Usai Ditelepon 2 Pemimpin Negara NATO, Putin Tembakkan Rudal Antarbenua Berkemampuan Nuklir

img-redaksi Muhaimin
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 08:07 WIB
Usai Ditelepon 2 Pemimpin Negara NATO, Putin Tembakkan Rudal Antarbenua Berkemampuan Nuklir
Rusia uji tembak rudal balistik antarbenua Bulava dari kapal selam. Misil ini mampu membawa hulu ledak nuklir. Foto/Kementerian Pertahanan Rusia/Ulusavunma
A
A
A
MOSKOW - Rusia mengumumkan telah menguji tembak rudal balistik antarbenua (ICBM) dari kapal selam bertenaga nuklir. Manuver ini berlangsung tak lama setelah percakapan telepon yang langka antara Presiden Vladimir Putin dan dua pemimpin negara anggota NATO, skandal percakapan yang mengungkap perpecahan dalam persatuan politik Eropa.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa ICBM Bulava yang mampu membawa hulu ledak nuklir telah ditembakkan dari kapal selam Generalissimo Suvorov pada hari Rabu. Misil itu diuji tembak di Laut Okhotsk, kawasan barat laut Samudra Pasifik.

ICBM Bulava diklaim memiliki jangkauan lebih dari 5.000 mil atau sekitar 8.000 kilometer. Bersama kapal selam pembawa rudal balistik kelas Borei milik Rusia, rudal tersebut menjadi bagian penting dari strategi Kremlin untuk mencegah serangan nuklir terhadap negaranya atau melancarkan serangan balasan jika Rusia lebih dahulu diserang.

Sekadar diketahui, setiap kapal selam kelas Borei mampu membawa hingga 16 rudal Bulava.

Rudal tersebut diarahkan menuju lokasi pengujian Chizha di wilayah Arkhangelsk, Rusia bagian barat. Lokasi itu menghadap ke Laut Putih dan berada tidak jauh dari Norwegia serta Finlandia, dua negara anggota NATO.

Meskipun Rusia sesekali menggunakan kapal selamnya yang sulit dilacak untuk menguji peluncuran rudal berkemampuan nuklir, uji coba terbaru ini berlangsung tidak lama setelah Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store mengungkapkan bahwa mereka telah berbicara dengan Putin.

Menurut keterangan resmi yang diterbitkan pemerintah Finlandia, kedua pemimpin negara Nordik tersebut "menginisiasi panggilan telepon" untuk membahas perang Ukraina dan upaya mengakhiri konflik berkepanjangan itu.

Pembicaraan tersebut mencakup rencana pertemuan tiga pihak antara Moskow, Washington, dan Kyiv di Abu Dhabi bulan depan, serta berbagai persoalan keamanan Eropa secara lebih luas.

Kremlin mengatakan Norwegia dan Finlandia yang meminta percakapan tersebut. Dalam pembicaraan itu, Putin menuduh Uni Eropa dan NATO memperpanjang perang melalui "kebijakan konfrontatif".

Kedua negara tersebut merupakan anggota NATO yang berbatasan langsung dengan Rusia. Keduanya kini berlomba memperkuat militer dan meningkatkan anggaran pertahanan di tengah peringatan dari berbagai negara anggota aliansi bahwa Rusia berpotensi menyerang wilayah NATO dalam beberapa tahun mendatang.

Rusia telah lama mengkritik dukungan negara-negara Eropa terhadap Ukraina. Norwegia, Finlandia, dan Denmark termasuk di antara pendukung paling kuat Kyiv.

Namun, dalam sebuah pertunjukan perbedaan sikap yang tidak biasa di hadapan publik di antara negara-negara tetangga Nordik, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengaku "sangat skeptis" terhadap percakapan telepon dengan pemimpin Rusia tersebut. Dia juga menyiratkan bahwa kontak langsung dengan Kremlin hanya akan menghasilkan sedikit kemajuan.

"Saya pikir kita harus menjaga Eropa tetap bersatu daripada bertindak sendiri-sendiri," kata Frederiksen kepada media Denmark, yang dikutip Newsweek, Jumat (30/10/2026).

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menyerukan agar negara-negara Eropa menerapkan "kehati-hatian dan kewaspadaan mutlak" dalam menjalin komunikasi dengan Putin.

"Setiap kontak dengan Rusia harus didukung oleh posisi yang bersatu," kata Menteri Luar Negeri Lithuania Kestutis Budrys dalam pernyataan yang diunggah di media sosial.

"Berkomunikasi dengan Putin satu per satu dan tanpa agenda yang jelas tidak pernah berhasil bagi Eropa. Tidak sekali pun," lanjutnya.

"Saya memiliki ekspektasi yang cukup rendah terhadap percakapan semacam ini," kata Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson, yang mengaku tidak diberi tahu sebelumnya mengenai pembicaraan tersebut.

Stubb dan Store mengatakan mereka telah "berkonsultasi secara menyeluruh dengan seluruh mitra kami". Namun, keduanya menegaskan bahwa mereka tidak bertindak sebagai juru bicara Eropa secara keseluruhan.

Komunikasi dengan Kremlin menjadi persoalan sensitif bagi Eropa yang berupaya menunjukkan persatuan di tengah sikap Amerika Serikat (AS) yang tidak terduga dan kerap meremehkan sekutunya di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Situasi semakin rumit dengan adanya pendekatan Gedung Putih terhadap Kremlin.

Ketika mantan Kanselir Jerman Olaf Scholz menelepon Putin pada November 2024, Estonia menyebut langkah tersebut sebagai "kesalahan strategis". Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kontak tersebut telah membuka "kotak Pandora".

Pada Selasa, Stubb mengatakan kepada wartawan bahwa Helsinki tidak pernah membicarakan Ukraina tanpa melibatkan Ukraina. Namun, dia menegaskan kesepakatan damai tidak akan tercapai "melalui sikap diam".

Zelensky mengatakan dirinya berterima kasih kepada Stubb dan Store atas "penjelasan terperinci" mengenai percakapan telepon tersebut.

Sementara itu, diplomat tertinggi Ukraina, Andrii Sybiha, mengatakan negaranya telah terus mendapatkan informasi mengenai perkembangan pembicaraan tersebut.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Pemenang Pemilu Serbia Berencana Gelar Perundingan Gas dengan Rusia
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 22:31 WIB
Militer Rusia Bersihkan Ranjau untuk Misi Bantuan Melania Trump
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 17:28 WIB
Finlandia Murka, Google Babat Hutan untuk Proyek Pusat Data
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 15:24 WIB
Putin Sambut Baik Telepon Langka dari 2 Pemimpin Negara NATO, Ini Alasannya
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 09:27 WIB