Efek Luar Biasa Mbappe Sebut Mao Zedong Diktator: China Murka, Permintaan Maaf Pun Muncul

img-redaksi Muhaimin
Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:17 WIB
Efek Luar Biasa Mbappe Sebut Mao Zedong Diktator: China Murka, Permintaan Maaf Pun Muncul
Kylian Mbappe membuat sejumlah orang China marah karena menertawakan sebuah meme yang menggambarkan dirinya sebagai Mao Zedong. Foto/The Sydney Morning Herald/Jamie Brown
A
A
A
PARIS - Kapten tim nasional sepak bola Prancis sekaligus striker Real Madrid, Kylian Mbappe, telah meminta maaf kepada China setelah menyebut Mao Zedong sebagai "diktator". Komentar tersebut memicu kritik keras dan sanksi dari sejumlah institusi.

"Komentar saya tidak dipertimbangkan dengan baik," kata Mbappe dalam pernyataan yang disampaikan dalam tiga bahasa. "Saya meminta maaf kepada semua orang yang tersinggung oleh perkataan saya," katanya lagi, yang dikutip TIME, Kamis (29/10/2026).

Dalam sebuah cuplikan acara podcast "The Bridge", yang diunggah pada Senin, Mbappe menyebut Mao sebagai "seseorang—saya rasa dia diktator China" ketika menjelaskan sebuah meme yang menampilkan wajahnya yang ditempelkan pada foto mendiang pendiri sekaligus ketua Partai Komunis China tersebut.

Menurut pihak podcast, cuplikan itu merupakan rekaman di balik layar dari sebuah podcast yang direkam pada Maret. Video tersebut kemudian dihapus dari akun media sosial acara itu. The Bridge juga meminta maaf kepada penggemar China dan Mbappe.

Meme tersebut merupakan bagian dari tren internet ketika penggemar sepak bola menempelkan wajah Mbappe pada foto para pemimpin militer dan politik. Tren itu muncul sebagai lelucon yang berkaitan dengan julukan Mbappe, yakni "sang diktator", yang merujuk pada anggapan mengenai besarnya otoritas dan pengaruh pemain Real Madrid tersebut terhadap klub-klub sepak bola dan media.

Bahkan rekan setim Mbappe di tim nasional Prancis, Ousmane Dembele, pernah melontarkan lelucon tentang julukan tersebut selama Piala Dunia 2026. Dembele menyebut Mbappe sebagai "Mobut", merujuk pada Mobutu Sese Seko, diktator yang memerintah Republik Demokratik Kongo selama tiga dekade.

Dalam wawancara dengan majalah Prancis; L'Equipe. bulan lalu, Mbappe mengatakan bahwa beberapa meme tersebut menurutnya lucu. Namun, meme lainnya dianggap menunjukkan "kurangnya kesadaran politik dan kemanusiaan".

"Dibandingkan dengan orang-orang yang membunuh orang lain, atau yang telah membuat jutaan demi jutaan orang menderita...saya rasa saya tidak pernah melakukan hal seperti itu sepanjang hidup saya," ujarnya.

Dalam cuplikan yang dibagikan "The Bridge", Mbappe ditanya meme mana yang paling membuatnya tertawa. Dia menunjuk meme yang menampilkan Mao.

Namun, julukan "diktator" yang dilontarkan Mbappe memicu kecaman tajam di China. Sejumlah stasiun televisi China menghentikan sementara penayangan konten terkait Mbappe dan liga sepak bola Spanyol, LaLiga. Beberapa merek juga menarik iklan yang menampilkan bintang sepak bola tersebut.

Sebelum Mbappe menyampaikan permintaan maafnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan pada Selasa: "Perkataan dan tindakan yang melukai perasaan rakyat China tentu akan mendapat penentangan dari berbagai lapisan masyarakat China."

Parodi terhadap para pemimpin China merupakan isu yang sensitif secara politik di negara tersebut, terutama jika menyangkut Mao. Dia mendirikan Republik Rakyat China pada 1949 dan memimpin negara itu hingga meninggal pada 1976.

Banyak akademisi internasional menggambarkan Mao sebagai pemimpin otoriter, dengan menunjuk pada kekuasaan terpusat, pembersihan politik, dan berbagai kampanye negara yang agresif, termasuk Gerakan Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward) dan Revolusi Kebudayaan.

Para sejarawan memperkirakan puluhan juta orang meninggal selama pemerintahan Mao akibat kelaparan dan kekerasan.

Namun, di China, banyak orang memandangnya sebagai tokoh revolusioner yang mempersatukan negara dan mengubah masyarakat yang sebagian besar agraris menjadi bangsa yang merdeka.

