Poster yang menampilkan para kandidat dari United Arab List dipajang di depan tempat pemungutan suara sebagai bagian dari pemilihan umum di Nazareth, Israel, pada 27 Oktober 2026. Foto/Adri Salido/Anadolu Agency
TEL AVIV - Joint Arab List menuduh Partai Likud berupaya merongrong hasil pemilu melalui hasutan terhadap pemilih Arab serta upaya untuk mendelegitimasi representasi politik mereka. Koalisi tersebut menyatakan kampanye yang dipimpin Benjamin Netanyahu dan koalisinya mencerminkan ketakutan mereka terhadap kekuatan politik pemilih Arab.
Mereka juga dinilai tidak mampu menerima tingkat partisipasi pemilih Arab yang sangat tinggi—yang menurut koalisi tersebut turut mencegah blok Netanyahu meraih 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Menurut koalisi tersebut, tingginya partisipasi pemilih Arab merupakan respons terhadap kebijakan pemerintah yang mencakup perang, penghancuran bangunan, pengusiran, dan hasutan, serta kegagalan pemerintah dalam menekan angka kriminalitas yang meningkat di kota-kota Arab.
Mereka menyatakan upaya untuk mempertanyakan partisipasi pemilih Arab merupakan bagian dari kampanye terorganisir yang telah dimulai jauh sebelum pemilu, termasuk upaya untuk mendiskualifikasi daftar kandidat Arab dan mengintimidasi para pemilih.
Kampanye ini kini berlanjut melalui apa yang mereka sebut sebagai tuduhan palsu yang menyasar suara pemilih Arab serta perolehan kursi mereka dalam pemilu.
Koalisi tersebut mendesak para pemimpin oposisi untuk berhenti menggemakan klaim Netanyahu serta retorika dari gerakan rasis Kahanist.
"Mereka yang ingin mengubah pemerintahan ini tidak boleh mengadopsi hasutan yang dilontarkan pemerintah tersebut terhadap orang-orang yang justru hadir untuk menjatuhkannya," tegas mereka.
Mereka menyerukan penghormatan terhadap pilihan para pemilih, tindakan tegas terhadap hasutan, serta tawaran alternatif yang nyata terhadap kebijakan pemerintah—alternatif yang menjunjung tinggi hak-hak dan tuntutan rakyat Palestina.
(sya)