Pemimpin oposisi Gadi Eisenkot berbicara setelah exit poll dalam pemilu Israel. Foto/anadolu
TEL AVIV - Nama Gadi Eisenkot menjadi sorotan dalam peta politik Israel setelah mantan Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tersebut muncul sebagai salah satu penantang utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam Pemilu Israel 2026.
Eisenkot bukan sosok baru dalam lingkaran kekuasaan Israel. Dia pernah menduduki jabatan tertinggi di militer Israel dan menjadi bagian dari kabinet perang Netanyahu setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Namun, hubungan politik keduanya kemudian berubah. Eisenkot yang semula bergabung dengan pemerintahan darurat Netanyahu akhirnya menarik diri bersama Benny Gantz pada Juni 2024.
Kini, mantan jenderal tersebut memimpin Partai Yashar dan menjadi salah satu figur utama oposisi yang berupaya mengakhiri dominasi politik Netanyahu. Persaingan keduanya semakin menarik karena Eisenkot membawa latar belakang militer dan pengalaman langsung dalam pengambilan keputusan selama perang Gaza.
Sementara Netanyahu merupakan politikus veteran yang telah mendominasi pemerintahan Israel selama bertahun-tahun.
Lantas, siapa sebenarnya Gadi Eisenkot dan bagaimana perjalanan hidupnya hingga menjadi rival politik Netanyahu?
1. Lahir dari Keluarga Keturunan Maroko
Gadi Eisenkot lahir di Tiberias, Israel, pada 19 Mei 1960. Dia berasal dari keluarga Yahudi keturunan Maroko dan tumbuh besar di Kota Eilat.
Sejak muda, Eisenkot telah mengenal lingkungan militer Israel. Pada 1978, dia bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan memulai kariernya sebagai prajurit infanteri di Brigade Golani.
Brigade Golani merupakan salah satu satuan infanteri elite Israel yang memiliki sejarah panjang dalam berbagai operasi militer. Dari satuan tersebut, Eisenkot mulai meniti karier hingga dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis di tubuh militer Israel.
2. Meniti Karier hingga Menjadi Panglima Militer Israel
Perjalanan karier Eisenkot di militer berlangsung selama puluhan tahun. Dia pernah menjabat sebagai komandan Brigade Golani, sekretaris militer Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, kepala Direktorat Operasi, serta komandan Komando Utara IDF.
Pengalamannya di Komando Utara membuat Eisenkot terlibat dalam strategi pertahanan Israel menghadapi ancaman dari Lebanon dan Suriah, termasuk kelompok Hizbullah.
Pada Februari 2015, Eisenkot resmi menjabat sebagai Kepala Staf Umum IDF ke-21. Jabatan tersebut merupakan posisi tertinggi dalam struktur komando militer Israel. Dia memimpin IDF hingga Januari 2019 sebelum digantikan Aviv Kochavi.
Selama kepemimpinannya, Eisenkot terlibat dalam pengembangan strategi pertahanan Israel, termasuk menghadapi Hamas di Gaza dan meningkatnya pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.
3. Namanya Dikaitkan dengan Doktrin Dahiya
Salah satu hal yang membuat nama Eisenkot dikenal dalam pembahasan strategi militer Israel adalah Doktrin Dahiya. Istilah tersebut merujuk pada kawasan Dahiya di Beirut, Lebanon, yang mengalami kehancuran besar selama perang Israel-Hizbullah pada 2006.
Eisenkot pernah menyampaikan pendekatan militer yang menekankan penggunaan kekuatan besar terhadap wilayah yang dianggap menjadi basis operasi kelompok bersenjata. Pendekatan tersebut kemudian dikenal sebagai Doktrin Dahiya dan menuai kritik dari berbagai pihak karena dampaknya terhadap infrastruktur serta penduduk sipil.
Doktrin ini menjadi salah satu bagian dari kontroversi mengenai strategi militer Israel dalam menghadapi kelompok bersenjata di kawasan perkotaan.
4. Bergabung dengan Benny Gantz dan Masuk ke Dunia Politik
Setelah pensiun dari militer pada 2019, Eisenkot mulai aktif dalam diskusi mengenai keamanan nasional dan masa depan politik Israel. Namanya kemudian semakin dekat dengan Benny Gantz, mantan Kepala Staf Umum IDF yang juga terjun ke dunia politik.
Pada Pemilu Israel 2022, Eisenkot bergabung dengan koalisi politik yang dipimpin Gantz dan Gideon Sa'ar melalui National Unity. Dia berhasil masuk parlemen Israel atau Knesset.
Pengalaman militernya menjadi salah satu modal politik yang dibawanya. Eisenkot juga dikenal memiliki pandangan kritis terhadap sejumlah kebijakan pemerintahan Netanyahu.
5. Sempat Bergabung dengan Kabinet Perang Netanyahu
Hubungan Eisenkot dengan Netanyahu sempat berada dalam satu pemerintahan setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ketika Israel membentuk pemerintahan darurat untuk menghadapi perang, National Unity yang dipimpin Benny Gantz bergabung dengan pemerintahan Netanyahu.
