Para pekerja pelabuhan menggelar mogok kerja di seluruh dunia untuk menentang perang. Foto/anadolu
BARCELONA - Pekerja pelabuhan di lima benua telah meluncurkan aksi mogok antiperang yang terkoordinasi, dengan menyasar pengiriman senjata Israel, kargo militer AS, serta meningkatnya militerisasi di pelabuhan-pelabuhan sipil.
Pihak penyelenggara menyatakan lebih dari 25 serikat pekerja melakukan mobilisasi di 113 pelabuhan yang tersebar di 22 negara dan wilayah pada hari Jumat, dalam aksi internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kampanye ini mencakup aksi mogok 24 jam, penghentian kerja sementara, blokade, serta unjuk rasa solidaritas.
Pelabuhan-pelabuhan besar di Eropa yang turut serta dalam aksi ini antara lain Genoa, Marseille, Le Havre, Hamburg, Valencia, Barcelona, dan Piraeus.
Di luar Eropa, aksi protes juga direncanakan di Tangier Med (Maroko), Nhava Sheva dan Chennai (India), serta Oakland dan San Francisco (AS). Aksi serupa juga berlangsung di Turki, Siprus, Swedia, Denmark, Irlandia, Portugal, Brasil, Meksiko, dan Australia.
Serikat pekerja CGT Ports et Docks di Prancis menyerukan aksi mogok 24 jam di 24 pelabuhan, sementara serikat pekerja USB di Italia mendeklarasikan aksi mogok umum nasional yang mencakup protes di lebih dari 40 kota. Serikat pekerja di Jerman, Yunani, Spanyol, India, dan AS turut berpartisipasi.
Para pekerja pelabuhan di Piraeus, pelabuhan terbesar di Yunani, menjadi salah satu kelompok pertama yang bergabung dalam aksi ini, dengan penghentian operasional selama tiga jam, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 GMT. Serikat pekerja maritim lainnya di Yunani mengumumkan aksi mogok 24 jam yang berdampak pada tujuh pelabuhan, yang berpotensi mengganggu layanan feri menuju pulau-pulau di negara tersebut.
Rekaman video mengenai demonstrasi dan pertemuan di berbagai pelabuhan lain telah muncul secara daring. Meski demikian, skala gangguan terhadap operasional pelayaran belum dapat dipastikan sepenuhnya karena aksi tersebut berlangsung pada waktu yang berbeda-beda.
Apa yang Dituntut oleh Para Pekerja Pelabuhan?
Serikat pekerja menuntut penghentian pengiriman senjata, amunisi, peralatan militer, dan pasukan melalui pelabuhan komersial—yang menyasar rantai pasok militer Israel maupun AS.
Mereka juga menentang upaya mengubah pelabuhan sipil menjadi pusat militer, serta pengalihan dana publik untuk persenjataan kembali, di saat para pekerja justru menghadapi upah yang stagnan, ketidakpastian kerja, dan kondisi yang kian memburuk.
"Mulai dari pesawat hingga tank, senjata hingga peluru, bahan peledak hingga amunisi, seragam hingga sepatu bot—pelabuhan-pelabuhan kita telah menjadi pangkalan pengisian ulang dan pengiriman untuk perang serta genosida," ujar pihak penyelenggara dalam konferensi pers pada 15 Oktober di Roma.
Serikat pekerja menuduh pemerintah dan perusahaan pelayaran tetap membuka jalur pasokan militer, meskipun gencatan senjata di Gaza telah diumumkan lebih dari setahun yang lalu—gencatan senjata yang menurut mereka kini hampir tidak berarti akibat serangan Israel yang terus berlanjut.
‘No Harbour for Genocide', kampanye yang mengoordinasikan aksi ini, menyatakan telah melacak 315 pengiriman komponen untuk produsen senjata Israel, Elbit Systems, melalui 56 pelabuhan di 29 negara selama 14 bulan.
Mereka juga mengklaim telah mengidentifikasi 3.400 pengiriman kargo militer AS melalui 67 pelabuhan di 42 negara selama sepuluh bulan. Kelompok tersebut menambahkan volume kargo militer AS di sejumlah pelabuhan Eropa meningkat hingga sepuluh kali lipat sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran. Angka-angka ini belum diverifikasi secara independen.
Pihak penyelenggara memperkirakan aksi ini dapat menghambat 40.000 kontainer yang membawa kargo senilai lebih dari USD2 miliar, yang berpotensi menimbulkan kerugian hingga USD43 juta bagi perusahaan-perusahaan pelayaran.
(sya)