Masa muda merupakan kesempatan yang tidak akan terulang, karena itu, mengisinya dengan ibadah, menuntut ilmu, bekerja secara halal, dan membantu sesama menjadi langkah penting untuk meraih kebaikan di dunia maupun akhirat. Foto ilustrasi/ist
Pemuda memiliki peran penting dalam menentukan masa depan bangsa. Dalam Islam, masa muda juga menjadi fase istimewa yang penuh potensi untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, serta memberikan manfaat bagi sesama.
Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad menjelaskan berbagai
keutamaan pemuda. Di antaranya adalah keberanian membela kebenaran, keteguhan menjaga keimanan, kemampuan mengendalikan hawa nafsu, hingga kesabaran menghadapi ujian kehidupan.
Masa muda bukan sekadar waktu untuk mengejar cita-cita dan kesuksesan duniawi. Fase ini juga merupakan kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebelum datangnya masa tua.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 13 keutamaan pemuda dalam Islam yang patut menjadi renungan.
1. Pemuda Memiliki Keberanian Membela Kebenaran
Keberanian menjadi salah satu karakter yang tercermin dalam kisah para pemuda beriman pada zaman Nabi Musa AS. Mereka tetap memercayai risalah Nabi Musa meskipun harus menghadapi ancaman Fir'aun dan para pembesarnya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus ayat 83:
فَمَآ اٰمَنَ لِمُوْسٰٓى اِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّنْ قَوْمِهٖ عَلٰى خَوْفٍ مِّنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهِمْ اَنْ يَّفْتِنَهُمْۗ وَاِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِى الْاَرْضِۚ وَاِنَّهٗ لَمِنَ الْمُسْرِفِيْنَ
Artinya: "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain keturunan dari kaumnya dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan para pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sungguh, Fir'aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas." (QS Yunus: 83).
Ayat ini menggambarkan keteguhan orang-orang yang beriman di tengah ancaman penguasa zalim. Keberanian dalam Islam bukan berarti bertindak gegabah, melainkan tetap teguh memegang kebenaran meskipun menghadapi tekanan.
2. Pemuda Mendapat Petunjuk dari Allah
Al-Qur'an juga mengabadikan kisah para pemuda penghuni gua atau Ashabul Kahfi. Mereka mempertahankan keimanan di tengah lingkungan yang menentang keyakinan mereka.
Allah SWT berfirman:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
Artinya: "Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka." (QS Al-Kahfi: 13).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keimanan para pemuda Ashabul Kahfi menjadi sebab bertambahnya petunjuk dari Allah. Mereka berani mempertahankan keyakinan meskipun harus meninggalkan kenyamanan demi menyelamatkan agama.
3. Pemuda yang Tumbuh dalam Ibadah Mendapat Naungan Allah
Salah satu keutamaan besar bagi pemuda adalah tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Rasulullah SAW menyebut pemuda yang menghabiskan masa mudanya dalam ibadah sebagai salah satu golongan yang memperoleh naungan Allah pada hari kiamat.
Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Salah satunya adalah:
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
Artinya: "Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya."
Golongan lainnya meliputi pemimpin yang adil, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, orang yang menolak ajakan berbuat maksiat karena takut kepada Allah, orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, serta orang yang berzikir sendirian hingga meneteskan air mata.
Hadis ini menegaskan bahwa masa muda merupakan kesempatan penting untuk membangun kebiasaan beribadah yang akan menjadi bekal sepanjang kehidupan.
4. Pemuda Menjadi Pengikut Awal Dakwah Rasulullah
Dalam penjelasan tafsir Ibnu Katsir mengenai dakwah para nabi, kalangan muda termasuk kelompok yang banyak merespons seruan kebenaran.
Sejarah Islam mencatat sejumlah sahabat yang memeluk Islam pada usia muda. Ali bin Abi Thalib, misalnya, dikenal sebagai salah satu orang pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW ketika masih belia. Zaid bin Haritsah dan sejumlah sahabat lainnya juga termasuk generasi awal yang mendukung dakwah Nabi.
Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mengambil peran besar dalam perjuangan agama. Sebaliknya, semangat, keberanian, dan kesediaan belajar dapat menjadikan pemuda sebagai penggerak perubahan.
5. Pemuda yang Mampu Mengendalikan Hawa Nafsu Dicintai Allah
Masa muda kerap diwarnai oleh berbagai godaan. Karena itu, kemampuan mengendalikan hawa nafsu menjadi salah satu keutamaan yang patut diperjuangkan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ
Artinya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah."
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dengan sejumlah jalur periwayatan.
Dalam kitab Faidhul Qadir, istilah shabwah dalam konteks hadis tersebut dijelaskan berkaitan dengan kecenderungan mengikuti hawa nafsu. Dengan demikian, pesan yang dapat diambil adalah pentingnya menjaga diri dari perilaku maksiat dan tidak membiarkan dorongan sesaat menguasai kehidupan.
Pemuda yang mampu menjaga kehormatan diri, mengendalikan emosi, dan memilih ketaatan di tengah godaan menunjukkan kematangan iman yang patut diteladani.
6. Masa Muda Akan Dipertanggungjawabkan di Hadapan Allah
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu dan amal yang telah dijalaninya. Masa muda secara khusus disebut dalam hadis sebagai salah satu perkara yang akan ditanyakan pada hari kiamat.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
Artinya: "Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan." (HR At-Tirmidzi).
Hadis ini mengingatkan bahwa umur, ilmu, harta, dan tubuh merupakan amanah. Masa muda pun harus dimanfaatkan untuk kegiatan yang bermanfaat, bukan dihabiskan dalam kelalaian.
