Presiden Rusia Vladimir Putin mengonfirmasi telah menerima telepon yang jarang terjadi dari dua pemimpin negara NATO. Foto/Kremlin.ru
MOSKOW - Presiden Rusia
Vladimir Putin menyambut baik panggilan telepon yang langka terjadi dari para pemimpin Finlandia dan Norwegia, dua negara NATO di kawasan Nordik. Putin mengatakan Moskow selalu mendukung upaya menormalisasi hubungan dengan negara-negara Eropa.
Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store menelepon Putin pada hari Selasa. Langkah tersebut mematahkan praktik yang selama ini dijalankan para pemimpin Eropa Barat, yakni menghindari kontak langsung dengan Moskow sejak perang Rusia-Ukraina pecah pada Februari 2022.
Inisiatif itu menuai kritik dari Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen. Dia mempertanyakan efektivitas langkah tersebut dan mengatakan bahwa pembicaraan itu tidak dikoordinasikan dengan mitra-mitra Eropa lainnya.
Berbicara dalam konferensi pers di Kremlin pada Kamis, Putin mengatakan dirinya menyambut baik dialog dengan negara-negara Barat meskipun mereka memberikan dukungan militer kepada Ukraina dan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.
"Saya menilai langkah tersebut merupakan tindakan yang tepat. Bagaimanapun, ada orang-orang di Eropa yang, tidak seperti sebagian lainnya, tidak ingin memberikan 'kekalahan strategis' kepada Rusia, melainkan ingin membangun semacam dialog konstruktif," kata Putin, sebagaimana dikutip dari
Russia Today, Jumat (30/10/2026).
Dia menambahkan, "Rusia akan mendukung setiap langkah yang bertujuan memulihkan hubungan yang utuh dan menyeluruh dengan negara-negara Eropa, baik melalui Uni Eropa (UE) secara keseluruhan maupun melalui hubungan bilateral."
Putin kembali menegaskan bahwa Rusia tidak menginginkan konflik yang lebih luas dengan UE maupun NATO.
"Kami tidak menginginkan perang dengan Eropa. Jika sebagian dari mereka menginginkannya, silakan bersiap. Namun, mereka belum mencapai tujuan untuk memberikan 'kekalahan strategis' kepada Rusia, dan kemungkinan besar hal itu juga tidak akan terwujud hingga 2030," ujarnya.
"Dan jika situasi berkembang terlalu jauh, tidak akan ada pihak yang menang sama sekali. Jangan sampai ada yang melupakan hal itu," imbuh dia.
Para pemimpin Norwegia dan Finlandia mengatakan mereka berupaya menyampaikan pesan secara langsung kepada Putin mengenai negosiasi mendatang untuk membantu mengakhiri perang Ukraina. Pembicaraan tersebut dilakukan menjelang perundingan Rusia-Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat (AS) dan diperkirakan berlangsung di Abu Dhabi dalam waktu dekat.
Mereka menggambarkan percakapan itu sebagai tindak lanjut dari pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Oslo pada 20 Oktober.
Rusia dan Norwegia Bantah Laporan soal Isi Percakapan Putin
Norwegia dan Kremlin membantah laporan surat kabar Inggris
Financial Times yang menyebut Putin menghabiskan sebagian besar waktu dalam percakapan tersebut untuk menceramahi lawan bicaranya mengenai sejarah Rusia dan bangsa Slavia.
Stubb selama ini membangun hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump. Keduanya kerap membahas konflik Ukraina sehingga pemimpin Finlandia itu mendapat julukan "pembisik Trump" di media Barat.
Pemimpin Finlandia tersebut juga menekankan panjangnya pengalaman negaranya dalam menghadapi Rusia. Finlandia berbatasan langsung dengan Rusia sepanjang 1.340 kilometer dan mampu mempertahankan hubungan damai, meskipun terkadang diwarnai ketegangan, dengan Moskow selama Perang Dingin.
Panggilan telepon tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Kyiv dan Washington. Situasi itu terjadi setelah Trump mencabut sanksi terhadap ekspor solar Rusia dan kemudian memberikan pengecualian terhadap pembatasan tambahan.
Langkah Trump tersebut menyusul penolakan Zelensky untuk menghentikan serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia. Trump menyalahkan serangan tersebut sebagai salah satu penyebab melonjaknya harga bahan bakar.
Moskow berulang kali menuduh para pemimpin Eropa menyabotase perundingan damai Rusia-Ukraina pada 2022 dan berupaya merusak usaha Trump yang sedang berlangsung untuk menengahi kesepakatan mengakhiri perang.
(mas)