Hegseth Pecat Jenderal Top AS karena Bocorkan Informasi Rahasia soal Perang Iran

img-redaksi Muhaimin
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 10:00 WIB
Hegseth Pecat Jenderal Top AS karena Bocorkan Informasi Rahasia soal Perang Iran
Letnan Jenderal Angkatan Darat Brett Sylvia dipecat dari jabatannya sebagai kepala strategi, perencanaan, dan kebijakan di Staf Gabungan Militer AS. Foto/Screengrab video Al Jazeera
A
A
A
WASHINGTON - Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth telah memecat Direktur Direktorat Strategi, Rencana, dan Kebijakan di Staf Gabungan Militer, Letnan Jenderal Brett Sylvia. Alasannya karena sang jenderal melakukan tindakan yang menurut Pentagon merupakan pelanggaran berat.

Langkah ini diambil di tengah laporan bahwa AS telah memperingatkan sekutu-sekutunya mengenai kemungkinan dimulainya kembali serangan terhadap Iran.



Seorang pejabat Departemen Perang mengatakan kepada Al Jazeera, "Sylvia telah bertemu dengan sejumlah jurnalis di luar Pentagon untuk membocorkan informasi rahasia."

"Sylvia sedang diselidiki karena membocorkan informasi rahasia mengenai perang Iran, perang antara Rusia dan Ukraina, serta hal lainnya," lanjut pejabat tersebut, yang dilansir Jumat (30/10/2026).

Menurut Pentagon, penyelidikan terhadap Sylvia masih berlangsung dan telah dirujuk ke Departemen Kehakiman untuk tindakan lebih lanjut.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa Sylvia adalah kepala perencana militer di Departemen Pertahanan. "Namun bukan perencana utama untuk perang melawan Iran," katanya.

"Tanggung jawab tersebut berada di tangan CENTCOM [Komando Pusat] dan komandannya, Laksamana [Brad] Cooper," imbuh dia.

Pemecatan Sylvia terjadi di tengah seringnya Trump melontarkan gagasan untuk memulai operasi militer baru terhadap Iran.

Dia merupakan orang kedua yang didepak dari jabatan tersebut—yang di kalangan militer dikenal sebagai J5—di bawah kepemimpinan Hegseth. Pendahulunya dipaksa pensiun pada Oktober tahun lalu.

"Sylvia gagal dalam tiga kali tes poligraf yang menanyakan perihal kebocoran informasi rahasia," ungkap pejabat Pentagon tersebut, seraya menuduh Sylvia telah membahayakan keamanan nasional.

"Tindakan mendesak diperlukan dan tidak bisa ditunda sedetik pun," pungkasnya.

Menurut seorang pejabat yang berbicara kepada kantor berita The Associated Press dengan syarat anonim, belum ada pengganti untuk Sylvia saat ini.

Sebelum bertugas di Staf Gabungan Militer, Sylvia menjabat sebagai komandan Divisi Lintas Udara ke-101 di Fort Campbell, Kentucky, hingga Mei 2025, menurut biografi resminya, yang kini telah dihapus dari situs daring. Dia juga pernah menjabat sebagai wakil direktur untuk kantor yang baru saja dia pimpin tersebut.

Penghargaan militer yang diterimanya mencakup enam medali Bronze Star—satu di antaranya diberikan atas keberanian dalam pertempuran—serta medali Purple Heart, yang menandakan bahwa dia pernah terluka dalam pertempuran.

Sean Parnel, asisten menteri perang untuk urusan publik, menyatakan dalam sebuah unggahan di X pada hari Kamis: "Departemen Perang tidak menoleransi sama sekali tindakan pembocoran informasi rahasia secara sengaja dan tanpa izin." Dia tidak menyebut nama Sylvia secara spesifik.

Sylvia merupakan pejabat senior Pentagon terkini yang dituduh oleh Hegseth telah membocorkan informasi kepada media. Tahun lalu, Hegseth memecat tiga staf dari lingkaran dalamnya sebagai bagian dari penyelidikan yang lebih luas terkait kebocoran informasi, yang juga mencakup penggunaan tes poligraf.

Presiden Donald Trump telah berjanji untuk "menyelesaikan tugas" di Iran—setelah memulai perang bersama Israel delapan bulan lalu—dan menyatakan akan melakukannya setelah pemilu sela pada Selasa mendatang.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Fasilitas Senjata Nuklir AS Terbakar, Ada Apa di Dalamnya?
International
Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:35 WIB
Hegseth Pecat Jenderal Top AS saat Trump Pertimbangkan Serang Iran
International
Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:39 WIB