Pertama dalam Sejarah, Paus Leo Beri Suara dalam Pemilu Amerika Serikat

img-redaksi Syarifudin
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:27 WIB
Pertama dalam Sejarah, Paus Leo Beri Suara dalam Pemilu Amerika Serikat
Paus Leo XIV berada di Vatikan. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Paus Leo XIV menjadi paus pertama yang memberikan suara dalam pemilihan umum Amerika Serikat setelah mengirimkan surat suara melalui pos dari Chicago, kota kelahirannya. Vatikan mengonfirmasi pada hari Jumat bahwa Paus telah mengirimkan surat suara melalui pos menjelang pemilihan paruh waktu (midterm election) pada 3 November.

Langkah ini merujuk pada keyakinannya yang telah lama dipegang mengenai pentingnya partisipasi warga negara.

Leo, yang sebelumnya bernama Robert Prevost, "telah menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara Amerika Serikat", sebagaimana yang selalu ia lakukan "setiap kali ia memenuhi syarat untuk memilih", ungkap kantor pers Vatikan.

"Bapa Suci menyatakan keyakinannya akan hak dan kewajiban warga negara untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi," tambah pernyataan tersebut.

Vatikan tidak mengungkapkan kandidat mana yang dipilih oleh Leo.

Dalam catatan yang mengomentari partisipasi Leo, Konferensi Waligereja Amerika Serikat (US Conference of Catholic Bishops) mengimbau umat Katolik untuk mengutamakan "iman di atas politik" serta "menjunjung tinggi martabat manusia dan kebaikan bersama".

"Dengan memberikan suara, Bapa Suci memberikan teladan yang mendorong setiap warga negara untuk menjalankan tanggung jawab kewarganegaraan mereka," ujar direktur urusan publik konferensi tersebut, Chieko Noguchi.

Leo bukan hanya warga negara Amerika Serikat, tetapi juga warga negara Peru—tempat ia tinggal sebagai imam dan uskup selama lebih dari 20 tahun—serta warga negara Vatikan, di mana ia menjabat sebagai kepala negara.

Hukum federal Amerika Serikat mengizinkan warga negara yang tinggal di luar negeri, termasuk mereka yang bekerja untuk pemerintah asing, untuk memberikan suara melalui surat suara jarak jauh (absentee ballot).

Warga Amerika yang bekerja untuk pemerintah asing tidak secara otomatis kehilangan kewarganegaraan Amerika Serikat mereka.

Namun, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan di situs webnya bahwa mereka dapat "meninjau secara aktif" status kewarganegaraan warga Amerika yang "menjabat sebagai kepala negara asing, kepala pemerintahan asing, atau menteri luar negeri asing."

Seorang Pemilih yang Rutin Berpartisipasi



Dalam pemilihan paruh waktu tahun ini, para pemilih di negara bagian Illinois—yang merupakan basis kuat Partai Demokrat dan lokasi kota Chicago—akan menentukan pengganti Senator Dick Durbin yang akan pensiun, serta memutuskan apakah akan memilih kembali Gubernur JB Pritzker.

Leo meminta surat suara melalui pos pada tanggal 3 Oktober, hanya 10 hari sebelum ia menjalani operasi untuk mengangkat tumor kanker dari paru-paru kanannya. Ia perlahan-lahan mulai kembali beraktivitas di Vatikan setelah keluar dari rumah sakit pada tanggal 17 Oktober.

Sejak tahun 2000, Leo telah memberikan suara dalam lima pemilihan pendahuluan (primary election). Menurut catatan dari Dewan Pemilihan Negara Bagian Illinois (Illinois State Board of Elections), ia pernah meminta surat suara Partai Demokrat sebanyak dua kali dan surat suara Partai Republik sebanyak tiga kali; catatan tersebut tidak menunjukkan kandidat mana yang ia dukung.

Pemilih di Illinois harus menyatakan preferensi partai untuk mendapatkan surat suara pemilihan pendahuluan.

Saat terdaftar di Cook County—wilayah yang sangat condong ke Partai Demokrat—Leo meminta surat suara pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pada tahun 2008 dan 2010.

Setelah pindah ke Will County yang lebih konservatif, ia meminta surat suara pemilihan pendahuluan Partai Republik pada tahun 2012, 2014, dan 2016.

Konflik dengan Trump



Sejak Leo naik takhta kepausan pada Mei 2025, Presiden AS Donald Trump telah beberapa kali berselisih dengan sang Paus.

Trump mengkritik Paus karena berulang kali mengecam perang AS-Israel terhadap Iran, serta karena menentang tindakan keras pemerintahannya terhadap para imigran.

Awal tahun ini, Trump menyebut Leo sebagai sosok yang "lemah" dan berada di bawah kendali "kelompok kiri radikal", yang memicu perdebatan sengit antara keduanya.

Menanggapi hal tersebut, Leo mengatakan kepada para wartawan, "Saya tidak takut pada pemerintahan Trump, ataupun takut untuk menyuarakan pesan Injil dengan lantang—yang merupakan tujuan dari karya Gereja."

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Keuntungan Perusahaan Minyak AS Naik 3 Kali Lipat selama Perang Iran
International
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:30 WIB
Pertama dalam Sejarah, Paus Leo Beri Suara dalam Pemilu Amerika Serikat
International
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:27 WIB