Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Donald Trump berbincang di telepon. Foto/mehr
ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melalui sambungan telepon pada hari Rabu bahwa Turki terus memantau perkembangan di Selat Hormuz dan Yaman. Erdogan juga mendukung upaya diplomatik untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Demikian disampaikan kantor komunikasi kepresidenan Turki.
Sementara itu, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menantang klaim militer AS yang menyatakan telah sepenuhnya membersihkan Selat Hormuz dari ranjau laut.
Brigadir Jenderal Hossein Mohebi meminta Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk "membuktikan klaim pembersihan ranjau di Hormuz dengan bukti independen, bukan sekadar pernyataan."
"Realitas di Selat Hormuz terjadi di langit, daratan, dan lautan—bukan di dunia maya ataupun di ruang kendali perang media Amerika," ujar Mohebi dalam pernyataan.
Komentar tersebut muncul setelah Angkatan Laut IRGC menyatakan tiga kapal tanker energi terbakar setelah menabrak ranjau di selat tersebut.
Di Yaman, kelompok Houthi menyatakan telah mencatat 101 serangan udara dalam 24 jam terakhir, menurut laporan rekan-rekan media di lapangan.
Sebelumnya, sejumlah media yang berafiliasi dengan kelompok yang didukung Iran tersebut melaporkan serangkaian serangan udara di distrik Dhubab dan Mocha.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah korban jiwa di Yaman telah meningkat menjadi 1.677 orang, dengan 7.395 orang lainnya mengalami luka-luka sejak eskalasi konflik pada bulan September.
Marib dilaporkan sebagai front paling "mematikan" dalam perang ini, disusul oleh Taiz dan Lahij.
WHO juga menyatakan 276.301 orang telah mengungsi akibat pertempuran yang kembali berkecamuk tersebut.
(sya)