Dua kereta cepat bertabrakan di dekat Urda, Spanyol, pada hari Rabu. Sebanyak 68 orang tewas. Foto/Screengrab video The Guardian
MADRID -
Tabrakan dua kereta cepat di dekat Urda, Spanyol, telah menewaskan 68 orang pada hari Rabu. Tragedi ini memicu demo kemarahan warga di depan Kementerian Transportasi, di mana massa menuntut Perdana Menteri (PM) Pedro Sanchez dan Menteri Transportasi Oscar Puente mengundurkan diri.
Amuk massa dihadapi pasukan polisi yang berjaga di depan kementerian tersebut. Bentrokan pun tak bisa dihindari.
Kecelakaan di dekat Urda, Provinsi Toledo, tersebut menjadi tragedi perkeretaapian besar kedua di Spanyol dalam waktu kurang dari 10 bulan.
Pada 18 Januari lalu, sebuah kereta tergelincir di dekat Adamuz, Provinsi Cordoba, lalu bertabrakan dengan kereta lain yang melaju dari arah berlawanan. Insiden tersebut menewaskan 46 orang.
Menurut laporan media Spanyol,
elDiario.es, demonstrasi yang menuntut pengunduran diri Sanchez dan Puente diorganisasi oleh kelompok sayap kanan ekstrem Falange dan Revuelta.
"Berapa banyak lagi orang yang harus tewas sebelum kita mengusir para pembunuh dan pengkhianat ini dari lembaga-lembaga negara kita?" kata juru bicara Falange, Federico Campanero, dalam pidatonya.
Sejumlah demonstran melemparkan suar dan benda-benda lain ke arah petugas polisi. Petugas kemudian mendorong mundur massa dan menggunakan gas air mata.
Partai sayap kanan Vox bersama serikat pekerja yang berafiliasi dengannya, Solidaridad, menggelar demonstrasi terpisah lebih awal di Plaza de Cibeles, pusat Kota Madrid. Para peserta mengheningkan cipta selama satu menit. Sebagian demonstran membawa spanduk bertuliskan; "Korupsi Membunuh". Aksi tersebut berakhir tanpa insiden besar.
Rekaman audio yang diperoleh surat kabar
El PaĆs mengindikasikan bahwa petugas pengatur lalu lintas kereta api melanggar protokol keselamatan sebelum tabrakan maut tersebut.
Seorang petugas dilaporkan menginstruksikan kereta AVE untuk kembali melaju dengan kecepatan normal tanpa memastikan bahwa jalur di depannya sudah aman. Padahal, sesuai ketentuan, kereta tersebut seharusnya dibatasi pada kecepatan 40 kilometer per jam.
Meskipun masinis kereta Iryo yang berhenti di jalur tersebut telah berulang kali memberikan peringatan, petugas pengatur lalu lintas gagal menghentikan kereta AVE yang mendekat. Beberapa menit kemudian, kereta AVE menabrak kereta yang terjebak di jalur tersebut.
Dalam pidatonya pada Rabu, Sanchez berjanji akan melakukan penyelidikan menyeluruh.
"Tidak dapat diterima jika negara seperti Spanyol mengalami dua kecelakaan kereta berkecepatan tinggi dalam tahun yang sama," ujarnya.
Alberto Nunez Feijoo, pemimpin Partai Rakyat (PP) yang menjadi oposisi utama, menuntut penyelidikan segera dan audit independen terhadap jaringan perkeretaapian Spanyol.
"Spanyol berhak mengetahui apa yang terjadi dengan infrastrukturnya, serta bagaimana kondisi rel dan sistem keselamatannya," kata Feijoo.
Bencana tersebut terjadi pada momen yang sensitif secara politik bagi Sanchez. Pemerintahannya tengah menghadapi kemarahan publik akibat tingginya biaya perumahan dan sejumlah kemunduran di Parlemen.
Dengan pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 29 November, tabrakan kereta tersebut kembali menyoroti cara pemerintah menangani keselamatan transportasi kereta api.
(mas)