Allah SWT mengabadikan cerita dua sahabat dengan nasib berbeda dalam Surat Al Kahfi, seorang dianugerahi dua kebun anggur yang subur dan harta melimpah, sedangkan sahabatnya hidup dalam keterbatasan. Namun, kekayaan justru membuat si kaya membanggakan dir
Kisah si kaya dan si miskin dalam Surat Al-Kahfi menyimpan pelajaran berharga tentang iman, kekayaan, dan kesombongan. Allah SWT mengabadikan cerita dua sahabat dengan nasib berbeda.
Seorang dianugerahi dua kebun yang subur dan harta melimpah, sedangkan sahabatnya hidup dalam keterbatasan. Namun, kekayaan justru membuat si kaya membanggakan diri dan meremehkan temannya yang beriman.
Kisah yang termaktub dalam
Surat Al-Kahfiayat 32–44 ini mengingatkan bahwa banyaknya harta bukan jaminan kemuliaan di sisi Allah SWT. Sebaliknya, keterbatasan materi tidak berarti seseorang lebih rendah derajatnya. Melalui kisah ini, umat Islam diajak memahami bahwa kekayaan dan kemiskinan sama-sama merupakan ujian keimanan.
Dua Sahabat dengan Nasib Berbeda
Al-Qur'an tidak menyebutkan nama kedua lelaki tersebut, tempat tinggal, maupun zaman ketika mereka hidup. Karena itu, pembahasan kisah ini berpegang pada keterangan yang tercantum dalam Al-Qur'an tanpa menambahkan informasi yang tidak memiliki dasar.
Allah SWT menguji kedua lelaki itu dengan keadaan yang berbeda. Seorang di antara mereka hidup dalam keterbatasan harta, tetapi dianugerahi keimanan, keyakinan, dan keridhaan terhadap ketetapan Allah SWT.
Sementara itu, sahabatnya memperoleh kelapangan rezeki dan kekayaan berlimpah. Kekayaan tersebut menjadi ujian baginya: apakah ia akan bersyukur dan merendahkan hati atau justru menjadi sombong dan mengingkari nikmat Allah SWT.
Allah SWT mengabadikan keadaan pemilik dua kebun tersebut dalam firman-Nya:
جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ
Artinya: "Kami jadikan bagi salah seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tidak kurang buahnya sedikit pun. Kami pun mengalirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu. Dan dia mempunyai kekayaan besar." (QS Al-Kahfi: 32-34).
Ayat tersebut menggambarkan betapa melimpahnya karunia yang diterima lelaki itu. Ia memiliki dua kebun anggur yang dikelilingi pohon kurma, dilengkapi ladang, serta dialiri sungai. Kebun-kebunnya menghasilkan buah dengan baik sehingga ia dapat menikmati hasil panen yang berlimpah.
Namun, kekayaan itu justru membuatnya membanggakan diri. Ia merasa memiliki kedudukan lebih tinggi daripada sahabatnya yang hidup dalam keterbatasan.
Al-Qur'an menjelaskan perkataannya:
فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا
Artinya: "Maka dia berkata kepada kawannya, ketika dia bercakap-cakap dengannya, 'Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat'." (QS Al-Kahfi: 34).
Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana kekayaan dan banyaknya pengikut dapat menumbuhkan kesombongan apabila seseorang tidak menyadari bahwa semua itu merupakan karunia Allah SWT.
Ia bukan hanya merasa lebih unggul daripada sahabatnya, melainkan juga menganggap kekayaan yang dimilikinya seolah-olah akan bertahan selamanya.
Allah SWT berfirman:
وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا
Artinya: "Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap zalim terhadap dirinya sendiri. Dia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya'." (QS Al-Kahfi: 35).
Kesombongannya bahkan membuatnya meragukan datangnya hari kiamat. Ia mengira, seandainya dikembalikan kepada Allah SWT sekalipun, dirinya akan memperoleh tempat yang lebih baik daripada apa yang telah dimilikinya di dunia.
Allah SWT berfirman:
وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا
Artinya: "Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan terjadi. Dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu." (QS Al-Kahfi: 36).
