Gedung Toyota atau Toyota Building jadi gedung megah pertama di gurun pasir Dubai saat dibangun tahun 1974 (foto kiri). Gedung ikonik ini sekarang akan dirobohkan. Foto/Gulf Today/Khaleej Times
DUBAI - Ketika dibangun di tepi gurun pasir lebih dari empat dekade lalu, sebuah gedung setinggi 15 lantai berdiri megah di atas lanskap
Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), yang saat itu masih merupakan kota kecil yang tenang dan sederhana.
Kini, bangunan tersebut tampak kontras dengan deretan gedung pencakar langit mewah di sekelilingnya. Gedung yang dikenal dengan nama Toyota Building (Gedung Toyota) itu dijadwalkan akan dirobohkan setelah para penghuninya pindah beberapa pekan lalu.
Terletak tidak jauh dari bangunan-bangunan menjulang seperti Burj Khalifa yang memiliki 163 lantai, gedung tersebut telah menyaksikan pesatnya perkembangan Dubai. Kota yang pada 1970-an hanya dihuni kurang dari 200.000 orang itu kini berkembang menjadi pusat global dengan populasi lebih dari 4 juta jiwa.
Hani Al-Qassem (57), warga yang telah lama menetap di Dubai, mengenang masa lalu kawasan tersebut. "Daerah (tempat gedung itu berdiri) dahulu dianggap sebagai gerbang menuju gurun," katanya.
Qassem, yang pindah ke Dubai bersama keluarganya pada 1974, menceritakan bahwa warga dahulu mengenali kawasan tersebut melalui sebuah
landmark yang disebut "Defence Roundabout".
Landmark itu kini telah berubah menjadi sebuah persimpangan yang menghubungkan berbagai bangunan komersial, perkantoran, hotel mewah, serta Dubai Mall yang megah.
Arsitek sekaligus penulis Todd Reisz mengatakan pembangunan gedung tersebut dimulai pada 1974, bertepatan dengan pembangunan Dubai World Trade Centre.
Dia menunjuk sebuah foto dalam bukunya yang berjudul
Showpiece City: How Architecture Made Dubai, yang diambil pada Februari 1979. Foto tersebut memperlihatkan bangunan itu hampir selesai dibangun.
Pengosongan Gedung
Reisz mengatakan keberadaan gedung tersebut menjadi kontras dengan perubahan besar Sheikh Zayed Road, yang hingga 1990-an dikenal sebagai Abu Dhabi Road, menjadi jalur utama yang mengarahkan perkembangan pembangunan di Dubai.
Awalnya, bangunan itu bernama Nasser Rashid Lootah. Namun, gedung tersebut kemudian identik dengan produsen mobil Jepang, Toyota, setelah perusahaan itu memasang papan iklan berwarna merah yang menampilkan nama Toyota dalam bahasa Inggris pada 1981.
Saat ini, bangunan tersebut terlihat ketinggalan zaman jika dibandingkan dengan gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya. Meski demikian, sebagian orang menganggapnya sebagai salah satu penghubung langka dengan masa lalu Dubai yang kini hampir sepenuhnya menghilang.
Nasser Rashid Lootah Group, perusahaan yang mengelola properti tersebut, sebelumnya telah memberi tahu media lokal mengenai keputusan untuk membongkar gedung itu paling lambat pada 2027. Namun, perusahaan tersebut menolak menanggapi permintaan komentar dari
AFP.
Himanshu (29), yang telah tinggal di gedung tersebut selama tiga tahun sebelum akhirnya terpaksa pindah baru-baru ini, mengatakan keputusan itu datang secara tiba-tiba dan mengejutkan.
"Tiba-tiba, pihak berwenang datang dan memutus aliran listrik. Ini menjadi masa yang sangat sulit bagi kami. Kami tidak tahu apa-apa," katanya.
Dubai setiap tahun menarik jutaan wisatawan serta pekerja dari berbagai belahan dunia.
Citra kota tersebut sebagai tempat berlindung yang aman di kawasan yang dilanda gejolak sempat terpukul selama perang di Timur Tengah, ketika Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah landmark utamanya.
Reisz mencatat bahwa sejak pergantian abad, Toyota Building dihuni oleh sebagian warga Dubai dengan kondisi ekonomi lebih terbatas, yang sebagian besar berasal dari Asia Selatan. Hal itu terjadi ketika kawasan di sekitarnya mulai ditetapkan untuk pengembangan properti yang jauh lebih mewah.
Dari kamar sederhananya, Himanshu bisa menikmati pemandangan Burj Khalifa tanpa terhalang bangunan lain. Semua itu bisa dinikmatinya dengan membayar uang sewa bulanan sebesar 1.600 dirham atau sekitar USD430 (sekitar Rp7,76 juta).
Angka tersebut sangat jauh di bawah harga sewa properti pada umumnya di kawasan tersebut, yang bahkan bisa mencapai lima kali lipat lebih mahal.
Jacques Brent, direktur pelaksana diler Toyota Al-Futtaim, mengatakan lokasi gedung yang strategis memberikan kesempatan luar biasa bagi perusahaan untuk menampilkan papan iklannya.
Dia mengatakan kepada
AFP bahwa bagi banyak orang, landmark seperti Toyota Building memiliki keterkaitan erat dengan "era Dubai yang lebih awal".
"Gedung yang Sangat Istimewa"
Namun, bangunan tersebut kini menjadi salah satu peninggalan terakhir dari sejarah Dubai yang perlahan menghilang dengan cepat.
"Bangunan ini sangat istimewa bagi saya," kata Himanshu, yang mendirikan sebuah agen perjalanan.
"Bangunan ini juga merupakan bagian dari perjalanan profesional saya. Saya memulai bisnis dari gedung ini."
Pengosongan Toyota Building berlangsung bersamaan dengan upaya pemerintah setempat untuk menindak praktik penyekatan kamar secara ilegal dan kondisi hunian yang terlalu padat.
Pada Agustus, emirat Dubai memberlakukan undang-undang untuk mengatur hunian bersama, mengatasi kepadatan penghuni dan pengaturan tempat tinggal yang tidak terkontrol, sekaligus menjaga keindahan tata kota.
Toyota Building tidak luput dari kebijakan tersebut. Menurut Himanshu, terkadang satu unit apartemen di gedung itu dihuni hingga 15 orang.
Pemerintah Dubai tidak menanggapi permintaan komentar dari
AFP.
Bagi Rana, warga negara Pakistan berusia 29 tahun yang telah tinggal di gedung tersebut selama enam tahun dan mengelola sebuah kafetaria di lantai dasar, Toyota Building menyimpan "banyak kenangan".
"Toyota Building adalah keluarga saya... Saya akan merindukannya."
(mas)