Singapura sedang bersitegang dengan Indonesia setelah pemerintah Presiden Prabowo Subianto memangkas pasokan gas untuk negara kota tersebut. Foto/Wikipedia
JAKARTA - Indonesia dan
Singapura terlibat ketegangan menyusul keputusan pemerintah Presiden Prabowo Subianto memangkas pasokan gas untuk negara kota tersebut. Di tengah ketegangan tersebut, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengunjungi Indonesia dan menemui Presiden Prabowo.
Tak bisa dimungkiri, ketegangan yang berujung pada pemangkasan pasokan gas ini bermula dari krisis kabut asap lintas batas yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Singapura menjadi salah negara yang mengeluhkan kabut asap tersebut.
Saat konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir, Balakrishnan mengangkat masalah kabut asap. Dia mengatakan Singapura dan Indonesia akan segera membentuk gugus tugas bersama untuk menangani kabut asap lintas batas.
"Mengingat adanya komitmen di tingkat pimpinan kedua negara, kami akan mewujudkannya dengan cepat, segera, dan efektif," ujarnya pada hari Selasa.
"Sayangnya, masalah kabut asap di Asia Tenggara telah berlangsung selama hampir tiga dekade. Itu waktu yang terlalu lama, dan kita harus menemukan solusinya," katanya lagi.
Balakrishnan menyatakan bahwa kunjungannya menegaskan pentingnya komunikasi langsung antarpemerintah. "Anda tidak bisa menjalankan diplomasi hanya melalui telepon atau media," ujarnya.
Balakrishnan tidak menyinggung masalah pemangkasan pasokan gas oleh Indonesia ke Singapura. Namun, bukan tidak mungkin masalah sensitif itu menjadi pembahasan penting dalam pertemuannya dengan Presiden Prabowo.
Berapa Banyak Indonesia Pasok Gas ke Singapura?
Singapura sangat bergantung pada gas alam untuk menghasilkan listrik. Namun, mereka tidak hanya mengandalkan Indonesia. Selain impor gas melalui jaringan pipa dari Indonesia dan Malaysia, negara tersebut juga mengandalkan pasokan gas alam cair (LNG) dari berbagai negara.
Data resmi pemerintah Singapura menunjukkan bahwa sekitar 95% listrik negara itu dihasilkan menggunakan gas alam impor. Karena itu, perubahan pasokan gas dari Indonesia berpotensi memengaruhi sektor energi, industri, dan biaya operasional pembangkit listrik.
Berdasarkan statistik Energy Market Authority (EMA) Singapura, konsumsi listrik Singapura pada 2025 mencapai 57.936 gigawatt-jam (GWh) atau sekitar 57,94 terawatt-jam (TWh). Angka tersebut meningkat dari 55.426 GWh pada 2024.
Sementara itu, produksi listrik Singapura pada 2025 mencapai 59.616 GWh atau sekitar 59,62 TWh. Perbedaan antara produksi dan konsumsi antara lain berkaitan dengan kebutuhan operasional sistem kelistrikan dan kehilangan energi dalam jaringan.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Indonesia memasok Singapura sekitar 409,55 miliar Btu gas per hari (BBTUD) melalui pipa dari Natuna dan Sumatra. Setelah dipangkas, pasokannya menjadi 378,55 miliar BBTUD (sekitar 8 persen).
Selain Indonesia, dari Mana Singapura Memperoleh Gas dan Listrik?
Sebelum mengandalkan LNG dalam skala besar, Singapura memperoleh sebagian pasokan gas alam melalui jaringan pipa bawah laut dari Indonesia dan Malaysia.
Gas pipa dari Indonesia berasal antara lain dari kawasan Natuna Barat dan Sumatra Selatan. Pasokan tersebut disalurkan melalui infrastruktur yang menghubungkan lapangan produksi di Indonesia dengan fasilitas penerimaan gas di Singapura.
Sementara itu, Malaysia juga menjadi pemasok gas pipa. Keberadaan dua pemasok regional tersebut membantu Singapura memenuhi kebutuhan energi, meskipun pasokan gas pipa tetap menghadapi tantangan berupa penurunan produksi lapangan, pemeliharaan fasilitas, dan berakhirnya kontrak.
Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura menyatakan kontrak impor gas dari Indonesia yang berlaku saat ini dijadwalkan berakhir pada penghujung 2028. Periode tersebut menjadi penting bagi kedua negara untuk membahas kelanjutan kerja sama, termasuk volume dan ketentuan komersialnya.
Singapura tidak hanya bergantung pada gas yang dikirim melalui pipa Indonesia dan Malaysia. Negara itu juga mengimpor LNG yang diangkut menggunakan kapal, kemudian disimpan dan diubah kembali menjadi gas melalui terminal penerimaan.
Terminal LNG Singapura mulai beroperasi pada 2013. Fasilitas ini memungkinkan negara tersebut membeli gas dari pasar global, sehingga gangguan pada satu sumber pasokan tidak otomatis membuat seluruh sistem energinya kehilangan bahan bakar.
