Masa muda harus menjadi momentum untuk membangun cita-cita besar, mengembangkan potensi diri, dan memberikan manfaat bagi umat. Foto ilustrasi/pngtree
Pemuda Muslim tidak seharusnya cepat puas dengan pencapaian yang telah diraih. Sebaliknya, masa muda harus menjadi momentum untuk membangun cita-cita besar, mengembangkan potensi diri, dan memberikan manfaat bagi umat. Islam bahkan mendorong setiap Muslim untuk memiliki semangat tinggi dalam meraih kebaikan dunia maupun akhirat.
Seorang ulama Salaf,
Ibnul Jauzi rahimahullah, pernah memberikan nasihat berharga tentang pentingnya memiliki cita-cita tinggi. Menurutnya, orang yang berakal semestinya berusaha menyempurnakan potensi dirinya hingga mencapai batas maksimal yang mampu diraih.
Beliau berkata, "Semestinya bagi orang yang berakal berupaya untuk menyempurnakan dirinya sampai pada batas maksimal yang dia mampu. Seandainya digambarkan kepada anak Adam dirinya dapat naik ke atas langit, sungguh aku memandang keridaannya tinggal di bumi ini merupakan kekurangan terburuk.
Jika saja kenabian dapat diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh, niscaya aku menilai orang-orang yang enggan mendapatkannya berada dalam puncak kerendahan. Perjalanan hidup yang baik, menurut para ahli hikmah, adalah keluarnya suatu jiwa menuju puncak kesempurnaan yang mungkin dalam keilmuan dan amalan." (kitab Awa'iquth Thalab halaman 51-52)
Ibnul Jauzi melanjutkan, seseorang semestinya tidak membiarkan satu pun keutamaan yang mungkin diraihnya berlalu begitu saja tanpa berusaha mendapatkannya.
"Secara ringkas, tidaklah ia tinggalkan suatu keutamaan pun yang mungkin bisa dia raih melainkan ia berusaha mendapatkannya. Karena sesungguhnya merasa cukup dengan kondisi dirinya adalah kondisi orang-orang yang rendah. Maka jadilah dirimu seorang yang kedua kakinya berpijak di atas tanah, akan tetapi cita-citanya berada pada bintang Tsurayya."
Nasihat tersebut mengandung pesan penting, terutama bagi generasi muda Islam. Seorang Muslim tidak boleh berhenti berusaha hanya karena merasa cukup dengan keadaan sekarang. Ia harus memiliki cita-cita mulia, semangat belajar, dan tekad kuat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Bahkan, orang yang telah lanjut usia, masyarakat awam dengan segala keterbatasannya, hingga orang yang tidak beriman sekalipun bisa memiliki impian besar dalam hidupnya. Tidak sedikit pula yang berhasil mewujudkan cita-cita tersebut melalui kerja keras dan kesungguhan.
Lantas, bagaimana dengan pemuda Muslim? Sudah semestinya generasi muda Islam memiliki cita-cita yang lebih tinggi. Bukan sekadar mengejar kesuksesan dunia, melainkan menjadikan pencapaian tersebut sebagai jalan untuk meraih keridaan Allah SWT.
Rasulullah SAW memberikan pedoman agar setiap Muslim senantiasa bersemangat mengejar sesuatu yang bermanfaat. Beliau bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
"Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah." (HR Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus memiliki kesungguhan dalam berusaha, senantiasa meminta pertolongan Allah, dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan.
3 Kunci Menjadi Pemuda Muslim yang Hebat
Untuk menjadi generasi muda yang unggul, seorang Muslim harus berani berbeda dalam hal kebaikan. Tidak cukup hanya memiliki mimpi besar, tetapi juga harus membekali diri dengan iman, ilmu, karya, dan doa.
Berikut tiga kunci yang perlu diperhatikan.
1. Menjadi pemuda yang menjunjung tinggi tauhid
Fondasi utama seorang pemuda Muslim adalah tauhid. Sebesar apa pun prestasi dan pencapaian seseorang, semuanya tidak akan bernilai apabila tidak dilandasi keimanan kepada Allah SWT.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku." (QS Adz-Dzariyat: 56)
Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah.
Karena itu, pemuda Muslim harus menjadikan tauhid sebagai landasan dalam menjalani kehidupan. Kesuksesan pendidikan, karier, bisnis, maupun berbagai bidang lainnya tidak boleh membuat seseorang melupakan tujuan penciptaannya.
Rasulullah SAW dan para sahabat telah memberikan teladan bagaimana kekuatan iman dan tauhid membentuk pribadi yang tangguh. Dengan pertolongan Allah, mereka mampu memberikan kontribusi besar bagi umat dan peradaban.
2. Berilmu, tekun menekuni bidangnya, dan tidak cepat puas
Tidak semua manusia harus menjadi ustaz, ulama, dokter, dosen, insinyur, atau menekuni profesi yang sama. Setiap orang memiliki kemampuan dan kelebihan masing-masing.
Hal ini juga terlihat pada kehidupan para sahabat Rasulullah SAW. Ada yang menekuni perdagangan seperti sebagian kaum Muhajirin, ada pula yang bertani sebagaimana banyak dilakukan kaum Anshar.
Perbedaan profesi bukanlah penghalang untuk menjadi pribadi yang mulia. Hal terpenting adalah bagaimana setiap Muslim mampu memberikan manfaat melalui bidang yang ditekuninya.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (Hadis yang dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami' No. 3289)
Oleh karena itu, pemuda Muslim harus bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan mengembangkan keahliannya. Jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dan jangan pula cepat berpuas diri ketika telah mencapai keberhasilan.
Teruslah belajar, berinovasi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Allah SWT berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ﴿٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب
"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (QS Al-Insyirah: 7-8)
Ayat ini mengingatkan agar seorang Muslim tidak berhenti berusaha setelah menyelesaikan satu pekerjaan. Selalu ada kesempatan untuk melakukan kebaikan dan menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat.
3. Menjadikan doa sebagai senjata
Sehebat apa pun kemampuan seorang pemuda, pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Karena itu, selain berusaha dan mengembangkan kemampuan, seorang Muslim tidak boleh melupakan doa. Sebab, Allah-lah yang memberikan kekuatan, kemudahan, dan keberhasilan kepada hamba-Nya.
Salah satu doa yang dianjurkan dalam Al-Qur'an adalah memohon kebaikan dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman:
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
"Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka'." (QS Al-Baqarah: 201)
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa doa tersebut termasuk doa yang paling sering diucapkan Rasulullah SAW. Keterangan ini tercantum dalam hadis riwayat Al-Bukhari.
Doa tersebut mengajarkan bahwa cita-cita seorang Muslim tidak boleh hanya berorientasi pada kesenangan dunia. Ia juga harus memikirkan keselamatan dan kebahagiaan kehidupan akhirat.
(wid)