Kenaikan harga bahan bakar terlihat pada papan informasi di stasiun pengisian bahan bakar di Berlin, Jerman, pada 11 Maret 2026. Foto/Halil Sa??rkaya/Anadolu Agency
DOHA - Perusahaan energi raksasa asal Inggris, Shell, menyatakan pada hari Kamis (29/10/2026) bahwa laba bersih kuartalan yang disesuaikan meningkat dua kali lipat menjadi USD10,8 miliar, naik dari USD5,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak dan gas yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, demikian dilaporkan Anadolu.
Berdasarkan laporan keuangan kuartalan terbarunya, laba bersih perusahaan tercatat mencapai USD12,1 miliar, dengan pendapatan mendekati USD93 miliar.
Harga energi meningkat menyusul serangan terhadap kilang-kilang minyak di Timur Tengah dan Rusia, serta gangguan pada jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.
Penurunan output kilang telah memperketat pasokan produk minyak olahan, termasuk bensin dan diesel, yang kemudian mendorong kenaikan harga dan memberikan keuntungan bagi perusahaan perdagangan energi seperti Shell.
Shell juga mencatat pendapatan yang lebih tinggi dari gas alam cair (LNG), seiring dengan harga gas di Eropa yang menembus angka di atas 100 euro (USD111) per megawatt-jam—tingkat harga yang terakhir kali terlihat selama krisis energi tahun 2022, menyusul dimulainya perang Rusia-Ukraina.
Peningkatan laba ini juga diperkirakan akan menguntungkan para pemegang saham Shell, mengingat perusahaan telah mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) senilai USD5 miliar dan tetap mempertahankan dividen kuartalannya. Saham Shell sempat naik lebih dari 3% dalam perdagangan tengah pagi di London.
Lonjakan laba Shell juga menuai kritik dari para pegiat lingkungan.
"Di saat suhu mencatatkan rekor tertinggi, laba perusahaan-perusahaan minyak pun turut mencatatkan rekor," tulis Greenpeace melalui platform media sosial Instagram, sembari mendesak adanya perjanjian pajak global untuk perusahaan bahan bakar fosil.
"Model bisnis mereka benar-benar bergantung pada bencana, dan itu adalah pilihan yang disengaja: keuntungan mereka adalah kerugian bagi kita," ungkap Greenpeace.
(sya)