Data perdagangan World Bank melalui World Integrated Trade Solution (WITS) menunjukkan bahwa pada 2025, pemasok LNG terbesar Singapura berdasarkan nilai impor adalah Qatar dan Australia. Negara lain yang tercatat memasok LNG mencakup Mozambik, Malaysia, Amerika Serikat, Indonesia, Afrika Selatan, Peru, China, Nigeria, Guinea, Guinea Khatulistiwa, Swedia, dan Korea Selatan.
Pemerintah Singapura menyebut LNG menyumbang sekitar 57% dari total impor gas pada 2025, sedangkan gas pipa menyumbang sekitar 43%. Komposisi ini menunjukkan bahwa LNG telah menjadi komponen utama strategi diversifikasi pasokan Singapura.
Singapura juga merencanakan diversifikasi pasokan energi melalui impor listrik rendah karbon dari negara tetangga. Pemerintahnya menargetkan impor sekitar 6 gigawatt listrik rendah karbon pada 2035, setara sekitar sepertiga proyeksi kebutuhan energi saat itu.
Namun, target tersebut merupakan rencana untuk masa mendatang, bukan berarti seluruh kapasitas itu sudah tersedia sebagai pasokan rutin pada 2026. Singapura juga sedang memperluas kapasitas tenaga surya dan mengkaji pilihan energi rendah karbon lainnya.
Dengan demikian, sumber listrik Singapura saat ini tetap didominasi pembangkit berbahan bakar gas, sedangkan impor listrik lintas negara dan energi rendah karbon menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Benarkah Gas Indonesia Dijual Murah ke Singapura?
Bahlil sebelumnya menyebut harga gas yang ditawarkan Indonesia kepada negara lain relatif ekonomis, sekitar USD20 per MMBtu. Pernyataan itu muncul ketika pemerintah membahas pengurangan pasokan gas ke Singapura dan prioritas pemenuhan kebutuhan energi domestik.
Pernyataan tersebut menjadi dasar untuk mempertanyakan apakah Indonesia memperoleh nilai ekonomi yang optimal dari penjualan gas ke luar negeri. Namun, angka USD20 per MMBtu itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh gas yang dibeli Singapura berasal dari kontrak berharga sama.
Gas alam tidak memiliki satu harga pasar tunggal yang berlaku seragam di seluruh dunia. Harga gas pipa dapat mengikuti formula kontrak jangka panjang, sedangkan LNG bisa dijual berdasarkan indeks harga minyak, indeks gas tertentu, atau mekanisme gabungan.
Laporan pasar yang dimuat dalam dokumen penawaran obligasi MedcoEnergi, dengan mengutip analisis Wood Mackenzie, menjelaskan bahwa kontrak gas pipa yang memasok Singapura menggunakan formula harga yang berbeda-beda. Beberapa kontrak dikaitkan dengan harga bahan bakar minyak berat berkadar sulfur tinggi atau high-sulfur fuel oil (HSFO), sementara perpanjangan kontrak dari Sumatera Selatan menggunakan indeks Brent.
Artinya, harga gas pipa Indonesia–Singapura tidak selalu ditetapkan dengan mengikuti harga LNG spot Asia pada hari yang sama. Kontrak jangka panjang dapat memberikan kepastian pasokan dan formula harga, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada indeks dan syarat yang disepakati.
Perbandingan dengan harga pasar internasional juga tak bisa mengebaikan waktu. Pada 22 Oktober 2026, S&P Global melaporkan harga acuan LNG Platts Japan Korea Marker (JKM) telah mencapai sekitar USD30 per MMBtu, level tertinggi sejak Desember 2022. Kenaikan tersebut dipengaruhi ketidakpastian pasokan, konflik di Timur Tengah, dan persaingan pembelian menjelang musim dingin.
Jika angka USD20 per MMBtu yang disebut Bahlil dibandingkan secara langsung dengan acuan LNG spot sekitar USD30 per MMBtu tersebut, selisih nominalnya mencapai USD10 per MMBtu atau sekitar sepertiga dari harga acuan spot.
Akan tetapi, perbandingan itu tidak cukup untuk membuktikan bahwa gas Indonesia dijual terlalu murah. Harga JKM merupakan acuan LNG yang dikirim ke Asia Timur Laut, sedangkan gas pipa Indonesia–Singapura memiliki jalur pengiriman, karakteristik kontrak, dan biaya yang berbeda. Selain itu, harga pasar pada Oktober 2026 sedang berada pada tingkat tinggi akibat kondisi geopolitik yang tidak normal.
Pemerintah Singapura menyatakan kontrak impor gas dinegosiasikan secara komersial. Rincian seperti harga, volume, dan masa berlaku kontrak tertentu tidak diungkapkan karena dianggap sensitif secara komersial.
(mas)