Pemimpin Partai Joint List Yousef Jabareen menyampaikan pidato di tengah perayaan para pendukung menyusul pengumuman hasil jajak pendapat (exit poll) setelah tempat pemungutan suara ditutup dalam pemilihan umum Israel, di kantor pusat Joint List di Nazare
TEL AVIV - Aliansi Arab Bersama (The Joint Arab List) menyatakan kesiapannya untuk menggunakan sarana politik dan parlementer yang dimilikinya guna membantu mengakhiri kekuasaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta membuka jalan bagi pemerintahan alternatif. Hal ini disampaikan pemimpin aliansi tersebut, Yousef Jabareen, pada hari Rabu (28/10/2026).
Pernyataan itu muncul beberapa jam sebelum penghitungan suara dalam pemilihan umum Israel rampung.
Jabareen mengatakan aliansinya berupaya memanfaatkan pengaruh politik mereka untuk memengaruhi hasil pemilihan umum serta pembentukan pemerintahan berikutnya.
Ia menegaskan, setiap pengaturan politik alternatif harus mempertimbangkan tuntutan komunitas Arab Palestina di Israel.
Tuntutan aliansi tersebut mencakup rencana pendanaan untuk memerangi kejahatan dan kekerasan di kota-kota Arab, penghentian penghancuran rumah, serta proses politik serius yang mengarah pada pembentukan negara Palestina.
Aliansi Arab Bersama menyatakan tidak akan memberikan dukungan politik tanpa syarat; mereka mengaitkan kesepakatan apa pun di masa depan dengan pemenuhan tuntutan politik dan sosial mereka.
Namun, sejumlah partai oposisi Israel menentang gagasan untuk mengandalkan dukungan dari partai-partai Arab dalam membentuk pemerintahan.
Hasil sementara pemilihan umum menunjukkan blok Netanyahu memperoleh 54 kursi, sementara blok partai oposisi Zionis meraih 47 kursi. Sebanyak 19 kursi sisanya dipegang oleh dua aliansi Arab, dengan Aliansi Arab Bersama mengamankan 13 kursi dan Aliansi Arab Bersatu (United Arab List) memperoleh 6 kursi.
(sya)