Letnan Jenderal Angkatan Darat Brett Sylvia dipecat dari jabatannya sebagai kepala strategi, perencanaan, dan kebijakan di Staf Gabungan Militer AS. Foto/US Department of War
WASHINGTON - Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth telah memecat
jenderal utama perencana militer Pentagon. Pemecatan ini terjadi justru saat Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk melancarkan kembali serangan terhadap Iran.
Mengutip laporan
AP, Kamis (29/10/2026), Letnan Jenderal Angkatan Darat Brett Sylvia didepak dari jabatannya sebagai kepala strategi, perencanaan, dan kebijakan di Staf Gabungan Militer AS.
Brett Sylvia merupakan jenderal kedua yang dicopot dari posisi tersebut, yang dikenal di kalangan militer sebagai J5, selama masa kepemimpinan Hegseth. Pendahulunya, Letnan Jenderal Joseph McGee, dipaksa pensiun pada Oktober tahun lalu.
Pejabat pertahanan yang berbicara dengan syarat anonim karena membahas masalah kepegawaian yang sensitif tersebut mengatakan belum ada pengganti langsung untuk Sylvia dan tidak ada alasan yang diberikan atas pemecatannya. Langkah tersebut sebelumnya dilaporkan oleh majalah
The Atlantic.
Pihak juru bicara Staf Gabungan mengatakan, "Ketua, Staf Gabungan, dan seluruh Pasukan Gabungan menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Letnan Jenderal Brett Sylvia dan keluarganya atas 32 tahun pengabdian terhormat kepada negara kita."
Pihak Staf Gabungan juga menyampaikan harapan terbaik bagi Sylvia dan keluarganya.
Biasanya, direktur J5 beserta stafnya bertanggung jawab menyusun dan mengoordinasikan rencana militer bersama Ketua Kepala Staf Gabungan dan presiden. Pemecatan Sylvia terjadi ketika Trump berulang kali mengisyaratkan kemungkinan memulai operasi militer baru terhadap Iran.
Trump berjanji akan "menuntaskan pekerjaan" di Iran setelah melancarkan perang bersama Israel delapan bulan lalu. Dia juga mengatakan bahwa serangan baru menjadi salah satu opsi setelah pemilu sela AS yang akan berlangsung pekan depan.
Para pejabat AS telah meminta sejumlah negara Timur Tengah dan sekutu regional untuk bersiap menghadapi kemungkinan dimulainya kembali aksi militer setelah pemilu pada Selasa depan. Mereka juga diminta mengantisipasi kemungkinan Iran melancarkan serangan balasan terhadap negara-negara tersebut. Dua diplomat yang telah mendapat penjelasan mengenai masalah itu menyampaikan hal tersebut.
Menurut kedua diplomat tersebut, Trump belum mengambil keputusan akhir mengenai serangan baru.
Kapal induk ketiga milik AS beserta ribuan tambahan personel militer kini sedang menuju kawasan tersebut.
Sebelum bergabung dengan Staf Gabungan, Sylvia menjabat sebagai komandan Divisi Lintas Udara ke-101 di Fort Campbell, Kentucky, hingga Mei 2025, menurut biografi resminya yang kini telah dihapus dari situs terkait. Dia juga pernah menjabat sebagai wakil direktur J5.
Sylvia menjadi tokoh terbaru dari hampir dua lusin jenderal, laksamana, dan pemimpin militer lainnya yang dipecat, dipaksa pensiun, atau meninggalkan jabatan dengan cara lain selama Hegseth memimpin Pentagon. Hampir seluruh keputusan tersebut tidak dijelaskan secara terbuka oleh Pentagon.
Mereka yang terdampak mencakup pejabat sipil yang memimpin Angkatan Darat dan Angkatan Laut AS, serta sejumlah perwira tinggi berseragam dari berbagai matra militer.
Pentagon belum segera menanggapi permintaan komentar yang dikirim pada Rabu malam.
Bulan lalu, Hegseth mengatakan telah memerintahkan militer untuk menggandakan pemangkasan jumlah keseluruhan perwira tinggi, sehingga pengurangannya mencapai 20 persen. Pemangkasan itu ditargetkan selesai paling lambat 1 Januari 2027. Saat ini, terdapat sekitar 800 posisi perwira tinggi berpangkat jenderal dan laksamana.
"Saya menyebutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban yang sudah lama tertunda," kata Hegseth kepada para perwira junior dan pemimpin dari kalangan tamtama di Pangkalan Korps Marinir Quantico pada 30 September.
Sejumlah anggota Kongres mengkritik pemangkasan jajaran jenderal tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah "pembersihan" yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan kekuatan kepemimpinan militer.
"Dia tampaknya memiliki semacam kekecewaan mendalam terhadap kepemimpinan di militer," kata Senator Mark Kelly dari Partai Demokrat bulan lalu. Kelly merupakan mantan pilot tempur Angkatan Laut yang selama ini mengkritik Hegseth.
"Dia sedang menyingkirkan satu generasi pemimpin militer yang hebat, dan dibutuhkan satu generasi pula untuk memulihkan kondisi tersebut," ujarnya.
(mas)