Finlandia Murka, Google Babat Hutan untuk Proyek Pusat Data

img-redaksi Syarifudin
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 15:24 WIB
Finlandia Murka, Google Babat Hutan untuk Proyek Pusat Data
Google diperkirakan telah menebang 250.000 pohon di Muhos dan 150.000 pohon lainnya di Otanmaki, dengan total mencapai 400.000 pohon. Foto/r/antiai
A
A
A
HELSINKI - Kepolisian Finlandia telah meluncurkan penyelidikan kriminal atas dugaan pelanggaran lingkungan di lokasi yang direncanakan sebagai pusat data Google. Di lokasi tersebut, ratusan hektare hutan telah ditebang sebelum penilaian dampak lingkungan yang diwajibkan selesai dilakukan.

Departemen Kepolisian Oulu mengumumkan pada hari Kamis (29/10/2026) bahwa mereka sedang menyelidiki dugaan kerusakan lingkungan di lokasi tersebut, yang terletak di Muhos, Finlandia bagian utara. Penyelidikan ini dilakukan menyusul adanya keluhan mengenai aktivitas anak perusahaan lokal Google, Tuike Finland.

Menurut lembaga penyiaran publik Finlandia, Yle, polisi telah menerima lima permintaan untuk melakukan penyelidikan, termasuk satu permintaan dari Badan Pengawas Finlandia (LVV), yang bertugas mengawasi izin dan penilaian lingkungan.

Penyidik menemukan kemungkinan adanya ketidakberesan dalam sistem drainase dan pengelolaan air di lokasi konstruksi tersebut.

Pihak berwenang tengah memeriksa apakah pekerjaan yang dilakukan telah melanggar undang-undang lingkungan hidup dan menyebabkan kerusakan pada saluran air di sekitarnya.

Google mengakui telah menebang sekitar 330 hektare hutan di Muhos dan hampir 200 hektare di lokasi pusat data lainnya yang direncanakan di Kajaani, meskipun penilaian dampak lingkungan untuk kedua proyek tersebut belum rampung.

Seorang pakar ekologi dari Asosiasi Konservasi Alam Finlandia, Mari Annala, mengatakan kepada The Guardian bahwa Google diperkirakan telah menebang 250.000 pohon di Muhos dan 150.000 pohon lainnya di Otanmaki, dengan total mencapai 400.000 pohon.

Awal bulan ini, regulator Finlandia memerintahkan perusahaan tersebut untuk menghentikan pekerjaan persiapan di kedua lokasi, dengan alasan kekhawatiran terkait penebangan hutan, penggalian, dan sistem drainase yang ekstensif. Pada tanggal 14 Oktober, pihak perusahaan mengonfirmasi mereka telah mematuhi perintah tersebut.

LVV juga telah memberikan peringatan bahwa kegiatan penggalian dan drainase di lokasi Muhos berpotensi melepaskan air yang bersifat asam dan terkontaminasi logam, mengingat adanya endapan batu serpih hitam (black shale) di area tersebut.

Regulator telah meminta agar rencana pengelolaan air yang lebih terperinci diserahkan paling lambat tanggal 5 November.

Manajer Google untuk Finlandia, Antti Jarvinen, menyampaikan permohonan maaf awal bulan ini atas penebangan hutan yang luas tersebut, namun ia menegaskan perusahaan telah bertindak sesuai dengan pemahaman mereka terhadap hukum Finlandia.

"Saya sangat menyesal bahwa kita berada dalam situasi seperti ini," ujarnya kepada lembaga penyiaran publik Finlandia, Yle.

Jarvinen mengatakan Google telah bekerja sama dengan pihak berwenang serta para ahli, namun ia menolak untuk menyebutkan pejabat mana saja yang telah diberi tahu mengenai pembersihan lahan tersebut.

Kontroversi ini muncul di tengah meningkatnya penentangan terhadap pembangunan pusat data di Amerika Serikat.

Masyarakat memprotes fasilitas-fasilitas tersebut karena kebutuhan listrik dan air yang sangat besar, potensi kerusakan lingkungan, serta kenaikan biaya utilitas.

Di Virginia, ratusan pengunjuk rasa baru-baru ini menuntut penghentian proyek-proyek baru.

Sementara di Arizona, warga menentang rencana pembangunan fasilitas serupa karena kekhawatiran akan kekurangan air dan tingginya biaya listrik.

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Pemenang Pemilu Serbia Berencana Gelar Perundingan Gas dengan Rusia
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 22:31 WIB
Militer Rusia Bersihkan Ranjau untuk Misi Bantuan Melania Trump
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 17:28 WIB
Finlandia Murka, Google Babat Hutan untuk Proyek Pusat Data
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 15:24 WIB
Putin Sambut Baik Telepon Langka dari 2 Pemimpin Negara NATO, Ini Alasannya
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 09:27 WIB