ditutup.

Pihak berwenang juga menegaskan penggunaan masker penutup wajah tidak diperbolehkan dalam aksi demonstrasi tersebut.

Menteri Dalam Negeri Prancis telah memperingatkan adanya "risiko yang sangat tinggi" terjadinya kerusuhan selama akhir pekan ini.

Dua pekan lalu, kerusuhan meluas di berbagai kota di Prancis ketika demonstrasi menentang tingginya biaya hidup dan kondisi sekolah berubah menjadi penjarahan serta kerusuhan berskala besar.

Sejak saat itu, otoritas Prancis berupaya menindak tegas aksi protes yang berujung kekerasan. Namun, pada akhir pekan lalu, demonstrasi kembali terjadi di berbagai wilayah, termasuk bentrokan sporadis dengan pihak kepolisian.

Alain Di Crescenzo, presiden Kamar Dagang Prancis, menyatakan kalangan pelaku usaha merasa khawatir dengan situasi ini. "Para pemilik toko tidak sabar menunggu hari Sabtu berlalu," ujar Di Crescenzo kepada penyiar France Inter.

Halloween "sama sekali tidak membantu," katanya, "karena akan ada orang-orang yang mengenakan topeng."

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Prancis Rusuh Lagi: Polisi Dibakar dengan Bom Molotov, 565 Demonstran Ditangkap
International
Minggu, 01 November 2026 - 08:28 WIB
AS Setujui Penjualan 500 Rudal Patriot ke Ukraina Senilai Rp38 Triliun
International
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:16 WIB
Krisis Konstitusi Melanda Polandia, Isu Kudeta Makin Menguat
International
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:20 WIB
Jerman dan Prancis Bersiap Hadapi Aksi Protes di Akhir Pekan Halloween
International
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:35 WIB