Eisenkot kemudian menjadi anggota kabinet perang Israel bersama sejumlah pejabat senior lainnya. Posisi tersebut membuatnya terlibat dalam pembahasan strategi perang Israel di Jalur Gaza.
Namun, kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Pada Juni 2024, Gantz dan Eisenkot memutuskan keluar dari pemerintahan Netanyahu. Keduanya menilai diperlukan perubahan arah kepemimpinan dan strategi pemerintahan dalam menangani perang serta masa depan Israel.
Keputusan tersebut menjadi salah satu titik penting yang mengubah hubungan Eisenkot dengan Netanyahu dari rekan dalam pemerintahan menjadi lawan politik.
6. Kehilangan Putra dalam Perang Gaza
Di tengah keterlibatannya dalam pengambilan keputusan politik dan militer, Eisenkot mengalami kehilangan pribadi yang mendalam.
Putranya, Gal Meir Eisenkot, seorang tentara cadangan IDF, tewas pada Desember 2023 ketika bertugas di Jalur Gaza. Gal tewas akibat ledakan saat menjalankan tugas militer di wilayah Gaza.
Kematian putranya menjadi salah satu peristiwa paling emosional dalam perjalanan Eisenkot selama perang berlangsung. Dia menghadapi perang bukan hanya sebagai mantan panglima militer dan anggota kabinet perang, tetapi juga sebagai seorang ayah yang kehilangan anaknya dalam konflik tersebut.
7. Mendirikan Partai Yashar untuk Menantang Netanyahu
Setelah keluar dari National Unity, Eisenkot semakin serius membangun kekuatan politik sendiri. Pada 2025, dia mendirikan Partai Yashar, kekuatan politik berhaluan tengah yang membawa agenda perubahan kepemimpinan dan pemerintahan Israel.
Partai tersebut menjadi kendaraan politik Eisenkot untuk menghadapi dominasi Netanyahu dan Partai Likud.
Dalam kampanyenya, Eisenkot mengangkat isu kepemimpinan, keamanan nasional, tanggung jawab politik atas serangan 7 Oktober 2023, serta masa depan pemerintahan Israel. Dia juga mengkritik Netanyahu terkait kegagalan keamanan sebelum serangan Hamas dan arah kebijakan pemerintah selama perang.
Dengan latar belakang sebagai mantan panglima militer, Eisenkot berusaha menawarkan dirinya sebagai alternatif kepemimpinan yang memiliki pengalaman langsung dalam persoalan keamanan Israel.
8. Menantang Netanyahu dalam Pemilu Israel 2026
Persaingan Eisenkot dan Netanyahu mencapai puncaknya dalam Pemilu Israel yang digelar pada 27 Oktober 2026. Pemilu tersebut menjadi salah satu momen politik penting bagi Israel karena berlangsung setelah serangkaian konflik besar di kawasan Timur Tengah sejak serangan Hamas pada Oktober 2023.
Eisenkot memimpin blok oposisi yang berupaya menggantikan pemerintahan Netanyahu. Sementara Netanyahu kembali maju bersama Partai Likud dan koalisi partai-partai sayap kanan serta ultra-Ortodoks.
Hasil akhir pemilu menunjukkan Partai Likud memperoleh 27 kursi, sedangkan Partai Yashar pimpinan Eisenkot meraih 21 kursi di Knesset yang memiliki total 120 anggota.
Secara keseluruhan, blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, sementara blok oposisi yang dipimpin Eisenkot mendapatkan 48 kursi. Kelompok partai Arab memperoleh total 19 kursi. Tidak ada blok yang berhasil mencapai 61 kursi untuk menguasai mayoritas parlemen.
Hasil tersebut membuat persaingan politik Israel berlanjut ke tahap negosiasi pembentukan pemerintahan. Eisenkot masih memiliki peluang membangun koalisi, tetapi harus menghadapi tantangan untuk mendapatkan dukungan partai-partai lain.
9. Masa Depan Politik Eisenkot dan Dominasi Netanyahu
Hasil Pemilu 2026 memperlihatkan bahwa upaya Eisenkot untuk mengakhiri kekuasaan Netanyahu belum menghasilkan kemenangan langsung. Meskipun menjadi pemimpin blok oposisi, Eisenkot menghadapi persoalan dalam membangun koalisi mayoritas.
Sebaliknya, Netanyahu dan Partai Likud masih menjadi kekuatan politik terbesar dalam parlemen. Namun, mereka juga belum memiliki cukup kursi untuk membentuk pemerintahan sendiri.
Situasi ini membuat masa depan pemerintahan Israel sangat bergantung pada negosiasi antarfaksi politik.
Bagi Eisenkot, pemilu tersebut menjadi ujian besar dalam perjalanan politiknya setelah puluhan tahun mengabdi di militer Israel.
Dari seorang prajurit Brigade Golani hingga panglima tertinggi IDF, dia kini berada di garis depan persaingan untuk menentukan siapa yang akan memimpin Israel pada periode berikutnya.
(sya)