Inilah salah satu bahaya ketika manusia terlalu membanggakan kekayaan. Ia dapat menganggap kelapangan hidup sebagai bukti kemuliaan dirinya, bahkan merasa bahwa kedudukannya di akhirat kelak akan lebih baik.
Padahal, banyaknya harta bukanlah ukuran mutlak kecintaan Allah SWT kepada seorang hamba. Kekayaan dan kemiskinan sama-sama dapat menjadi ujian yang menentukan bagaimana seseorang bersikap terhadap Tuhannya.
Nasihat Sahabat yang Beriman
Melihat kesombongan sahabatnya, lelaki yang beriman berusaha mengingatkannya agar kembali menyadari kebesaran Allah SWT.
Ia mengingatkan bahwa manusia pada mulanya diciptakan dari tanah, kemudian dari setetes air mani, hingga tumbuh menjadi manusia yang sempurna. Tidak sepantasnya seseorang menyombongkan diri hanya karena memiliki kekayaan lebih banyak daripada orang lain.
Allah SWT mengabadikan nasihat tersebut dalam firman-Nya:
قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا
Artinya: "Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya sambil bercakap-cakap dengannya, 'Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna?'" (QS Al-Kahfi: 37).
Nasihat tersebut mengingatkan manusia bahwa segala kelebihan yang dimiliki tidak terlepas dari kehendak Allah SWT. Harta, kemampuan, dan keberhasilan bukan alasan untuk melupakan Sang Pemberi nikmat.
Karena itu, lelaki yang beriman juga mengingatkan sahabatnya agar mengucapkan kalimat yang menunjukkan pengakuan terhadap kekuasaan Allah ketika memasuki kebunnya.
Allah SWT berfirman:
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا
Artinya: "Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, 'Mā syā'allāh, lā quwwata illā billāh' (Sungguh, atas kehendak Allah semua ini terwujud. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya engkau anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan." (QS Al-Kahfi: 39).
Ucapan mā syā'allāh, lā quwwata illā billāh mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Manusia boleh berusaha, bekerja keras, dan mengembangkan kemampuannya, tetapi tidak semestinya menganggap keberhasilan sebagai hasil kekuatan dirinya semata.
Kisah ini juga memberikan pelajaran bahwa perbedaan keadaan ekonomi tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain. Orang kaya hendaknya menggunakan hartanya untuk kebaikan, sedangkan orang yang hidup dalam keterbatasan tetap menjaga keimanan dan kesabaran.
Keduanya sama-sama menghadapi ujian. Yang satu diuji melalui kelapangan rezeki, sementara yang lain diuji melalui keterbatasan materi.
Kesombongan Berujung Penyesalan
Lelaki yang beriman berharap agar Allah SWT memberikan kepadanya sesuatu yang lebih baik daripada kebun milik sahabatnya. Ia juga mengingatkan bahwa Allah Mahakuasa untuk mendatangkan bencana yang dapat menghancurkan kebun tersebut atau membuat sumber airnya menghilang.
Allah SWT berfirman:
فَعَسَىٰ رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا
Artinya: "Maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu ini, dan Dia mengirimkan ketentuan (bencana) dari langit kepada kebunmu sehingga kebun itu menjadi tanah yang licin, atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka engkau tidak akan dapat menemukannya lagi." (QS Al-Kahfi: 40-41).
Apa yang semula dianggap mustahil oleh pemilik kebun ternyata benar-benar terjadi. Kekayaan yang dibanggakannya tidak mampu melindunginya ketika Allah SWT menetapkan kehancuran atas kebun tersebut.
Al-Qur'an menggambarkan penyesalan lelaki itu dalam firman-Nya:
وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا
Artinya: "Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya. Dia berkata, 'Aduhai, sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku'." (QS Al-Kahfi: 42).
Penyesalan itu datang ketika seluruh kebanggaannya lenyap. Kebun yang dahulu menghasilkan buah berlimpah kini hancur, sedangkan harta yang telah dikeluarkannya tidak mampu menyelamatkan apa pun.
Allah SWT kemudian menegaskan bahwa tidak ada kelompok atau siapa pun yang mampu menolong lelaki tersebut dari ketetapan-Nya.
وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا