Pemandangan di Teheran, Iran, saat warga menjalani aktivitas sehari-hari di tengah spanduk-spanduk anti-Israel yang dipajang di berbagai alun-alun utama ibu kota tersebut, pada 27 Oktober 2026. Foto/Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency
TEL AVIV - Amerika Serikat telah memindahkan 10 pesawat kargo militer ke pangkalan udara Israel di wilayah Negev selatan di tengah persiapan untuk kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Demikian dilaporkan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada hari Kamis, sebagaimana dikutip Anadolu Agency.
Lembaga penyiaran tersebut menyatakan pesawat-pesawat itu mendarat di pangkalan udara Ovda dan Nevatim, sementara sejumlah pesawat militer AS lainnya dilaporkan dikirim ke pangkalan-pangkalan di Yordania, Arab Saudi, dan Qatar.
Menurut KAN, pesawat-pesawat tersebut bertolak dari Fort Bliss di negara bagian Texas, AS, yang merupakan lokasi salah satu pusat pertahanan udara terbesar militer AS, termasuk fasilitas yang terkait dengan rudal pencegat dan baterai pertahanan udara.
Belum ada konfirmasi langsung dari pihak AS mengenai pengerahan tersebut, dan belum jelas apa muatan yang dibawa oleh pesawat-pesawat itu, atau apakah Washington telah memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Seorang pejabat Israel mengatakan kepada lembaga penyiaran tersebut bahwa Israel dan AS sedang berkoordinasi secara erat terkait persiapan militer mereka.
"Israel dan Amerika Serikat berkoordinasi dengan sangat erat, dan meskipun belum ada keputusan yang diambil, pihak Amerika maupun Israel tengah bersiap menghadapi keputusan apa pun yang mungkin diambil oleh Presiden Donald Trump," ujar pejabat tersebut.
Pejabat itu tidak merinci sifat maupun waktu dari kemungkinan keputusan tersebut.
Sebelumnya pada pekan ini, KAN melaporkan Washington telah memberikan peringatan kepada negara-negara Teluk mengenai kemungkinan adanya kampanye militer yang singkat dan terbatas terhadap Iran.
Menurut lembaga penyiaran tersebut, militer AS juga telah memindahkan sistem pertahanan rudal Patriot dari Texas untuk memperkuat pertahanan udara mereka di kawasan Teluk.
Laporan itu menyebutkan pasukan AS yang ditempatkan di berbagai pangkalan di kawasan tersebut telah diinstruksikan untuk pergi sebagai langkah pencegahan terhadap kemungkinan eskalasi militer.
Ditambahkan pula bahwa pasukan AS sedang mengisi kembali persediaan senjata mereka, dengan rencana kedatangan satu kapal induk tambahan dan satu unit Korps Marinir pada bulan November.
Pasukan tambahan ini dilaporkan akan bergabung dengan sekitar 20 kapal perang AS yang saat ini telah beroperasi di Timur Tengah.
(sya)