Catatan resmi pemerintah China memang mengecam Revolusi Kebudayaan sebagai "kesalahan besar". Meski demikian, catatan yang sama menyatakan bahwa kontribusi Mao sepanjang hidupnya terhadap revolusi China lebih besar daripada kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Konstitusi China menggambarkan negara tersebut sebagai "kediktatoran demokratis rakyat", yang didefinisikan sebagai kediktatoran proletariat.

"Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, saya bereaksi terhadap sebuah gambar diri saya," kata Mbappe dalam permintaan maafnya.

"Saya sekarang memahami bahwa hal itu telah menyakiti banyak orang di China dan komunitas China di seluruh dunia....Sama sekali bukan itu maksud saya. Saya sangat menghormati rakyat China dan sejarah mereka, dan saya dengan tulus meminta maaf."

Rekam Jejak Sensitivitas China terhadap Parodi



Parodi terhadap tokoh politik sebelumnya juga pernah memicu kemarahan dan sanksi di China.

Pada April 2015, stasiun televisi CCTV menangguhkan presenter Bi Fujian setelah sebuah video makan malam pribadi yang memperlihatkan dirinya mengejek Mao sambil menyanyikan opera revolusioner bocor ke internet.

Pada Juli 2017, platform media sosial China juga membatasi penyebutan Winnie-the-Pooh setelah pengguna internet membandingkan karakter tersebut dengan Presiden China Xi Jinping.

Pada Agustus, seniman Gao Zhen dijatuhi hukuman tiga tahun penjara atas tuduhan "merusak reputasi para pahlawan" karena membuat patung satir Mao. Salah satu karyanya adalah patung tahun 2009 berjudul Mao's Guilt, yang menggambarkan pemimpin China tersebut berlutut dalam penyesalan.

Gao, yang berbasis di Amerika Serikat, ditangkap pada Agustus 2024 ketika mengunjungi keluarganya di China.

Merek dan organisasi olahraga internasional juga pernah mendapat kecaman di China akibat pernyataan yang dianggap menyinggung secara politik.

Pada Oktober 2019, China menghentikan sementara kesepakatan sponsor dengan National Basketball Association (NBA) setelah Daryl Morey, eksekutif Houston Rockets, mengunggah pernyataan dukungan terhadap demonstrasi di Hong Kong. Beijing menggambarkan gerakan tersebut sebagai separatis dan subversif.

CCTV juga menghentikan siaran pertandingan NBA selama satu tahun.

Kontrak Komersial Diputus



Komentar Mbappe tampaknya telah menimbulkan kerugian finansial baginya.

Mengniu, produsen produk susu terbesar di China, menyatakan akan mengakhiri kemitraannya dengan Mbappe. Keputusan serupa diumumkan oleh produsen keju Shanghai Milkground Food Tech dan raksasa minuman Eastroc Beverage, yang juga dikenal sebagai Dongpeng.

Perusahaan-perusahaan tersebut menyatakan memiliki kebijakan "tanpa toleransi" terhadap perkataan atau perilaku yang menyinggung perasaan masyarakat China.

Menurut surat kabar Prancis; Le Monde, kontrak Mbappe dengan Dongpeng dan Mengniu bernilai sekitar 50 juta yuan atau setara dengan 6,7 juta euro jika digabungkan.

Dongpeng sebelumnya menayangkan iklan yang menampilkan gambar Mbappe hasil kecerdasan buatan (AI) sedang meminum minuman olahraga mereka selama Piala Dunia 2026. Perusahaan tersebut juga menjual minuman elektrolit Bushuila dengan gambar Mbappé pada kemasannya.

Setelah komentar Mbappe muncul, tetapi sebelum kedua perusahaan mengumumkan keputusan mereka, harga saham kedua perusahaan konsumen tersebut mengalami penurunan.

Sejumlah merek global, termasuk Dior, Rimowa, Nike, Hublot, dan On Running, juga menghapus konten promosi yang menampilkan Mbappe dari akun mereka di platform media sosial China, Weibo, menurut laporan media China.

CCTV, televisi pemerintah China, menangguhkan siaran seluruh pertandingan dan acara yang melibatkan Mbappe serta LaLiga. Stasiun tersebut juga menarik iklan yang menampilkan sang pemain, menurut laporan media China pada Selasa.

Dalam pernyataan setelah Mbappe meminta maaf, CCTV mengatakan pihaknya berharap sang pemain "benar-benar mengambil pelajaran dari kejadian ini" dan "memperbaiki kesalahannya secara menyeluruh".

Presiden LaLiga Javier Tebas mengatakan pada Selasa bahwa dia telah bertemu dengan Duta Besar China untuk Spanyol guna "mencari solusi yang memungkinkan kita melewati insiden ini".