7. Rasulullah Menganjurkan Memanfaatkan Masa Muda
Rasulullah SAW memberikan nasihat agar umat Islam memanfaatkan berbagai kesempatan sebelum kesempatan tersebut hilang.
Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya: "Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).
Pesan ini mengajarkan pentingnya menggunakan waktu secara bijaksana. Selagi masih muda dan memiliki tenaga, seseorang dapat memperbanyak belajar, bekerja, beribadah, serta melakukan kegiatan sosial yang membawa manfaat.
8. Pemuda Dapat Menjadi Teladan dalam Kesabaran
Kisah Habil dan Qabil dalam Al-Qur'an memberikan pelajaran mengenai kesabaran dan pengendalian diri ketika menghadapi ancaman.
Allah SWT menceritakan bahwa Qabil mengancam akan membunuh saudaranya, Habil, setelah kurbannya tidak diterima. Namun, Habil menolak membalas ancaman itu dengan tindakan serupa.
Allah berfirman:
لَئِنْۢ بَسَطْتَ اِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِيْ مَآ اَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَّدِيَ اِلَيْكَ لِاَقْتُلَكَۚ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya: "Sungguh, jika engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam." (QS Al-Ma'idah: 28).
Kisah Habil dan Qabil berlanjut hingga Qabil membunuh saudaranya sendiri. Peristiwa tersebut menjadi peringatan tentang bahaya iri hati dan hawa nafsu yang tidak terkendali.
Pelajaran bagi generasi muda adalah bahwa menghadapi kebencian tidak harus dengan kekerasan. Kesabaran, ketakwaan, dan kemampuan menahan diri justru menjadi tanda kekuatan karakter.
9. Pemuda Diajarkan untuk Berkorban dan Bersabar
Kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, juga menggambarkan keteguhan iman serta kesediaan menaati perintah Allah.
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: "Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS Ash-Shaffat: 102).
Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Allah mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar setelah keduanya menunjukkan kepatuhan.
Kisah ini mengajarkan bahwa ketaatan, kesabaran, dan pengorbanan merupakan nilai penting yang perlu ditanamkan sejak muda.
10. Kisah Nabi Yusuf Mengajarkan Pemuda Menjaga Diri dan Bersabar
Kisah Nabi Yusuf AS dalam Al-Qur'an mengandung banyak pelajaran bagi generasi muda, mulai dari menjaga diri, menghadapi kecemburuan, hingga bersabar ketika diperlakukan tidak adil.
Ketika masih muda, Yusuf menceritakan mimpinya kepada sang ayah, Nabi Ya'qub AS. Ia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya.
Allah berfirman:
اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ
Artinya: "(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku! Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.'" (QS Yusuf: 4).
Nabi Ya'qub kemudian mengingatkan Yusuf agar tidak menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya karena khawatir mereka akan membuat tipu daya.
Di kemudian hari, Yusuf juga mengalami kezaliman ketika saudara-saudaranya memasukkannya ke dalam sumur. Namun, Allah memberikan pertolongan dan menguatkannya menghadapi ujian tersebut.
Kisah ini mengingatkan pemuda agar tidak mudah putus asa ketika menghadapi perlakuan buruk. Kesabaran dan kepercayaan kepada Allah menjadi bekal untuk melewati kesulitan.
11. Pemuda Dianjurkan Menyeru kepada Kebaikan
Pemuda juga memiliki kesempatan besar untuk menyebarkan kebaikan melalui perkataan, tindakan, dan keteladanan.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?'" (QS Fussilat: 33).
Ayat ini menegaskan bahwa perkataan yang baik harus disertai amal saleh. Karena itu, pemuda dapat berdakwah dengan cara yang santun, menyampaikan ilmu yang benar, membantu sesama, dan menunjukkan akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari.
12. Pemuda Perlu Meneladani Kesalehan Sejak Dini
Kisah para nabi menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk menerima tanggung jawab besar. Nabi Yusuf AS, misalnya, telah menunjukkan keteguhan karakter sejak belia, sedangkan Nabi Ismail AS memberikan teladan ketaatan dan kesabaran dalam kisah pengorbanan bersama Nabi Ibrahim AS.
Pelajaran yang dapat diambil bukanlah bahwa semua nabi diangkat menjadi nabi ketika masih remaja, melainkan bahwa pembentukan iman dan akhlak perlu dimulai sejak dini.
Dengan membiasakan ibadah, memperdalam ilmu agama, dan menjaga perilaku, pemuda dapat membangun fondasi kehidupan yang lebih baik.
13. Pemuda Dianjurkan Rajin Bekerja dan Memberi Manfaat
Islam tidak hanya mendorong pemuda untuk tekun beribadah, tetapi juga mengajarkan pentingnya bekerja dan menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.
Allah SWT berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Artinya: "Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'" (QS At-Taubah: 105).
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap pekerjaan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, pemuda hendaknya mengembangkan kemampuan, bekerja dengan jujur, dan menggunakan ilmunya untuk memberikan manfaat bagi keluarga serta masyarakat.
Kedudukan Penting
Berbagai kisah dan dalil tersebut menunjukkan bahwa masa muda memiliki kedudukan penting dalam Islam. Pemuda diharapkan bukan hanya memiliki semangat dan cita-cita, melainkan juga keimanan, kesabaran, tanggung jawab, serta kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
Masa muda merupakan kesempatan yang tidak akan terulang. Karena itu, mengisinya dengan ibadah, menuntut ilmu, bekerja secara halal, dan membantu sesama menjadi langkah penting untuk meraih kebaikan di dunia maupun akhirat.
(wid)