"Komitmen kami adalah terus bekerja sama agar satu insiden yang melibatkan individu tidak merusak kemajuan penting yang telah dicapai atau berdampak pada jutaan penggemar China yang mengikuti kompetisi kami," tulis Tebas di X.

"Hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun tidak seharusnya rusak hanya karena satu insiden," tambahnya dalam unggahan lain.

Kecaman Meluas di Dunia Maya



Mbappe, yang sebelumnya menjadi salah satu pemain favorit penggemar di China dan akrab dijuluki "Guigui" karena dianggap mirip dengan karakter kura-kura ninja dari Teenage Mutant Ninja Turtles, kini menghadapi gelombang kecaman di internet.

Seruan agar merek-merek memutus kerja sama dengan Mbappe dan memboikot sang pemain menjadi beberapa topik yang paling banyak dibicarakan di Weibo.

Sejumlah pengguna menuduh Mbappe mengambil keuntungan dari pasar olahraga China yang menggiurkan dan jutaan penggemarnya di negara tersebut, tetapi pada saat yang sama tidak menghormati perasaan nasional masyarakat China.

Weibo dan Rednote, yang juga dikenal sebagai Xiaohongshu, tampaknya turut membatasi akun Mbappe. Pemberitahuan yang muncul menyebutkan bahwa akun-akun tersebut "dilarang" atau "dibisukan" karena melanggar pedoman komunitas.

Dalam artikel berjudul "Mbappe Scores an Own Goal in China", media pemerintah China Daily melaporkan bahwa reaksi keras penggemar China telah "mengancam hubungan komersialnya yang menguntungkan dan menjadi pengingat tajam mengenai batas pengaruh seorang selebritas".

Sejumlah media China mengecam pernyataan Mbappe tanpa mengulang kata-katanya secara langsung.

Media berita sepak bola Dongqiudi menyatakan, "Kylian Mbappe membuat pernyataan yang tidak pantas mengenai China dalam sebuah wawancara. Karena pernyataan tersebut berpotensi menyakiti China dan rakyatnya, kami tidak dapat menerjemahkannya."

"Apa yang dia katakan? Banyak orang China memilih untuk tidak mengulanginya," kata media yang memiliki hubungan dengan pemerintah, Global Times, dalam sebuah komentar video.

"Pesan dari konsumen China sudah jelas: rasa hormat bukanlah pilihan. Seseorang tidak bisa mengambil keuntungan dari China sambil tidak menghormatinya. Tidak mungkin," lanjut media tersebut.

Artikel lain di surat kabar yang berafiliasi dengan pemerintah, Guangming Daily, menyatakan, "Menghina mendiang pemimpin besar China tidak dapat diterima! Menyantap makanan China lalu menghancurkan periuk China? Mbappe tidak pantas!"

"Sehebat apa pun kemampuan sepak bola Anda, Anda tidak boleh menginjak-injak batas-batas mendasar," tulis surat kabar tersebut.

Kekhawatiran terhadap Penyensoran



Di luar China, sejumlah pihak menentang gelombang kecaman terhadap Mbappe.

Pengguna media sosial Prancis mengkritik Mbappe karena menarik kembali pernyataannya. Marc Julienne, direktur Asia Centre di Institut Hubungan Internasional Prancis (IFRI), mengatakan kepada Le Parisien bahwa menggambarkan Mao sebagai "diktator" mencerminkan konsensus di kalangan sejarawan Barat.

Namun, sebutan tersebut masih dianggap tabu di China. Julienne menambahkan bahwa Mbappe mungkin tidak menyadari sensitivitas tersebut.

Komite Khusus Dewan Perwakilan Rakyat AS untuk China mengunggah pernyataan pada Selasa, "Mbappe seharusnya tidak meminta maaf karena menyebut Mao Zedong sebagai diktator. Mao adalah seorang diktator, dan berdasarkan skala dampaknya, dia jauh lebih banyak merugikan rakyat China dibandingkan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh komentar seorang pemain sepak bola."

"Aib yang sebenarnya," kata komite tersebut, "adalah perusahaan-perusahaan yang bergegas meminta maaf agar mereka dapat terus berbisnis di China."
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Pemenang Pemilu Serbia Berencana Gelar Perundingan Gas dengan Rusia
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 22:31 WIB
Militer Rusia Bersihkan Ranjau untuk Misi Bantuan Melania Trump
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 17:28 WIB
Finlandia Murka, Google Babat Hutan untuk Proyek Pusat Data
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 15:24 WIB
Putin Sambut Baik Telepon Langka dari 2 Pemimpin Negara NATO, Ini Alasannya
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 09:27 WIB